EROPA JADI SARANG TERORIS

Stramed, Wahid Foundation ingin agar kita bisa melihat peristiwa tersebut dengan perspektif yang lebih seimbang sehingga tidak menjadi korban dari provokasi yang mungkin dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk membuat mengaduk-aduk perasaan dan emosi kita.  Laicite itu kira-kira adalah pemisahan agama dan negara, dimana tidak ada ruang bagi pemeluk beragama untuk mengekspresikan keyakinannya di ruang publik, demikian sambuutan yang disampaikan oleh Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid dalam webinar yang diadakan oleh Wahid Foundation yang mengangat tema “Peristiwa Perancis dan Ko Radikalisasi”, Sabtu (14/11).

Kalau kita melihat situasi di Perancis, kenapa ada sebagian kecil masyarakat di Perancis yang radikal, bahkan kalau kita lihat statistiknya jumlah orang Eropa yang pergi ke Suriah untuk ikut ISIS, dalam sisi prosentase itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang Indonesia yang pergi ke Suriah untuk ikut ISIS, Prosentasenya lebih tinggi di Eropa. Bisa ribuan lebih, kalau kita masih ratusan, apalagi kalau diprosentasikan terhadap jumlah populasi dari warga atau komunitas muslim di negara tersebut, ujar putri mantan Presiden RI ke 4.

Samhah Rozan, Lc, MA, menceritakan pengalamannya selama tinggal di Perancis, yang saat itu sedang melakukan perjalanan ke selatan Perancis ada kota kecil disana, dan dan dikelilingi oleh benteng. Jadi penduduknya tinggal didalam lingkup benteng tersebut dan memang masih dijaga. Dan saya memutuskan untuk tinggal disana, dan tidak banyak orang yang mengina ditempat saya menginap, dan saat saya sedang sarapan tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiri saya. Karena kita orang Indonesia yang terbiasa dengan budayanya yang ramah, akhirnya ketika ibu itu menghampiri saya senyum dengan ibu tersebut.

Tetapi ibu tersebut dengan tidak basa-basi dia langsung bilang, kamu tidak boleh pakai jilbab seperti ini, ini simbol agama tidak diperbolehkan untuk disini, kamu tahu kan itu simbolnya orang-orang yang radikal, yang anarkis, yang teroris. Dia menatap saya dengan tatapan yang bisa dikatakan benci, dia melihat yang mungkin dalam sudut pandangnya itu mencerminkan seseorang yang teroris, ujar Samhah.

Menurut Kaprodi Kajian Terorisme, SKSG UI M. Syauqillah, PhD bahwa di beberapa negara memang mengalami peningkatan, bakan hanya dari sisi karena ada kasus, tapi memang ada beberapa kasus yang muncul sangat massif sekali di beberapa negara.  Bahwasanya Islamophobia dari hari ke hari makin meningkat. Seperti di Belgia, kemudian di Austria, lalu kemudian di Bosnia, dan di Perancis. Ada ekspresi dari masyarakat yang karena mungkin karena ketidaktahuannya. Kelompok yang Islamophobia, ISIS itu memang mencitrakan Islam secara brutal, kemudian ketika pemenggalan seseorang itu diberitakan secara massif dan dihalalkan darahnya, itu menjadi satu hal yang momok bagi kelompok yang lain.

Misalkan ini global terrorism index kalau kita lihat, disebutkan disana ada penguatan yang cukup drastis 320 % dalam kurun waktu 5 tahun, apakah ini timbal balik atau apa, sebetulnya ini yang menjadi masalah kemudian. Saya melihat bisa saja terjadi karena Perancis salah satu negara 3 besar, ada Belgia, ada Belanda dan Perancis, jadi 3 negara ini yang banyak menyuplai kelompok ISIS atau pergi ke Suriah dan Irak. Kalau kita lihat beberapa kasus yang terjadi mulai dari 2015, lalu kemudian 2016, 2017, 2018, 2019, lalu kemudian kemarin 2020 serangan teror misalkan di negara Belgia, lalu kemudian di Holland, di London, segala macam dengan berbagai macam tipologi serangannya itu memperlihatkan bahwasanya Eropa sudah menjadi wilayah yang menjadi sasaran kelompok teror. Karena kalau kita lihat proyek Salafi Jihadi yang sebelumnya juga terjadi di Eropa itu memang sangat masif di berbagai negara di Eropa. Ada provokasi-provokasi ISIS walaupun sudah selesai ISISnya, akan tetapi dengan virtual khilafah, itu masih terus berjalan propaganda-propagandanya, urai M. Syauqillah.

Sedangkan menurut PhD candidate, gender peace and security centre, Monash University Irine Hiraswari Gayatri, mengenai kontroversi ucapan Macron itu sendiri justru mengurangi perhatian orang pada kasus kekerasannya (pemenggalan guru oleh murid di Perancis, red). Ada sedikit kemiripan konteks ketika Presiden Macron sebagai Presiden ia menyampaikan apa yang menurut dia amanat konstitusi Republik Perancis, menyampaikan filosofi republikanisme yang dibangun dari revolusi Perancis 1905.

Dan disampaikan lagi ke publik selama beberapa saat yang menurut dia sebagai kepala negara adalah bagian dari memperkuat asimilasi dengan konteks mengingat bahwa Perancis sebenarnya negara yang kukturnya dibentuk juga oleh migrasi, tetapi disitu Islam pernah menjadi bagian dari history colonialism. Jadi ketika kemarin ada perdebatan mengenai apakah Macron itu salah atau benar, sebagian justru kritik terhadap dia muncul dari negara sendiri, terang Irine Hiraswari.

Prasangka itu mendapat tempat di media massa, jadi mengatakan bahwa anda pakai jilbab merepresentasi radikal islam, titik tidak ada diskusi, itu juga menurut saya terjadi di Perancis. Menurut saya disatu sisi memang tidak fair untuk langsung mengatakan bahwa Macron salah jika kita tidak mengetahui juga apa alasan dibalik keputusan dia. Tapi disisi lain kita juga bisa menyampaikan sebagai bagian dari kelompok moderat di Indonesia bahwa Presiden Macron haruslah bisa membuka ruang dialog atau memimpin, karena dia juga mempunyai deretan akademik yang memahami dunia Islam moderat yang mungkin berbeda kosmologinya dengan Islam di Perancis. Dia bisa belajar dari duta besar Perancis yang ada di Indonesia misalnya, karena dia terekspos juga dengan keragaman di Indonesia, dan bagaimana perempuan muslim di Indonesia bisa berdebat di ruang publik tanpa harus meninggalkan identitas sebagai orang Indonesia, terang Irine.(Red)

Related Posts

Bantuan internasional yang bersifat Non-Government to Government (Non-G2G)

KN. Hasil koordinasi Pemprov Aceh dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), pemerintah saat ini hanya membenarkan bantuan internasional yang bersifat Non-Government to Government (Non-G2G) atau melalui lembaga non-pemerintah (NGO). Sedangkan untuk…

TANGSE MEMBARA! Massa “Kepung” Gunung Neubok Badeuk, Buru Mafia Tambang dan Perambah Hutan

KN. Amarah rakyat Tangse akhirnya meledak. Sabtu pagi (27/12/2025), suasana di kaki Gunung Neubok Badeuk mencekam saat sekitar 60 pria perkasa perwakilan dari Desa Pulo Mesjid 1, Pulo Mesjid 2,…