KN-NEW YORK — Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York diwarnai aksi dramatis saat delegasi dari puluhan negara melakukan aksi keluar ruangan (walkout) tepat ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, naik ke panggung untuk menyampaikan pidatonya pada Kamis (24/9/2026). Di tingkat regional, negara-negara anggota Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menunjukkan respons diplomatik yang bervariasi menghadapi insiden tersebut.
Dari 11 negara anggota ASEAN, empat negara secara tegas bergabung dalam aksi walkout global, sementara tujuh negara lainnya tidak tercantum dalam daftar delegasi yang meninggalkan ruang sidang.
Empat Negara ASEAN Pilih Walkout Demi Solidaritas Palestina
Indonesia menjadi salah satu negara yang paling mencolok dalam melakukan aksi proteksi diplomatik tersebut. Rekaman video menunjukkan seluruh delegasi Indonesia yang berjumlah tujuh orang berdiri dari kursi mereka dan melangkah keluar dari aula utama tepat sebelum Netanyahu memulai pidatonya.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa langkah tersebut merupakan bentuk penegasan sikap dan solidaritas penuh Indonesia terhadap rakyat Palestina atas tindakan militer yang dilakukan Israel.
Selain Indonesia, tiga negara ASEAN lainnya yang tercatat ikut keluar atau mengosongkan kursi adalah:
- Malaysia: Masuk dalam laporan kantor berita Anadolu sebagai delegasi yang meninggalkan ruang sidang.
- Brunei Darussalam: Tercantum dalam daftar aksi protes diplomatik.
- Myanmar: Turut dikelompokkan dalam daftar negara yang memilih tidak berada di lokasi saat pidato berlangsung.
Dinamika Sikap 7 Negara ASEAN Lainnya
Sementara itu, tujuh negara ASEAN—Kamboja, Laos, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Timor-Leste—tidak tercantum dalam daftar delegasi yang melakukan walkout.
Meski demikian, para pengamat menekankan bahwa istilah “tetap berada di dalam ruangan” perlu dipahami secara berhati-hati. PBB tidak merilis catatan presensi (roll call) resmi mengenai posisi tiap-tiap delegasi saat pidato berlangsung. Laporan media internasional seperti Anadolu menyebutkan bahwa sebagian negara memilih meninggalkan perwakilan tingkat junior atau diplomat junior di kursi mereka, sementara sebagian lainnya memang belum atau tidak menghadiri sesi pidato tersebut.
Oleh karena itu, penomoran status tujuh negara ini lebih akurat digolongkan sebagai “tidak tercatat dalam daftar walkout“, alih-alih menyimpulkan seluruh anggotanya berada di ruangan sepanjang pidato. Langkah diplomatik ini juga tidak serta-merta mengindikasikan dukungan terhadap kebijakan pemerintah Israel, melainkan bagian dari berbagai pertimbangan taktis diplomatik masing-masing negara.
Netanyahu Berbicara di Depan Ruang Sidang yang Lengang
Aksi walkout secara keseluruhan berlangsung dalam skala besar. Anadolu melaporkan perwakilan dari hampir 77 negara meninggalkan ruangan atau sengaja mengosongkan area duduk mereka. Reuters turut mengonfirmasi fenomena puluhan delegasi yang bergerak keluar aula pada awal sesi.
Menyaksikan deretan kursi yang mendadak kosong, Netanyahu sempat melontarkan pernyataan bernada menyindir sebelum mengawali pidatonyya. Ia meminta delegasi lain yang keberatan dengan kehadirannya untuk ikut menyusul keluar ruangan, sebelum akhirnya melanjutkan pidato di hadapan aula PBB yang sebagian besar kursinya tampak tak berpenghuni.
Peristiwa ini menggarisbawahi bahwa meski kawasan Asia Tenggara sama-sama mengawal isu perdamaian Timur Tengah, tiap negara anggota ASEAN menerapkan pendekatan dan taktik diplomasi yang beragam dalam merespons dinamika di panggung PBB.
Foto: Delegasi Walkout dari Sidang Umum PBB Saat Netanyahu Berpidato. (Foto: REUTERS/Jeenah Moon).








