PUTUSAN KPPU: 97 PELAKU USAHA TERBUKTI    MELAKUKAN KESEPAKATAN PENETAPAN SUKU BUNGA PINJAMAN DARING

KN-JAKARTA, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan 97 (sembilan puluh tujuh) pelaku usaha layanan pinjam-meminjam uang berbasis teknologi informasi (fintech P2P lending atau pinjaman daring) terbukti melanggar Pasal 5 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999 terkait penetapan harga dalam Perkara Nomor 05/KPPUI/2025. Atas pelanggaran tersebut, para pelaku usaha pinjaman daring dijatuhkan sanksi denda beragam dengan total denda mencapai Rp 755 miliar. Putusan tersebut dibacakan dalam sidang Majelis Komisi di Jakarta, Kamis, 26 Maret 2026, setelah melalui proses penegakan hukum sejak 2023 hingga tahap akhir pemeriksaan. Hadir sebagai Majelis Komisi dalam pembacaan Putusan tersebut, Rhido Jusmadi selaku Ketua Majelis, serta M. Fanshurullah Asa, Aru Armando, M. Noor Rofieq, Gopprera Panggabean, Hilman Pujana, Mohammad Reza, Eugenia Mardanugraha, dan Budi Joyo Santoso selaku Anggota. Putusan ini menandai berakhirnya salah satu perkara persaingan usaha terbesar yang pernah ditangani KPPU, baik dari sisi jumlah Terlapor maupun cakupan industri yang berdampak langsung pada masyarakat luas.

Secara kronologis, perkara ini mulai disidangkan dari Pemeriksaan Pendahuluan pada tanggal 14 Agustus 2025 dengan agenda Pemaparan Laporan Dugaan Pelanggaran, kemudian berdasarkan tanggapan para Terlapor secara keseluruhan dengan tegas menolak seluruh isi Laporan Dugaan Pelanggaran yang disampaikan Investigator. Berdasarkan tanggapan tersebut, Majelis Komisi memutuskan untuk melanjutkan perkara ke tahap Pemeriksaan Lanjutan untuk proses pembuktian.

Berdasarkan pemeriksaan alat bukti dan fakta yang terungkap di persidangan, Majelis Komisi menyimpulkan bahwa telah terjadi perjanjian penetapan suku bunga dan/atau manfaat ekonomi yang dilakukan oleh para Terlapor. Penetapan batas atas suku bunga yang berada jauh di atas tingkat keseimbangan pasar, tidak hanya bersifat non-binding dan tidak efektif dalam melindungi konsumen, tetapi juga berpotensi berfungsi sebagai mekanisme yang memfasilitasi koordinasi penetapan harga di antara para pelaku usaha. Dalam kondisi tersebut, keberadaan batas atas mengarahkan ekspektasi dan strategi harga pelaku usaha, sehingga mendorong terbentuknya keselarasan perilaku dalam penetapan suku bunga. Akibatnya, kebijakan tersebut mengurangi intensitas persaingan harga dan menghambat dinamika kompetisi di pasar pinjaman daring.

Dalam sidang, Majelis Komisi juga menilai bahwa tidak ada pelanggaran aspek formil dalam perkara a quo. Proses penanganan perkara a quo telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku dan berdasarkan pada prinsipprinsip peradilan, sehingga berbagai keberatan aspek formil para Terlapor tidak dapat diterima. Sebelumnya para Terlapor menyampaikan berbagai keberatan dalam aspek formil, seperti masalah kewenangan KPPU, cacat prosedural dalam pembuktian atau hukum acara, ketidakhadiran saksi kunci, klusterisasi pemeriksaan dan sebagainya.

Majelis Komisi juga menyatakan tindakan para Terlapor tidak memenuhi ketentuan pengecualian terhadap Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 50 UU No. 5 Tahun 1999 yang diajukan oleh para Terlapor,  karena tidak terdapat peraturan perundangan yang mengatur mengenai pemberian kewenangan kepada pelaku usaha tertentu dan/atau kumpulan pelaku usaha tertentu dengan nama dan/atau sebutan apapun untuk mengatur besaran suku bunga dalam jasa layanan fintech P2P lending.

