Ketika Sungai Membongkar Rahasia: Banjir Batang Toru dan Jejak Korporasi di Baliknya Catatan Agus M Maksum

KN. Ada kalanya sungai lebih jujur daripada pejabat. Ia tidak bisa berbohong. Ia mengalirkan apa yang ia lihat di hulu. Dan minggu terakhir November 2025, Sungai Batang Toru akhirnya “bicara” dengan cara paling tragis: banjir bandang yang merenggut 116 nyawa, membuat 42 orang hilang, dan mengusir hampir 10 ribu warga dari rumahnya.

Yang lebih mengejutkan bukan airnya.
Tetapi apa yang dibawa air itu.

Ribuan kubik kayu gelondongan—besar, rapi, terpotong mulus, tanpa kulit—mengalir seperti konvoi bukti kejahatan. Kayu sebesar ini tidak mungkin tumbang sendiri. Tidak mungkin hanyut dari kebun warga. Tidak mungkin ditebang orang kampung dengan chainsaw bekas.

Ini pekerjaan besar.
Pemain besar.
Dan dosa besar.

1. Sungai Mengalirkan Fakta yang Tak Bisa Disangkal

Ketika tim Gakkum Kemenhut turun ke lapangan, mereka baru bisa sampai ke beberapa titik awal. Akses terputus. Hulu belum tersentuh. Tetapi satu hal sudah jelas sejak hari pertama:

Kayu itu bukan kayu roboh alami.
Kayu itu adalah kayu ditebang.

Potongannya simetris. Kulitnya dikupas bersih. Panjangnya seragam. Ini bukan pohon lapuk dihantam badai.
Ini kayu yang sudah siap muat — hanya saja kali ini “truknya” adalah banjir bandang.

Anehnya lagi, banyak kayu ditemukan dari area Areal Penggunaan Lain (APL) yang selama ini menjadi ruang abu-abu bagi praktik pencucian kayu ilegal lewat skema Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT).

Ini pola lama yang sudah berkali-kali ditemukan di Aceh, Sumut, dan Sumbar:
Hutan ditebang → kayu dipalsukan sebagai tebang sah → dicampur kayu PHAT → dilegalkan → dijual.

Batang Toru hanya memperlihatkan versi yang lebih telanjang.

2. WALHI Membuka Daftar Tersangka Ekologis

WALHI Sumut tidak menunda. Tidak menimbang kiri-kanan. Tidak ragu.
Mereka menyebut tujuh korporasi yang diduga sebagai penyumbang terbesar hilangnya tutupan hutan Batang Toru:

1. PT Agincourt Resources (tambang emas)

2. PT NSHE (PLTA Batang Toru)

3. PT Pahae Julu Micro-Hydro

4. PT SOL Geothermal Indonesia

5. PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL)

6. PT Sago Nauli Plantation

7. PTPN III Batang Toru Estate

Semua nama ini punya satu kesamaan:
mereka membuka hutan, menggusur tutupan tropis terakhir Sumut, dan mengubah ekosistem penyangga menjadi lahan rawan erosi.

Kalau hutan adalah spons raksasa yang menyerap air, kini spons itu bolong.
Banjir hanyalah konsekuensi.

WALHI membawa bukti: citra satelit, dokumen izin, laporan lapangan, hingga video viral kayu gelondongan yang ukurannya lebih besar dari pintu rumah warga.
Tidak ada cuaca ekstrem yang bisa menebang serapi itu.

3. Negara Masih Sibuk Padamkan Api, Bukan Memutus Sumber Api

Gubernur Bobby Nasution mengatakan, “Nanti kita lihat asal kayunya.”
Betul, evakuasi adalah prioritas.
Tapi publik menunggu sesuatu yang lebih mendasar: komitmen untuk menutup keran kerusakan, bukan hanya menampung airnya.

Status tanggap darurat sudah ditetapkan.
Logistik dibagikan.
Pengungsi dipindahkan.
Tetapi bagaimana dengan hulu?
Bagaimana dengan izin-izin yang selama ini dibuka begitu mudahnya?

Karena jika hutan di hulu sudah botak, banjir berikutnya tinggal menunggu antrian.

4. Bencana ini Tidak Turun dari Langit

Bencana ini bukan karena hujan.
Bukan pula karena badai.

Bencana ini adalah gabungan dari:

izin yang longgar,

pengawasan yang lemah,

ekspansi industri ekstraktif,

konsesi yang saling tumpang tindih,

hutan yang ditebang tanpa batas,

PHAT yang disalahgunakan,

dan Negara yang berkali-kali mengalah di meja izin.

Bencana ekologis seperti ini hanya punya dua pelaku:
kebijakan yang salah dan korporasi yang rakus.

Sungai hanya memperlihatkan hasil akhirnya.

5. Apa yang Sungai Ajarkan pada Kita

Alam tidak pernah menghukum.
Ia hanya mengembalikan.

Ketika kita menebang hutan,
alam mengembalikan banjir.

Ketika kita merusak tutupan,
alam mengembalikan longsor.

Ketika kita mengabaikan izin dan integritas,
alam mengembalikan tragedi.

Batang Toru hari ini adalah cermin.
Ia menunjuk siapa pelakunya.
Ia menyodorkan bukti tanpa bicara.

Dan jika negara masih ragu bertindak,
sungai akan terus mengalirkan rahasianya—
lebih keras, lebih dalam, lebih mematikan.

Kesimpulan

Banjir Batang Toru bukan musibah.
Ini peringatan.
Dan sungai telah membongkar semua yang tidak kita berani buka.

Jika negara tidak memperbaiki hulu,
maka korban berikutnya hanya perkara waktu.

#SaveBatangToru
#BencanaEkologis
#PrayForSumut

  • Related Posts

    Ekonomi Pedagang Lesu, YARA Desak Pemkab Pidie Jaya Buka Kembali Lapangan Meureudu

    KN-MEUREUDU – Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie Jaya untuk segera mengizinkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kembali beraktivitas di Lapangan Meureudu. Desakan ini…

    30 Komunitas ‘Serbu’ DPRK Banda Aceh, Suarakan 4 Isu Krusial Kota

    KN-BANDA ACEH – Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh mendadak riuh oleh kehadiran perwakilan dari 30 komunitas dan lembaga masyarakat pada Kamis (30/4/2026). Kehadiran mereka bukan tanpa alasan;…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *