KN-MADINAH, Sejarah Islam mencatat momen-momen penuh haru saat Rasulullah SAW. bersiap menghadap Sang Khalik. Melalui riwayat ‘Aisyah RA., terungkap dialog mendalam antara ayah dan anak, serta keteguhan iman seorang Nabi dalam memilih perjumpaan dengan Allah SWT.
Tangis dan Tawa Fatimah: Rahasia di Balik Bisikan Rasulullah
Saat Rasulullah SAW. menderita sakit yang membawa pada kewafatannya, sebuah pemandangan menarik tertangkap oleh pandangan ‘Aisyah RA. Rasulullah memanggil putri tercintanya, Fatimah Az-Zahra, dan membisikkan sesuatu yang membuat Fatimah menangis tersedu-sedu.
Tak lama kemudian, Rasulullah kembali memanggilnya dan membisikkan rahasia kedua. Seketika, tangis Fatimah berubah menjadi senyuman yang merekah.
Terungkapnya Rahasia:
Ketika ditanyakan mengenai momen tersebut, Fatimah memberikan penjelasan yang menggetarkan hati:
Bisikan Pertama: Rasulullah mengabarkan bahwa ajal beliau sudah sangat dekat, hal inilah yang memicu tangis kesedihan Fatimah.
Bisikan Kedua: Rasulullah mengabarkan bahwa dari seluruh anggota keluarga, Fatimah-lah orang pertama yang akan menyusul beliau ke alam baka. Kabar pertemuan kembali di akhirat inilah yang membuat Fatimah tersenyum bahagia.
Pilihan Seorang Nabi: “Bersama Mereka yang Diberi Nikmat”
’Aisyah RA. juga mengisahkan sebuah rahasia besar mengenai keistimewaan para Nabi saat menjelang ajal. Berdasarkan sabda Rasulullah SAW., tidak ada seorang Nabi pun yang wafat melainkan setelah diberikan pilihan oleh Allah SWT: tetap hidup di dunia atau memilih kebahagiaan di akhirat.
Dalam kondisi sakit yang sangat parah dan suara yang mulai parau, ‘Aisyah mendengar Rasulullah SAW. melafalkan potongan ayat suci Al-Qur’an:
”…Mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah…” (QS. An-Nisa: 69)
’Aisyah menyadari bahwa pada saat itulah Rasulullah SAW. sedang dihadapkan pada pilihan agung tersebut, dan beliau dengan penuh keyakinan memilih untuk kembali ke haribaan-Nya.
Keputusan Rasulullah memilih akhirat di saat-saat terakhirnya adalah teladan tertinggi bagi umat manusia untuk tidak terbelenggu oleh kemewahan dunia yang fana.






