KN-JAKARTA — Fenomena Islamofobia yang kian marak di berbagai belahan dunia, termasuk India, menjadi salah satu topik utama dalam kunjungan istimewa dua ulama terkemuka asal India ke Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Jakarta, pada Sabtu (3/10/2026) lalu.
Kedua ulama asal Hyderabad tersebut adalah Mufti Abu Bakar Jaber Al-Qasmi (pendiri dan Direktur Yayasan Kahf-ul-Iman Trust) serta Syekh Maulana Uwais Vastanvi (Wakil Presiden Jamia Islamia Ishaatul Uloom, Akkalkuwa), yang didampingi oleh Muhammad Haidar.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) MUI Dubes Bunyan Saptomo, serta para pengurus HLNKI MUI yaitu Abdul Jabar, Yanuardi Syukur, dan Elma Haryani.
Dalam pertemuan tersebut, Mufti Abu Bakar Jaber Al-Qasmi menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi umat Islam di India, khususnya terkait aksi penghancuran masjid-masjid yang makin marak.
Ia menilai tindakan tersebut bukan sekadar isu hukum biasa, melainkan dipicu oleh agenda politik dari penguasa yang mengidap sikap Islamofobia.
“Penghancuran masjid di India terjadi karena persoalan politik dari penguasa yang Islamofobia,” ujar Mufti Abu Bakar.
Lebih lanjut, Mufti Abu Bakar menilai MUI sebagai poros penting dalam mewujudkan perdamaian dunia Islam. Meski di India terdapat banyak organisasi Islam, ia mengakui konsolidasi dan hubungan antarorganisasi di sana belum kuat. Oleh karena itu, pihaknya berkeinginan untuk menimba ilmu dari pengalaman MUI dalam membangun sinergi dan merajut persatuan umat.
Menanggapi hal tersebut, Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan menekankan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah. Ia mengingatkan kembali perintah Al-Qur’an agar umat Islam tetap bersatu dan tidak terpecah belah akibat godaan politik, ekonomi, maupun isu lainnya. Menurutnya, persatuan adalah kunci utama kekuatan umat dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk ancaman Islamofobia.
Sementara itu, Syekh Maulana Uwais Vastanvi menyoroti pilar penting lainnya, yaitu pendidikan Islam. Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama untuk mencetak generasi muslim berkualitas yang mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat luas di masa depan.
Senada dengan Syekh Uwais, Buya Amirsyah memaparkan visi besar MUI dalam membentuk sumber daya manusia unggul menuju masyarakat yang berkualitas (khairun ummah) serta mewujudkan negeri yang baik dan mendapat ampunan Allah SWT (baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur).
Berlangsung dalam suasana hangat dan penuhan keakraban, diskusi ini diharapkan menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat antara MUI dengan lembaga-lembaga Islam di India. Kedua belah pihak sepakat bahwa persatuan umat dan penguatan pendidikan Islam merupakan dua pilar utama yang tak terpisahkan dalam menghadapi tantangan era global saat ini.
Foto: Dok. MUI