Atas dasar tersebut, Majelis Komisi menyatakan seluruh Terlapor terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Untuk itu, Majelis Komisi menjatuhkan sanksi denda kepada para Terlapor dengan besaran total denda mencapai Rp755 miliar (rincian terlampir). Sebagian besar Terlapor (52 Terlapor), dikenakan besaran denda minimal, yakni Rp 1 miliar. Dalam menjatuhkan denda administratif tersebut, Majelis telah mempertimbangkan berbagai faktor memberatkan dan meringankan, di antaranya  terkait sikap kooperatif Terlapor dan kepengurusan AFPI periode 2019-2023.

Selain sanksi denda, Majelis Komisi juga memandang perlu bagi KPPU memberikan rekomendasi kepada Otoritas Jasa Keuangan untuk mengoptimalkan fungsi pengawasan terhadap fintech P2P lending sesuai prinsip persaingan usaha yang sehat.

***

Informasi untuk Jurnalis:

1.    Daftar lengkap rincian pengenaan denda terhadap 97 Terlapor adalah sebagai berikut:

NO      NOMOR
TERLAPOR     NAMA PERUSAHAAN      BESARAN DENDA
1     Terlapor I     PT Abadi Sejahtera Finansindo     Rp2.100.000.000
2     Terlapor II     PT Adiwisista Finansial Teknologi     Rp1.000.000.000
3     Terlapor III     PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia     Rp3.400.000.000
4     Terlapor IV     PT Aktivaku Investama Teknologi     Rp1.000.000.000
5     Terlapor V     PT Alami Fintek Sharia     Rp3.000.000.000
6     Terlapor VI     PT Aman Cermat Cepat     Rp1.000.000.000
7     Terlapor VII     PT Amartha Mikro Fintek     Rp48.800.000.000
8     Terlapor VIII     PT Ammana Fintek Syariah     Rp1.000.000.000
9     Terlapor IX     PT Anugerah Digital Indonesia     Rp1.000.000.000
10     Terlapor X     PT Artha Dana Teknologi     Rp22.900.000.000
11     Terlapor XI     PT Artha Permata Makmur     Rp1.000.000.000
12     Terlapor XII     PT Astra Welab Digital Arta     Rp13.500.000.000
13     Terlapor XIII     PT Berdayakan Usaha Indonesia     Rp3.600.000.000
14     Terlapor XIV     PT Bursa Akselerasi     Rp1.000.000.000

