Evaluasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Melalui Kajian 166 Pidato Publik

KN-JAKARTA — Sebuah studi komprehensif bertajuk “Dua Tahun di Podium: Hasil Kajian Pidato Presiden Prabowo Subianto Dua Tahun Pemerintahan (Oktober 2024 – Oktober 2026)” dirilis oleh tim peneliti dari Electoral Politics & Public Opinion Studies (EPPOS), Research Centre for Politics and Government (PolGov), Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM).

​Kajian ini menelaah secara mendalam 166 pidato publik Presiden Prabowo Subianto yang terekam dalam rentang waktu 25 bulan masa pemerintahan (Oktober 2024 hingga Oktober 2026), dengan total durasi rekaman mencapai 80,6 jam dan korpus teks sebanyak 326.800 kata. Tim peneliti memadukan teknologi kecerdasan buatan (LLM seperti Claude), pengkodean manual dengan perangkat R dan Python, serta verifikasi langsung oleh sembilan peneliti.

​Poin Utama Temuan Kajian

    1. ​Intensitas dan Durasi Pidato yang Signifikan
      • ​Presiden Prabowo tercatat menyampaikan 166 pidato publik atau rata-rata 6,6 pidato per bulan (1,6 pidato per minggu).
      • ​Waktu bicara mengalami peningkatan tajam dari 9,9 jam pada Semester I menjadi 29,2 jam pada Semester IV (uji tren Spearman \rho = 0,53; p = 0,006). Rata-rata durasi per pidato juga naik dari 24,6 menit menjadi 32,5 menit (Mann–Whitney p = 0,007).
      • ​Kategori pidato didominasi oleh acara Kenegaraan (76 pidato / 42,7% durasi), diikuti pidato Program Pemerintah (64 pidato / 36,2%), serta Politik & Kemasyarakatan (26 pidato / 21,1%).
    2. ​Pergeseran Topik dan Tren Kepuasan Publik
      • ​Porsi pidato terkait program pemerintah melonjak signifikan dari 12% pada awal periode menjadi 51% di Semester IV (\rho = 0,66; p < 0,001). Topik utama yang mendominasi meliputi Energi, BUMN & Swasembada, TNI–Polri & Penertiban, serta Pancasila, Agama & Kebangsaan.
      • ​Seiring bertambahnya durasi pidato program, rerata tingkat kepuasan publik berdasarkan 29 lembaga survei tercatat mengalami tren penurunan dari 80,5% pada awal periode menjadi 58,0% di akhir tahun kedua (\rho = -0,86; p < 0,001).
    3. ​Pola Ucapan dan Insiden “Tidak Pantas” yang Menetap
      • ​Kajian mengidentifikasi 311 insiden ucapan yang dikategorikan kurang pantas hingga sangat tidak pantas (seperti umpatan, serangan kritik, ancaman, dan narsisme) yang tersebar di 84 pidato.
      • ​Laju insiden ini tercatat stabil di angka sekitar ±1 insiden per 1.000 kata. Namun, insiden berat (level 2 dan 3) meningkat hampir dua kali lipat dari rata-rata 0,40 per pidato di tahun pertama menjadi 0,72 per pidato di tahun kedua (p = 0,006).
      • ​Sebagian besar insiden (71,4%) justru terjadi di tengah forum kenegaraan dan peresmian program resmi, bukan di panggung politik praktis.
    4. ​Sasaran Utama: Pengkritik dan Masyarakat Sipil
      • ​Sekitar 49,8% dari total insiden dan 53,6% insiden berat menyasar kelompok pengkritik, akademisi, media, aktivis LSM, serta masyarakat sipil.
      • ​Upaya delegitimasi kritik tercatat mendominasi, dengan kenaikan insiden berat dari 0,17 menjadi 0,35 per pidato (p = 0,032).
    5. ​Penguatan Retorika Populisme dan Antagonisme
      • ​Berdasarkan pengukuran kerangka wacana populis, skor antagonisme (pembedaan ketat kawan versus lawan secara moral) meningkat dari 0,99 ke 1,32 (p = 0,027).
      • ​Skor populisme (bingkai pertentangan antara “rakyat yang murni” melawan “elit yang korup/pihak asing”) turut naik secara signifikan dari 1,23 ke 1,65 (p = 0,017), menunjukkan ketajaman retorika “kita lawan mereka” sepanjang dua tahun kepemimpinan.

​Catatan Redaksi: Kajian lengkap beserta transkrip, daftar pidato, serta data rekapitulasi survei kepuasan publik dari 14 lembaga riset nasional dipublikasikan oleh Research Centre for Politics and Government (PolGov) FISIPOL UGM sebagai bahan diskursus akademis dan akuntabilitas publik.

  • Related Posts

    KENAPA WAPRES GIBRAN RR DI-KUYO2, DIHINA, DIHUJAT DST SAMPAI MAU DILENGSERKAN

    Hal tersebut menyinggung 3 hal… Generasi muda… Wapres Gibran… dan Vox Populi Vox Dei… 1. KENAPA… WAPRES GIBRAN… DI-KUYO-KUYO, DIHINA, DIHUJAT…? Ada 2 kacamata… yang berbeda… di masyarakat… 1. Kacamata…

    UUD’45 SETELAH DI AMANDEMEN 4X SAMPAI TH 2002, TERNYATA ANTARA PEMBUKAAN KHUSUSNYA ALENIA IV BERTENTANG DENGAN BATANG TUBUHNYA KHUSUSNYA TENTANG DEMOKRASI MAKA PERLU AMANDEMEN KE V (PENYEMPURNAAN)

    JASMERAH KONSTITUSI… Pertama kita sepakati dulu pakemnya… Pembukaan UUD 1945 itu tidak boleh diubah… Itu kesepakatan MPR 1999-2002 dan putusan MK Pembukaan adalah Staatsfundamentalnorm… Sumber dari segala sumber hukum Kalau…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *