BOM BUNUH DIRI GEREJA KATEDRAL MAKASSAR, PENGAMAT: ADA PESAN YANG DISAMPAIKAN TERHADAP JARINGAN KELOMPOK TEROR

Stramed, Saya melihat peristiwa bom di Makassar adalah merupakan ulangan dari peristiwa bom di Surabaya, yang merupakan pengulangan yang disebut bom bunuh diri keluarga. Jadi bom bunuh diri keluarga ini adalah bom bunuh diri yang original, yang asli khas tipikal Indonesia. Artinya pelakunya orang Indonesia, dan boleh dikatakan yang menyerukan itu juga orang Indonesia, yaitu ulama organik kekerasan, demikian dikatakan oleh pengamat terorisme Al Chaidar dalam webinar yang mengangkat tema “Terorisme di Indonesia: Analisis dan Strategi Melawan Ekstremisme Berbasis Kekerasan” yang diadakan oleh Rumah Produktif Indonesia &  Indonesian Center for Countering Violent Extremism (ICCVE), Minggu (28/03).

Sebenarnya alasan teoritis terhadap istilah atau terminologi yang diberikan kepada peristiwa kekerasan terorisme yang dilakukan di Surabaya pada tahun 2018. Saya kira ini adalah sebuah ulangan atas apa yang terjadi di Surabaya dan juga di Jolo Filipina, yang dilakukan oleh Andi Baso dan terjadi dua kali di gereja Katedral Jolo Filipina. Dan dua kali itu orang Indonesia juga pelakunya, dari Makassar. Saya agak takjub dengan munculnya orang-orang militant dari Makassar, ujar Al Chaidar.

Teori Imagined Solidarity atau solidaritas bayangan menurut Asef Bayat, adalah sebuah ‘solidaritas bayangan’ dimana tindakan kolektif yang unik dan tidak masuk akal dan ahistoris dikonstruksi oleh para penganut suatu agama secara lintas batas dan “sebuah ekspresi kesetiaan primordial” yang menuntut balas atas berbagai kejadian yang menimpa kaumnya nun jauh di belahan lain dunia, terang pengamat terorisme yang juga pengajar antropologi Universitas Malikussaleh, Aceh

Menurut Al Chaidar, Ledakan bom di Sri Lanka merupakan balas dendam terhadap serangan kepada Muslim di Christchurch, Selandia Baru yang merupakan tindakan subyektif spontan yang membayangkan saudaranya diperlakukan secara buruk. Pada 15 Maret, jemaah di Masjid Al Noor dan Linwood Christchurch, Selandia Baru, diserang oleh seorang ekstremis islamophobia, Brenton Tarrant, ketika hendak melaksanakan Shalat Jumat.

Brenton Tarrant yang merupakan warga negara Australia itu menyiarkan perbuatan kejinya di Facebook dengan 50 jemaah dilaporkan tewas dan 50 orang lainnya mengalami luka-luka. Serangan 8 bom di Sri Lanka ini adalah eskpresi kristo-fobia yang akut yang seharusnya tidak berkembang dalam masyarakat beradab yang plural dan multi kultural, jelas Al Chaidar.

Sebagaimana kita ketahui bahwa  teror ini memang mengandalkan keluarga, jadi suami mengajak isteri, lalu juga mengajak anak-anak mereka, dan pasangan-pasangan muda yang belum mempunyai anak. Bahkan waktu menyerang Wiranto pun, Abu Rara mengajak isteri dan anaknya juga, kata pengamat terorisme tersebut.

Dari studi tentang violence war and terrorism itu saya mulai sadar bahwa pertama itu kita harus menghindari sesat pikir. Seringkali dalam diskusi publik atau kelas-kelas yang saya ambil di beberapa universitas, orang atau mahasiswa bahkan cenderung  tergelincir pada beberapa sesat pikir ketika menghadapi isu terorisme, bahwa segala jenis kekerasan dianggap buruk secara moral. Saya mengklain ini sebagai bentuk sesat pikir, karena faktanya tidak semua jenis kekerasan itu secara moral buruk. Misalnya ada profesi tertentu yang tidak bisa bekerja tanpa instrumen kekerasan, misalnya institusi TNI-Polri itu butuh instrumen kekerasan untuk bekerja. Jadi kita perlu kesampingkan dulu kekerasan itu pasti buruk secara moral karena ada kekerasan tertentu yang bisa kita justifikasi dibenarkan karena punya alasan yang adil, jelas peneliti asosiasi sarjana filsafat Indonesia Qusthan A. H. Firdaus.

Kemudian ada sesat pikir dari satu hal kecil kemudian merembet ke hal yang besar, bahwa satu kejadian teror semisal di Makassar, kemudian merembet kemana-mana. Jadi misalnya ini fakta bahwa  muslim ini teroris, atau islam tertentu teroris. Sebagai orang luar dibidang studi terorisme, saya terpukau karena ada gap yang cukup luas, antara pendekatan praktis terhadap terorisme dengan pendekatan filosofis dan etis terhadap terorisme, ujarnya.