15     Terlapor XV     PT Cerita Teknologi Indonesia (d/h
PT Cerita Investasi Teknologi Indonesia)     Rp1.000.000.000
16     Terlapor XVI     PT Cicil Solusi Mitra Teknologi     Rp1.000.000.000
17     Terlapor XVII     PT Creative Mobile Adventure     Rp1.000.000.000
18     Terlapor XVIII     PT Crowde Membangun Bangsa     Rp1.000.000.000
19     Terlapor XIX     PT Dana Bagus Indonesia     Rp1.000.000.000
20     Terlapor XX     PT Dana Kini Indonesia     Rp2.300.000.000
21     Terlapor XXI     PT Dana Pinjaman Inklusif     Rp2.100.000.000
22     Terlapor XXII     PT Dana Syariah Indonesia     Rp3.700.000.000
23     Terlapor XXIII     PT Digital Micro Indonesia     Rp1.300.000.000
24     Terlapor XXIV     PT Doeku Peduli Indonesia     Rp1.000.000.000
25     Terlapor XXV     PT Duha Madani Syariah     Rp1.000.000.000
26     Terlapor XXVI     PT Esta Kapital Fintek     Rp1.000.000.000
27     Terlapor XXVII     PT Ethis Fintek Indonesia     Rp1.000.000.000
28     Terlapor XXVIII     PT Fidac Inovasi Teknologi     Rp1.000.000.000
29     Terlapor XXIX     PT Finansia Aira Teknologi     Rp1.000.000.000
30     Terlapor XXX     PT Finansial Integrasi Teknologi     Rp1.000.000.000
31     Terlapor XXXI     PT Fintech Bina Bangsa (d.h PT Dana Bina Bangsa)     Rp1.000.000.000
32     Terlapor XXXII     PT Fintegra Homido Indonesia     Rp1.000.000.000
33     Terlapor XXXIII     PT Fintek Digital Indonesia (d.h PT Fintek Digital Ventura Indonesia)     Rp11.100.000.000
34     Terlapor XXXIV     PT Gradana Teknoruci Indonesia     Rp1.000.000.000
35     Terlapor XXXV     PT Grha Dana Bersama     Rp1.000.000.000
36     Terlapor XXXVI     PT Harapan Fintech Indonesia     Rp2.800.000.000
37     Terlapor XXXVII     PT Idana Solusi Sejahtera     Rp6.500.000.000
38     Terlapor XXXVIII     PT Iki Karunia Indonesia (d.h PT Iki Dana Indonesia)     Rp1.000.000.000
39     Terlapor XXXIX     PT Inclusive Finance Group     Rp1.000.000.000
40     Terlapor XL     PT Indo Fin Tek     Rp1.000.000.000
41     Terlapor XLI     PT Indonesia Fintopia Technology     Rp49.100.000.000
42     Terlapor XLII     PT Indonusa Bara Sejahtera     Rp1.000.000.000
43     Terlapor XLIII     PT Indosaku Digital Teknologi (d.h PT Sens Teknologi Indonesia)     Rp2.600.000.000
44     Terlapor XLIV     PT Info Tekno Siaga     Rp10.600.000.000
45     Terlapor XLV     PT Inovasi Terdepan Nusantara     Rp3.000.000.000
46     Terlapor XLVI     PT Intekno Raya     Rp1.000.000.000
47     Terlapor XLVII     PT Julo Teknologi Finansial     Rp12.200.000.000
48     Terlapor XLVIII     PT Kawan Cicil Teknologi Utama     Rp1.000.000.000

