KEPADA YTH : MENTERI INFODIGI, TVRI KARENA TIDAK BERANI BERSAING DENGAN TV SWASTA MAKA UNTUK SIARAN PIALA DUNIA DIMONOPOLI OLEH TVRI

TVRI KARENA TIDAK BERANI BERSAING DENGAN TV SWASTA MAKA UNTUK SIARAN PIALA DUNIA DIMONOPOLI OLEH TVRI YANG LAIN TIDAK BOLEH MENYIARKAN ARTINYA TVRI TIDAK PUNYA DAYA SAING. BOLEH MONOPOLI ASAL BERTANGGUNG JAWAB… SIARAN TVRI JELEK… TIDAK BERMUTU…MARI KITA BAHAS BERSAMA.

Ditulis dan disajikan oleh SUBANDI PARTO SH MH MBA/Marsekal Muda TNI Purn AAU’69 (AMZ)

​MARI KITA Bedah pakai logika + akal sehat + kepentingan rakyat. Kasus “TVRI monopoli siaran Piala Dunia” ini contoh klasik : yang kalah bukan TV swasta, tapi rakyat + akal sehat + semangat kompetisi sehat.

​I. BEDAH FAKTA : “MONOPOLI DEMI RAKYAT” APA “MONOPOLI DEMI EGO”?

Klaim : “TVRI monopoli karena tidak sanggup bersaing dengan TV swasta”

Uji Akal Sehat :

Uji Kalau Kompetisi Sehat Kalau Monopoli TVRI Kualitas siaran TVRI + RCTI + Indosiar + Emtek berebut kasih gambar HD, komentator jago, ?

tayangan ulang cepat TVRI sendirian. Gambar burek, buffering, komentator ngantuk = rakyat pasrah Harga hak siar Swasta perang harga → FIFA dapat mahal → uangnya balik ke pembinaan sepak bola TVRI beli mahal pakai APBN/PNBP → rakyat yang bayar pajak nombok Akses rakyat Orang desa beli antena UHF, orang kota pakai Indihome, semua nonton Yang sinyal TVRI jelek = tidak nonton. “Siaran untuk rakyat” jadi slogan doang Inovasi Swasta lomba bikin fitur : multi-angle, VAR cepat, data statistik TVRI: “syukur ada gambarnya”. Inovasi mati

Vonis Akal Sehat : Monopoli = musuhnya mutu. Kalau tidak ada saingan, TVRI tidak perlu lari. Rakyat yang jadi korban.

​II. UJI OODA LOOP : TVRI KALAH CEPAT VS SWASTA

OODA Loop. Kita bedah TVRI vs Swasta :

  1. ​Observe/Amati : Swasta lihat : “Rakyat ngeluh buffering Piala Dunia 2022”. Besoknya mereka sewa server CDN, upgrade 4K. ​TVRI  : “Observe-nya lama. Nunggu rapat, nunggu anggaran turun 3 bulan”.
  2. ​Orient/Orientasikan : Swasta : “Rakyat mau nonton tanpa iklan 10 menit”. Langsung geser model bisnis. ​TVRI : “Orient-nya : ini perintah dari atas atau tidak?” Birokrasi belokin orientasi.
  3. ​Decide/Keputusan : Swasta : Direktur putuskan 1 jam. Malamnya eksekusi. ​TVRI : Keputusan harus naik-turun direksi + dewan pengawas + kementerian. Piala Dunia sudah final.
  4. ​Act/Eksekusi : Swasta : 3 hari setelah dapat hak, aplikasi sudah update. ​TVRI : 3 hari masih “proses pengadaan server”.

​Kesimpulan OODA : TVRI muter OODA-nya 1 bulan. Swasta muter 1 hari. Di medan perang rating, yang lambat pasti mati. Monopoli bikin TVRI tidak pernah latihan “speed”. Jadi pas dikasih panggung Piala Dunia, kakinya kaku.