Di satu sisi pendekatan praktis terhadap terorisme itu fokus pada studi area, misalnya terorisme di Indonesia saja, atau terorisme di Asia Tenggara saja, atau siapa pelaku dan jaringannya, hubungannya dengan siapa, itu basisnya adalah area studi. Tapi pendekatan praktis terhadap terorisme mengabaikan pendekatan filosofis dan etis terhadap terorisme. Di sisi lain orang-orang yang melakukan pendekatan filosofis dan etis terhadap terorisme itu hanya focus pada justifikasi dan kontra justifikasi, dan mengabaikan kasus-kasus teror misalkan di Indonesia, terang Qusthan A. H. Firdaus.

Menurut Kaprodi kajian terorisme SKSG UI Muhamad Syauqillah, kalau melihat Makassar itu harus secara historis jauh ke belakang, ada akar historisnya, ada gineologinya Makassar itu. Mengapa misalkan berpuluh-puluh orang ditangkap tetap saja ada, karena memang ada sejarah yang cukup panjang, dimana pemberontakan DI/TII yang kemudian kita tahu bahwa beberapa aktivisnya bermetamorfosis dalam konteks ini JAD maupun Jamaah Islamiyah. Jadi itu posisi Makassar demikian dalam konstelasi gerakan teror yang ada di Indonesia. Dan salah satu juga yang mungkin wilayah yang selain di Jawa, salah satu titik rawan diluar Jawa, selain mungkin Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah, ada Sulawesi Selatan.

Jadi secara historis geneologis itu ada argumentasinya, mengapa kemudian ada serangan di Makassar ini. Saya ingin memberikan analisis dimana seringkali kelompok teror itu menjelang bulan suci Ramadhan atau di bulan suci Ramadhan mereka melakukan aksi teror. Jadi ada beberapa kasus yang kita catat memang terjadi di bulan suci Ramadhan atau menjelang atau menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, ujar Muhamad Syauqillah.

Karena memang dalam konteks kelompok teror, Ramadhan itu punya argumentasi teologis dan historisnya. Argumentasi teologisnya karena dibulan suci di masa lalu Rasulullah itu melakukan jihad di bulan suci Ramadhan. Jadi kelompok-kelompok teror pasti menyandarkan argumentasinya  pada aspek teologis dan historisnya,  Yang kemudian mereka gunakan ini sebagai alasan momentum melakukan aksi teror menjelang  bulan suci Ramadhan. Oleh karenanya kita patut waspada terhadap situasi yang ada menjelang bulan suci dan kita nanti memasuki bulan suci Ramadhan, dan ada persoalan pandemi. Sebetulnya jika kita lihat sejak awal pandemi, memang telah terjadi ancaman teror di media sosial yang ada, ungkap Kaprodi kajian terorisme SKSG UI.

Untuk kasus terorisme yang tadi terjadi, saya melihat ini menjelaskan bahwa  terorisme di  Indonesia ini masih bersifat laten,  laten lawannya manifest, laten atau kita sebut bentuknya klandestin. Jadi mereka belum terang-terangan menyebut dirinya sebagai teroris, berbeda dengan kelompok-kelompok lain yang langsung mengatakan sebagai teroris. Ini masih sembunyi-sembunyi dan gerakannya hit and run, serang-lari, serang-lari, atau serang-mati, serang-mati. Mereka muncul pada momen-momen tertentu, untuk kasus ini satu minggu sebelum Paskah, jelas Yanuardi Syukur  seorang analis terorisme yang  juga pengajar Antropologi Universitas Khairun, Ternate .

Saya melihat bahwa  ada semacam pesan yang disampaikan oleh teror ini, pesan ini bisa kita lihat dua, pertama pesan kepada jaringan, jaringan berarti orang-orang yang satu visi dengan mereka. Jaringan itu bisa masuk pada kelompok mereka yang se-visi dengan mereka, dari kelompok misalnya JAD, atau mungkin dari Mujahidin Indonesia Timur yang tidak begitu jauh dari kota Makassar.  Atau mungkin kelompok yang lain secara internasional. Karena isu bom ini kan tidak hanya di beritakan di media  Indonesia  tapi juga internasional, ini jadi satu pesan jaringan, ungkap analis terorisme itu.

Yang kedua ini bisa jadi pesan kepada publik bahwa ini merupakan retaliasi, saya menyebut retaliasi atau balas dendam kepada power, power yang hegemonik tapi power yang hegemonik itu kan tidak utuh. Makah al-hal yang lobang-lobang itu yang kemudian mereka masuki dan melakukan teror. Dan disini juga pesan yang ingin mereka sampaikan kepada publik ada faktor kontinuitas, pasti ada perubahannya. Tapi kontinuitas dari konfrontasi  simbolik ideology. Jadi ini merupakan kelanjutan dari apa yang sudah dilakukan dulu, ujar Yanuardi Syukur.(Red)

Related Posts

Eskalasi Global: AS-Israel Gempur Iran, Pemimpin Tertinggi Dilaporkan Tewas, Serangan Balasan Meluas

KN-Timur Tengah, Timur Tengah berada di ambang perang total menyusul operasi militer besar-besaran yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini memicu kekacauan keamanan tidak hanya di wilayah konflik,…

Kedutaan Besar Iran di Jakarta Mengutuk Serangan AS dan Zionis: Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei Gugur

KN-JAKARTA,  Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam keras tindakan agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Serangan…