49     Terlapor XLIX     PT Klikcair Magga Jaya     Rp1.000.000.000
50     Terlapor L     PT Komunal Finansial Indonesia      Rp2.400.000.000
51     Terlapor LI     PT Kreasi Anak Indonesia     Rp1.000.000.000
52     Terlapor LII     PT Kredifazz Digital Indonesia (d.h PT Finaccel Digital Indonesia)       Rp42.400.000.000
53     Terlapor LIII     PT Kredit Pintar Indonesia     Rp93.600.000.000
54     Terlapor LIV     PT Kredit Plus Teknologi     Rp1.600.000.000
55     Terlapor LV     PT Kredit Utama Fintech Indonesia     Rp25.600.000.000
56     Terlapor LVI     PT Kreditku Teknologi Indonesia     Rp2.300.000.000
57     Terlapor LVII     PT Kuaikuai Tech Indonesia     Rp10.800.000.000
58     Terlapor LVIII     PT Lampung Berkah Finansial Teknologi     Rp1.000.000.000
59     Terlapor LIX     PT Pindar Berbagi Bersama (d/h PT Layanan Keuangan Berbagi)      Rp13.900.000.000
60     Terlapor LX     PT Lentera Dana Nusantara     Rp11.300.000.000
61     Terlapor LXI     PT Linkaja Modalin Nusantara (d.h PT Igrow Resources Indonesia)     Rp1.000.000.000
62     Terlapor LXII     PT Lumbung Dana Indonesia     Rp1.000.000.000
63     Terlapor LXIII     PT Lunaria Annua Teknologi     Rp9.200.000.000
64     Terlapor LXIV     PT Mapan Global Reksa     Rp12.800.000.000
65     Terlapor LXV     PT Mediator Komunitas Indonesia     Rp1.600.000.000
66     Terlapor LXVI     PT Mekar Investama Teknologi (d.h PT Mekar Investama Sampoerna)     Rp1.000.000.000
67     Terlapor LXVII     PT Mitrausaha Indonesia Grup     Rp2.600.000.000
68     Terlapor LXVIII     PT Modal Rakyat Indonesia     Rp2.300.000.000
69     Terlapor LXIX     PT Mulia Inovasi Digital     Rp1.000.000.000
70     Terlapor LXX     PT Oriente Mas Sejahtera     Rp2.000.000.000
71     Terlapor LXXI     PT Pasar Dana Pinjaman (d.h PT Komunindo Arga Digital)     Rp1.000.000.000
72     Terlapor LXXII     PT Pembiayaan Digital Indonesia     Rp102.300.000.000
73     Terlapor LXXIII     PT Pendanaan Teknologi Nusa     Rp6.600.000.000
74     Terlapor LXXIV     PT Pinduit Teknologi Indonesia     Rp1.000.000.000
75     Terlapor LXXV     PT Pinjaman Kemakmuran Rakyat     Rp1.000.000.000
76     Terlapor LXXVI     PT Pintar Inovasi Digital     Rp100.900.000.000
77     Terlapor LXXVII     PT Piranti Alphabet Perkasa     Rp1.000.000.000
78     Terlapor LXXVIII     PT Plus Ultra Abadi (d.h PT Fintech Uangsaku Indonesia)     Rp1.000.000.000
79     Terlapor LXXIX     PT Pohon Dana Indonesia     Rp1.000.000.000
80     Terlapor LXXX     PT Progo Puncak Group     Rp1.000.000.000
81     Terlapor LXXXI     PT Qazwa Mitra Hasanah     Rp1.000.000.000
82     Terlapor LXXXII     PT Rezeki Bersama Teknologi     Rp2.600.000.000
83     Terlapor LXXXIII     PT Ringan Teknologi Indonesia (d.h PT Lufax Technology Indonesia)     Rp1.000.000.000
84     Terlapor LXXXIV     PT Sahabat Mikro Fintek     Rp1.300.000.000
85     Terlapor LXXXV     PT Satustop Finansial Solusi     Rp1.100.000.000
86     Terlapor LXXXVI     PT Sejahtera Sama Kita     Rp1.000.000.000
87     Terlapor LXXXVII     PT Simplefi Teknologi Indonesia     Rp2.900.000.000
88     Terlapor LXXXVIII     PT Smartec Teknologi Indonesia     Rp4.800.000.000
89     Terlapor LXXXIX     PT Sol Mitra Fintec     Rp1.000.000.000
90     Terlapor XC     PT Solid Fintek Indonesia     Rp1.000.000.000
91     Terlapor XCI     PT Solusi Teknologi Finansial     Rp1.000.000.000
92     Terlapor XCII     PT Stanford Teknologi Indonesia     Rp8.700.000.000
93     Terlapor XCIII     PT Teknologi Merlin Sejahtera     Rp9.300.000.000
94     Terlapor XCIV     PT Toko Modal Mitra Usaha      Rp1.000.000.000
95     Terlapor XCV     PT Tri Digi Fin     Rp1.000.000.000
96     Terlapor XCVI     PT Trust Teknologi Finansial     Rp1.000.000.000
97     Terlapor XCVII     PT Uangme Fintek Indonesia     Rp23.500.000.000

  • Related Posts

    TTI Bongkar Praktik “Bau Tak Sedap” di OPD Aceh: Paket Pokir DPRA Diduga Jadi Ajang Setoran Fee

    KN-BANDA ACEH – Lembaga Transparansi Tender Indonesia (TTI) mengeluarkan pernyataan keras terkait karut-marut pengelolaan anggaran pada sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Aceh. TTI menengarai hampir seluruh pengadaan…

    Alarm Lingkungan: Perusahaan “Raport Merah” di Aceh Meningkat, Ketegasan Pemerintah Dipertanyakan

    KN-BANDA ACEH – Kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan di Provinsi Aceh menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan hasil penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER) periode 2024-2025, jumlah perusahaan yang mendapat…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *