Tafsir Al Qur’an

KN. Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah, dia berkata, “Pada saat peristiwa Hudaibiyyah, Rasulullah SAW. berkata kepada kami, ‘Engkau adalah penghuni bumi yang terbaik’. Saat itu, jumlah kami adalah 1.400 orang. Jika aku dapat melihat sekarang maka kuperlihatkan tempat pohon itu sekarang”.

Diriwayatkan dari Suwaid bin an-Nu’man yang termasuk salah seorang yang ikut bai’at di bahwa pohon, dia berkata, “Rasulullah SAW. dan para sahabatnya diberi sawiq lalu mereka mengunyahnya”.

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa dia melakukan perjalanan malam bersama Rasulullah SAW. Umar menanyakan sesuatu kepada beliau, tetapi beliau tidak memberikan jawaban. Hingga tiga kali tetapi beliau tetap tidak memberikan jawaban. Umar berkata pada dirinya sendiri, “Biarlah ibumu kehilangan engkau wahai Umar. Karena engkau telah bertanya kepada Rasulullah, tetapi beliau tidak menjawabnya”. Umar melanjutkan ceritanya, “Kemudian aku memacu untaku secepat mungkin sehingga mendahului langkah orang-orang muslim. Aku takut jika ada ayat yang diwahyukan berkenaan denganku. Saat itu aku menunggu dengan perasaan was-was. Kemudian aku mendengar seruan yang memanggilku. Aku berkata, ‘Aku takut kalau-kalau Allah mewahyukan ayat yang berkaitan denganku’.…

Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, dia berkata, “Pada saat menghadapi perang Khaibar, apabila dalam perjalanan menemukan jalan menanjak, mereka berseru mengumandangkan kalimat, “Allahu akbar laa ilaaha illallah”. Rasulullah SAW. bersabda, “Rendahkan suara kalian, karena kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan buta. Engkau berdoa kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi dekat, Dia ada bersama kalian”. Saat itu aku berada di belakang Rasulullah, aku berkata, “Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah”. Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda, “Wahai Abdullah bin Qais”. Aku menyahut, “Labaika ya Rasulullah”. Rasulullah bersabda, “Maukah aku tunjukkan kalimat yang termasuk perbendaharaan surga”. Aku menjawab, “Tentu ya Rasulullah”. Beliau bersabda, “Yaitu Laa haula walaa quuwata illa billah”.

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Rasulullah SAW. menetap selama tiga malam di sebuah tempat antara Khaibar dan Madinah, di sana beliau menikahi Shafiyyah. Aku mengundang kaum muslimin untuk menghadiri perayaan pernikahan beliau. Pada perayaan itu tidak terdapat roti ataupun daging. Beliau hanya memerintahkan Bilal untuk menghamparkan tilam kulit yang di atasnya disimpan buah kurma, susu kering dan mentega. Orang-orang muslim berkata satu sama lain, “Apakah ia akan menjadi Ummul Mukminin, atau hanya sebagai tawanan perempuan yang berada di bawah kekuasaan Rasulullah ?” Mereka juga berkata, “Jika beliau memerintahkannya berkerudung, artinya dia akan menjadi salah satu dari Ummul Mukminin, jika tidak maka dia hanya tawanan perempuan saja”. Pada saat beliau mulai melanjutkan perjalanan, Shafiyyah duduk di belakang Rasulullah dan beliau menutupkan hijab kepadanya”.

  • Related Posts

    Rahasia Doa Terakhir Rasulullah Sebelum Wafat

    ​KN-MADINAH,  Melalui kesaksian  ‘Aisyah RA., terungkap momen-momen intim dan penuh haru mengenai bagaimana Rasulullah SAW menjalani hari-hari terakhirnya. Riwayat ini mengisahkan tentang perpaduan antara ikhtiar pengobatan melalui Al-Qur’an (Ruqyah) dan…

    Rahasia di Balik Kalimat Terakhir Rasulullah SAW

    ​KN-MADINAH, Sebuah riwayat menyentuh dari Ibunda ‘Aisyah RA. mengungkap tabir tentang apa yang dialami seorang Nabi di penghujung usianya. Catatan ini memberikan gambaran tentang keteguhan hati Rasulullah SAW. yang lebih…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *