KN. Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Siapa yang akan pergi untuk melihat bagaimana keadaan Abu Jahl ?” Maka Ibnu Mas’ud bangkit dan melihatnya. Dia mendapati Abu Jahl sedang sekarat dengan luka tusukan oleh dua putra ‘Afra. Sambil memegang janggutnya Ibnu Mas’ud berkata, “Apakah engkau Abu Jahl ?” Abu Jahl berkata, “Haruskah seorang laki-laki kuat terbunuh di tangan mereka, atau seorang penguasa terbunuh oleh kaumnya ?”.
Diriwayatkan dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqiyyu, dia adalah salah seorang yang ikut serta dalam perang Badar, dia berkata, “Jibril menemui Rasulullah SAW. seraya berkata, ‘Bagaimana menurutmu tentang para pejuang perang Badar ?’ Rasulullah bersabda, “Mereka adalah kaum muslimin yang terbaik”. Malaikat Jibril berkata, “Demikian juga para malaikat yang ikut serta dalam perang tersebut”.

Diriwayatkan dari az-Zubair bahwa pada saat perang Badar aku berhadapan dengan Ubaidah bin Sa’id bin al-‘Ash. Dia mengenakan baju besi yang menutupi seluruh tubuhnya hingga tidak ada yang terlihat kecuali kedua matanya. Nama julukannya adalah Abu Dzatil Karisyi. Dengan penuh kecongkakan dia berkata, “Aku adalah Abu Dzatil Karisyi”. Aku menyerangnya tepat di kedua matanya, hingga akhirnya dia mati. Aku menginjakkan kakiku pada tubuhnya agar dapat mencabut tombakku. Karena kuatnya tenaga yang aku keluarkan untuk mencabutnya, sehingga kedua matanya ikut keluar. Rasulullah SAW. meminta tombak tersebut dari az-Zubair, dia memberikannya. Setelah beliau wafat, az-Zubair mengambilnya kembali. Lalu Abu Bakar memintanya, az-Zubair memberikannya kepada Abu Bakar. Setelah Abu Bakar wafat, tombak tersebut diambil alih oleh Umar. Setelah Umar wafat, az-Zubair mengambilnya. Kemudian Usman memintanya, az-Zubair kembali memberikannya. Setelah Usman wafat, tombak itu pindah ke tangan keluarga Ali. Kemudian Abdullah bin Zubair memintanya, dan akhirnya tombak itu dipegang olehnya hingga dia meninggal dunia”.
Diriwayatkan dari Abu Mas’ud al-Badri bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda, “Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah pada malam hari, maka ayat itu sudah cukup baginya”.
Diriwayatkan dari al-Miqdad bin Amr al-Kindi, salah seorang sekutu Bani Zuhrah, dia juga termasuk orang yang ikut serta dalam perang Badar, dia berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah, ‘Bagaimana menurutmu jika aku bertemu dengan seorang kafir. Kemudian aku bertarung dengannya dan dengan pedangnya dia telah memotong tanganku. Setelah itu, dia lari dan berlindung di balik sebuah pohon’, dan berkata, ‘Aku masuk Islam karena Allah’. Wahai Rasulullah apakah aku boleh membunuhnya ?'” Rasulullah bersabda, “Jangan”. Aku bertanya lagi, “Tetapi dia telah memotong tanganku”. Beliau bersabda, “Jangan membunuhnya ! Jika engkau membunuhnya karena dia berada dalam posisimu sebelum engkau membunuhnya, dan engkau berada dalam posisinya sebelum dia mengucapkan kalimat yang ia katakan itu”.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, dia berkata, “Pada saat perang Uhud, seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW., ‘Jika aku terbunuh, dimanakah tempatku nanti ?’ Beliau bersabda, ‘Di surga’. Lalu dia memakan beberapa butir kurma yang ada pada tangannya. Setelah itu ia menghambur ke medan perang, hingga terbunuh'”.

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash, dia berkata, “Pada perang Uhud aku melihat Rasulullah SAW. disertai oleh dua orang, mereka bertempur dengan gigih. Mereka mengenakan pakaian putih, keberaniannya menghadapi musuh tidak dapat terlukiskan. Sebelumnya aku tidak pernah melihat dua orang itu, demikian juga sesudahnya. Dikatakan bahwa dua orang tersebut adalah Malaikat Jibril dan Mikail”.
Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Pada perang Uhud, wajah Rasulullah SAW. terluka. Kemudian beliau bersabda, ‘Bagaimana suatu kaum akan berbahagia jika mereka berani melukai wajah nabi yang diutus kepada mereka'”. Kemudian turunlah ayat : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran : 128).
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ketika Rasulullah SAW. mengangkat badannya dari posisi ruku’ pada rakaat kedua shalat shubuh beliau membaca : “Ya Allah, kutuklah si Fulan, Fulan dan Fulan”. Yaitu setelah mengucapkan: “Sami’a Allahu liman hamidah rabbana lakal hamdu”. Kemudian Allah menurunkan ayat : “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran : 128).
Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika terjadi apa yang menimpa Rasulullah SAW. pada saat perang Uhud, Rasulullah khawatir kalau orang-orang musyrik yang telah pulang datang lagi. Berkata beliau, “Siapa yang bersedia mengintai mereka?” Rasulullah memilih tujuh puluh orang sahabat yang diantaranya adalah Abu Bakar dan az-Zubair.
Diriwayatkan dari Jabir, dia berkata, “Pada saat perang Khandaq, kami menggali parit. Lalu kami menemukan sebongkah cadas besar dan keras sehingga kami harus me menemui Rasulullah dan berkata, ‘Ada cadas besar yang menghalangi penggalian parit’. Rasulullah bersabda, ‘Aku akan turun melihatnya’. Kemudian beliau berdiri, lambung beliau diganjal oleh batu karena sudah tiga hari tidak terisi makanan. Sesampainya di parit, Rasulullah mengambil sebuah pacul dan memukulnya hingga cadas tersebut hancur berserakan layaknya pasir”.







