Diduga Penggelapan Aset Jiwasraya, SPKR Desak KPK Periksa Jampidsus BPK Segera Audit Keseluruhan Kerugian Negara Kasus PT Jiwasraya

KN. Serikat Pemuda Kerakyatan (SPKR) mendesak Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK) untuk segera melakukan audit investigatif terhadap pengelolaan barang bukti dalam perkara korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Desakan tersebut disampaikan Amri, koordinator SPKR, menyusul rendahnya nilai pemulihan kerugian negara dari kasus Jiwasraya yang hingga kini baru mencapai sekitar Rp5 triliun dari total kerugian negara sebesar Rp16 triliun.
“Artinya, pemulihan kerugian negara baru sekitar 30 persen. Ini angka yang sangat tidak wajar dan patut diduga ada masalah serius dalam pengelolaan aset barang bukti,” kata Amri kepada wartawan, belum lama ini.
Menurut Amri, kondisi tersebut mengindikasikan adanya potensi penyimpangan, termasuk dugaan korupsi baru dalam proses pengelolaan, penilaian, dan pelepasan aset hasil sitaan negara. Ia menilai, tanpa audit investigatif yang menyeluruh, negara berisiko kembali dirugikan.


“Barang bukti seharusnya menjadi instrumen utama untuk memulihkan kerugian negara. Jika nilainya justru menyusut drastis, maka publik berhak mempertanyakan ke mana dan bagaimana aset-aset itu dikelola,” ujarnya.
SPKR menilai BPK memiliki kewenangan konstitusional untuk melakukan audit investigatif guna mengungkap secara terang proses pengelolaan barang bukti tersebut. Hasil audit, kata Amri, harus disampaikan secara terbuka kepada publik sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas.
“Kami mendesak BPK tidak hanya melakukan audit administratif, tetapi audit investigatif yang bisa mengungkap jika ada unsur pidana. Kasus Jiwasraya adalah ujian serius bagi komitmen negara dalam pemberantasan korupsi,” tegasnya.


Lebih lanjut, Amri menyatakan SPKR akan terus mengawal isu ini dan tidak menutup kemungkinan melaporkan temuantemuan terkait ke aparat penegak hukum jika terdapat indikasi kuat penyimpangan.
“Pemulihan kerugian negara harus maksimal. Jangan sampai aset hasil korupsi justru menjadi ladang korupsi baru,” pungkas Amri.

  • Related Posts

    Ini bukan catering biasa, ini logistik perang skala industri.

    Mohon ijin SBP, saya bedah sedikit betapa hebatnya Isteri SBP : ​Skala 15.000 orang / hari itu bukan main SBP. Untuk ukuran sekarang saja, catering 1.000 box sudah pusing kepala.…

    Terima Kunjungan Ulama India, MUI Tegaskan Persatuan Umat dan Pendidikan Kunci Hadapi Islamofobia Global

    KN-JAKARTA — Fenomena Islamofobia yang kian marak di berbagai belahan dunia, termasuk India, menjadi salah satu topik utama dalam kunjungan istimewa dua ulama terkemuka asal India ke Kantor Majelis Ulama…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *