KN. Rupiah di pasar spot bergerak liar dan tertekan di awal perdagangan hari ini. Kamis (3/4), rupiah spot dibuka di level Rp 16.771 per dolar Amerika Serikat (AS).
Ini membuat rupiah melemah 0,35% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.713 per dolar AS. Ini juga jadi level terburuk rupiah sepanjang masa.
Hingga pukul 09.00 WIB, mayoritas mata uang di Asia melemah. Di mana, yuan China menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,49%.
Selanjutnya ada ringgit Malaysia yang koreksi 0,39% dan baht Thailand yang terdepresiasi 0,34%. Disusul, won Korea Selatan yang tertekan 0,26%.
Berikutnya, dolar Taiwan turun 0,16% dan dolar Hongkong yang melemah tipis 0,004% di pagi ini.
Sementara itu, yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah naik 0,99% terhadap the greenback.
Kemudian ada dolar Singapura yang terkerek 0,07% dan peso Filipina yang menguat tipis 0,02%.
Di penghujung kuartal I 2025, sebelum libur lebaran dimulai, rupiah menjadi perhatian publik karena pergerakannya yang fluktuatif dengan kecenderungan lemah. Kemampuan rupiah untuk rebound di kuartal selanjutnya bergantung banyak pada intervensi Bank Indonesia (BI).
Pada Kamis (27/3), hari perdagangan terakhir di kuartal I 2025 sebelum libur lebaran, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (JISDOR BI) mencatat penguatan tipis rupiah di level Rp 16.566. Angka tersebut menunjukkan penguatan 0,13% secara harian, tetapi melemah 0,39% secara mingguan.
Selama masa libur lebaran, transaksi rupiah di pasar spot domestik tidak aktif berjalan karena BI tidak beroperasi penuh. Namun, transaksi rupiah masih bisa terjadi di pasar offshore dengan likuiditas yang rendah tanpa intervensi signifikan dari BI.
Analis Doo Financial, Lukman Leong menyebut sentimen eksternal menjadi kuncian utama nilai tukar rupiah saat pasar domestik dibuka usai libur lebaran nanti. Menurutnya sepanjang kuartal II nanti pun, mata uang Garuda akan banyak dipengaruhi sentimen global.
Kebijakan tarif balasan Presiden AS, Donald Trump akan mulai berlaku pada Rabu (2/4) hari ini. Meski Gedung Putih belum memberikan detail lebih lanjut terkait kebijakan tersebut. Alhasil, kekhawatiran akan tensi perang dagang kembali meningkat.
Jika negara-negara mata uang utama melakukan perlawanan terhadap kebijakan tarif Trump, indeks dolar memiliki potensi melemah dan mendorong peningkatan mata uang lainnya termasuk rupiah.
Hal tersebut telah terjadi saat China menyatakan akan mengambil tindakan atas total tarif 20% yang dikenakan terhadap barang-barang impornya di AS. Tak ketinggalan, Kanada juga akan menetapkan tarif 25% terhadap produk impor AS di negaranya yang bernilai US$ 15 miliar. Dus, Meksiko melancarkan aksi serupa, yakni pemberlakuan tarif balasan selagi Trump tidak membatalkan rencananya.
Alhasil, DXY melemah menyusul potensi perang dagang AS melawan negara-negara besar lain.
Dengan belum pastinya arah kebijakan tarif Trump ini, Lukman menilai pergerakan rupiah di kuartal II tidak mudah diprediksi.
Yang pasti, Lukman menilai rupiah masih akan cenderung tertekan dengan potensi mendekati level Rp 17.000. Namun, Lukman juga optimis BI akan terus mengintervensi sehingga meski rupiah melemah, pergerakannya lebih gradual.
“Tanpa intervensi, sangat berpeluang menembus ATH di atas Rp 17.000,” sebut Lukman.
Kata dia, pemerintah dinilai perlu berupaya lebih untuk meyakinkan investor, terutama terkait posisi fiskal negara. Sentimen domestik yang juga mempengaruhi nilai rupiah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan. Pada pembukaan perdagangan pada Kamis (3/4/2025) pagi, rupiah melemah 0,35 persen ke Rp16.772 dari perdagangan sebelumnya Rp16.713 per dolar AS.
Melemahnya nilai tukar ini tak ditanggapi serius Ketua DPR RI Puan Maharani. Dia seolah masih ingin menikmati momen libur lebaran yang biasa diisi dengan kegiatan kumpul bersama keluarga.
Diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah hingga menclok ke level terendah sejak krisis moneter (krismon) 1998.
Saat penutupan perdagangan Jumat (28/3/2025), mata uang Indonesia semakin tak berharga di hadapan mata uang negeri Uncle Sam. Rupiah melemah 14 poin atau 0,08 persen, menjadi roboh di titik Rp16.676 per dolar AS, ketimbang sehari sebelumnya sebesar Rp16.562 per dolar AS.
Pengamat Hukum dan Pembangunan, Hardjuno Wiwoho menyatakan anjloknya mata uang rupiah ini, mengingatkan publik kepada krismon 1998. Bahkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini justru lebih buruk dibandingkan 27 tahun lalu.
Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan bahwa rupiah saat ini belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia secara jujur.








