KN-JAKARTA, APAKAH PARTAI ? NO… DPR RI SEBAGAI WAKIL RAKYAT INI ? NO… APAKAH PEMERINTAH ? NO… PENEGAK HUKUM ? NO… INSTITUSI TNI-POLRI, ASN…SAMA SAJA… JAWABANNYA ADALAH PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA YANG DIMULAI DARI DIRI SENDIRI, KELUARGA, TETANGGA DST…BERBANGSA DAN BERNEGARA…MARI KITA BEDAH BERSAMA….SBP.
Ditulis dan disajikan oleh SUBANDI PARTO SH MH MBA/Marsekal Muda TNI Purn AAU’69 (AMZ).
MARI KITA Bedah “Siapa Penyelamat NKRI”, ini jawaban yang paling waras sedunia.
SIAPAKAH DIA ? : Partai NO, DPR NO, Pemerintah NO, Penegak Hukum NO, TNI-Polri-ASN SAMA SAJA kalau fondasinya retak.
Jawabannya cuma 1: KITA SENDIRI. Dari dapur kita, dari RT kita, dari akhlak kita.
Mari KITA bedah sampai ke sumsum biar makin nancep :
I. KENAPA SEMUA INSTITUSI “SAMA SAJA”? KARENA ISINYA MANUSIA
Partai isinya manusia. DPR isinya manusia. Menteri isinya manusia. Polisi, hakim, TNI, lurah, RT = manusia.
Kalau manusianya mentalnya korup, serakah, pecah belah, mau dikasih label “PENYELAMAT” juga tetap jadi PERUSAK :
RUMUSNYA lurus : Institusi sekuat apapun akan tumbang kalau watak manusianya busuk. Watak bangsa sekuat apapun akan jaya kalau manusianya BERAKLAK.
Contoh : UUD 1945 itu teks paling bagus. Tapi kalau yang baca + yang laksanain hatinya kotor, UUD tersebut jadi kertas kosong.

II. JAWABAN JUARA ADALAH : PERSATUAN DIMULAI DARI BAWAH :
Ini doktrin Bung Karno : “Beri aku 10 pemuda, akan kuguncang dunia”. ANDA terjemahkan jadi lebih lurus :
Tingkat Lawan yang dihadapi Senjata kita DIRI SENDIRI Maling kecil : telat, bohong, buang sampah sembarangan, terima suap 20rb Disiplin + Jujur + Malu berbuat hina KELUARGA Lingkaran setan : ORTU ngajarin nyogok biar anak lolos sekolah. Rumah jadi madrasah akhlak pertama.
TETANGGA/RT Pecah belah : beda pilihan = musuhan, beda ormas = gontok-gontokan.
Rukun, gotong royong, tegur sapa. BANGSA Koruptor + Asing adu domba.
Pancasila jadi NAPAS, bukan HAFALAN.
Analoginya : NKRI itu tembok. Partai, DPR, Pemerintah itu semennya. Tapi batunya = rakyat. Kalau batunya rapuh, semen sebagus apapun temboknya ambruk.
Kalau batunya kokoh, semen jelek pun temboknya tetap berdiri.
III. 3 PR PEKERJAAN RUMAH KITA : “BIASAKAN YANG BENAR”:
Ini prakteknya, bukan ceramah :
- Dari DIRI Sendiri : Mulai dari tepat waktu, antri, bayar pajak, bilang “tidak” ke amplop. Itu jihad kecil tapi ngalahin 1000 orasi.
- Dari KELUARGA : Ajarkan anak “malu itu indah”. Malu korupsi, malu nipu, malu jadi beban negara. Luluskan anak berakhlak, bukan cuma IPK tinggi.
- Dari TETANGGA : Beda pilihan pilkada itu biasa. Tapi hajatan, kematian, gotong royong harus tetap satu. “Satu darah, satu tanah, satu Indonesia”. Itu benteng paling kuat lawan adu domba.
IV. KESIMPULAN BEDAH KITA : VONIS FINAL
- Tidak ada superman yang akan nyelametin NKRI. Supermannya = kita semua.
- Tidak ada partai suci. Yang suci = niat kita jaga bangsa.
- Tidak ada pemerintah sempurna. Yang sempurna = rakyat yang mau ngawasin + ngingetin dengan akhlak.
Pesan penutup yang harus jadi sumpah tiap pagi :
“Jangan tanya apa negara sudah kasih padamu…
Tanya dirimu : sudahkah aku jadi batu kokoh untuk NKRI hari ini?”
”Koruptor paling takut bukan sama KPK. Koruptor paling takut sama RT yang warganya tidak bisa disuap.”
Bagaimana? Sah komando ini? Kita mulai dari diri sendiri, baru teriak ke Senayan.
KITA sudah pegang kuncinya. Tinggal kita praktek bareng. Dari Jakarta sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rotee.
Merinding bacanya.
V. PENUTUP : Alhamdulillah satu frekuensi. Kata “TUMPAS KORUPTOR SAMPAI TUNTAS” itu bukan slogan. Itu sumpah. Itu napas kita tiap hari…
Saya Sbp sudah memberi contoh paling nyata : ngajak waras, ngajak lurus, ngajak mulai dari diri sendiri. Itu lebih bahaya buat koruptor daripada 1000 spanduk.
Rumusan kita tetap 1 : Kita jaga kita. Kita jaga NKRI. Dari dapur, dari RT, dari akhlak.
Demikian salam hormat, sehat terus Panjang umur, tajam pikiran, kuat iman. Biar barisan kita makin banyak, makin kenceng suaranya Sbp.
JAS MERAH. KITA JAGA KITA. KITA JAGA NKRI.
TUMPAS KORUPTOR SAMPAI TUNTAS 🇮🇩
Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.






