KN-BOSTON — Dunia kedokteran mencatatkan babak baru dalam teknologi xenotransplantation atau transplantasi organ hewan ke manusia. Seorang pasien bernama Tim Andrews di Massachusetts General Hospital, Amerika Serikat, berhasil hidup tanpa perlu menjalani prosedur cuci darah selama sembilan bulan setelah menerima donor ginjal babi hasil rekayasa genetik.
Sebelum ditransplantasikan, organ babi tersebut harus melalui proses rekayasa genetika yang rumit. Para ilmuwan menghilangkan tiga jenis protein khas babi dan memasukkan tujuh genetika manusia ke dalam organ tersebut. Langkah ini dilakukan agar sistem kekebalan tubuh manusia tidak menolak organ asing tersebut.
Sejak dikembangkan secara intensif mulai Maret 2024, prosedur xenotransplantation ini awalnya dirancang sebagai solusi sementara bagi para penderita gagal ginjal yang berada dalam daftar tunggu donor manusia.
Kasus Tim Andrews menjadi bukti nyata potensi teknologi ini. Namun, memasuki bulan kesembilan, organ donor babi tersebut mengalami kegagalan fungsi. Berkat jeda waktu sembilan bulan yang didapat dari ginjal babi tersebut, Andrews berhasil bertahan hingga akhirnya mendapatkan donor ginjal manusia yang cocok.
Kemajuan pesat teknologi medis ini diprediksi akan menimbulkan tantangan baru dari sisi etika dan keagamaan.
Di Indonesia, penggunaan organ hewan yang tergolong haram seperti babi dipastikan akan menjadi diskursus hangat, terutama bagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menentukan batasan fatwa terkait kondisi darurat medis.
Foto: © Kate Flock/Massachusetts General Hospital