Keripik Kulit Ayam Klik Disini

III. “BOLEH MONOPOLI ASAL BERTANGGUNG JAWAB” – UJI HUKUM + AKAL SEHAT

Kalau mau monopoli, syaratnya 3 :

  1. ​MUTU WAJIB SEMPURNA Pasal 12 UU Penyiaran : Lembaga penyiaran wajib siarkan berkualitas. Kalau Piala Dunia patah-patah, itu namanya ingkar janji ke 270 juta rakyat. Itu bukan “layan publik”, itu “zholim publik”.
  2. ​AKUNTABEL KE RAKYAT, BUKAN KE BIROKRASI TV Swasta kalau siarannya jelek, besok rating anjlok, iklan kabur, direksi dipecat pemegang saham. Itu “akuntabel pasar”.

​TVRI kalau siaran jelek, laporannya tetap “telah melaksanakan tugas negara”. Tidak ada yang pecat. Itu “monopoli tanpa rasa takut”.

  1. ​JIKA GAGAL = BUKA UNTUK SWASTA Ini prinsip kompetisi sehat. FIFA jual hak siar = lelang. Kalau TVRI menang lelang tapi gagal siarkan, haknya harus dilelang ulang. Jangan dipaksa “demi LPP”. Rakyat berhak nonton bola, bukan nonton logo TVRI muter-muter.

​IV. SOLUSI “AKAL SEHAT” UNTUK MENTERI INFODIGI :

Biar tidak ada lagi kejadian “rakyat maki-maki karena siaran macet”:

  1. ​PRINSIP : “TIDAK ADA MONOPOLI MUTLAK” Hak siar event nasional = wajib “sub-license” ke minimal 2 platform. TVRI dapat, swasta dapat, OTT dapat. Rakyat yang pilih. Kompetisi = mutu naik.
  2. ​TERAPKAN “KLAUSUL DENDA KUALITAS” DI KONTRAK FIFA : Kalau buffering >3 detik, denda 10M per jam. Uangnya buat beasiswa pemain muda. Dijamin besok server TVRI jadi server NASA.
  3. ​BUKA “RUANG UJI PUBLIK” : Sebelum Piala Dunia, TVRI wajib “uji beban” siaran bareng 1 juta netizen. Kalau server rontok, berarti belum layak megang hak. Jangan jadikan Piala Dunia sebagai “uji coba”.

​V. VONIS FINAL :

  1. ​TVRI boleh megang hak siar = BOLEH. Asal buktikan dulu sanggup.
  2. ​”Tidak sanggup bersaing” ≠ alasan monopoli. Itu alasan buat mundur.
  3. ​Kepentingan rakyat > ego lembaga. Rakyat mau nonton gol, bukan nonton “sedang buffering…”.

​Pesan ke Menteri Infodigi :

“Menteri, rakyat tidak butuh TV yang ‘punya hak’. Rakyat butuh TV yang ‘punya mutu’. Kalau TVRI mau monopoli, buktikan dulu OODA-nya lebih cepat dari swasta. Kalau tidak, buka pintunya. Kompetisi itu oksigennya penyiaran.”

​VI. PENUTUP  : Salam hormat dan tetap semangat Sbp…JAS MERAH. SIARAN BOLA JELEK = DOSA KE RAKYAT BOLA.

KOMPETISI SEHAT + TUMPAS MONOPOLI = KUALITAS NAIK

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

 

  • Related Posts

    Pemerintah Bersama Serikat Buruh Mempersiapkan Mitigasi agar Tidak Terjadi PHK dan Buruh Tetap Bekerja, di Tengah Ancaman Potensi PHK

    KN-Jakarta, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Presiden Partai Buruh yang juga menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menyatakan bahwa pemerintah bersama…

    Temuan Said Iqbal di Lapangan: Ribuan Buruh di Jabar dan Jatim Terancam Kehilangan Pekerjaan

    KN-JAKARTA – Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menggelar konferensi pers pada Minggu (21/6/2026). Dalam kapasitasnya yang kini juga menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *