Catatan Sejarah Islam: Perjalanan Jihad Salamah bin al-Akwa’ dan Fathu Makkah di Bulan Ramadhan

KN-MADINAH, Lembaran sejarah Islam kembali mengungkap dua catatan penting mengenai dedikasi para sahabat dalam peperangan serta kebijakan Rasulullah SAW. dalam memberikan kemudahan (rukhsah) beribadah saat menjalankan misi besar.

Dedikasi Salamah bin al-Akwa’: Sang Pejuang di 16 Medan Laga
​Diriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ RA., seorang sahabat yang dikenal memiliki kecepatan dan ketangkasan luar biasa, beliau membagikan catatan pengabdiannya di bawah panji Islam.

Sepanjang hidupnya, Salamah tercatat telah mengikuti total 16 misi pertempuran:
​7 Kali Peperangan: Terjun langsung mendampingi Rasulullah SAW. dalam komando utama.
​9 Kali Peperangan: Bergabung dalam pasukan ekspedisi (sariyah) yang diutus oleh Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan jihadnya, Salamah juga mencatatkan loyalitas kepada para pemimpin yang ditunjuk Nabi, di antaranya pernah bertempur di bawah komando Abu Bakar Ash-Shiddiq dan pada kesempatan lain di bawah kepemimpinan panglima muda, Usamah bin Zaid.

Misi Besar Fathu Makkah: 10.000 Pasukan dan Syariat Berbuka Puasa
​Riwayat lain dari Ibnu Abbas RA. mengisahkan momen monumental dalam sejarah Islam, yakni keberangkatan Rasulullah SAW. menuju pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Peristiwa besar ini terjadi pada bulan Ramadhan, tepat delapan setengah tahun setelah peristiwa hijrah.

Kronologi Keberangkatan:
​Kekuatan Pasukan: Rasulullah SAW. keluar dari Madinah dengan membawa kekuatan besar berjumlah 10.000 personel.
​Ketaatan Berpuasa: Di awal perjalanan, Rasulullah SAW. beserta seluruh pasukan tetap menjalankan ibadah puasa meskipun dalam kondisi safar (perjalanan jauh).
​Kebijakan di Al-Kadid: Setibanya di sebuah tempat berair bernama Kadid—wilayah strategis yang terletak di antara Usfan dan Qudaid—Rasulullah SAW. memutuskan untuk berbuka puasa.
​Langkah Rasulullah SAW. ini segera diikuti oleh seluruh pasukannya. Keputusan ini menjadi pelajaran penting dalam syariat Islam bahwa menjaga kekuatan fisik dalam mengemban amanah besar (seperti perang) merupakan prioritas, dan Islam memberikan keringanan bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan jauh.
​Pesan Utama dari Riwayat Ini:
​Kedisiplinan: Kepatuhan Salamah bin al-Akwa’ kepada pemimpin (Rasulullah, Abu Bakar, dan Usamah) menunjukkan struktur komando yang solid.
​Keseimbangan Ibadah: Kisah di Al-Kadid mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak harus kaku, namun bersifat fleksibel sesuai situasi dan kondisi demi kemaslahatan yang lebih besar.

Foto: Ilustrasi Kisah Salamah bin Akwa. Foto: Ist/Net/Harapanrakyat.com

Related Posts

Panduan Islam: Dari Aturan Makanan Halal hingga Adab Menyayangi Binatang

(9074) Diriwayatkan dari Ibnu Aufa, dia berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah SAW. dalam tujuh peperangan atau enam peperangan. Kami bersama beliau memakan belalang”. (9075) Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar,…

5 Kunci Masuk Surga dan Sukses Dunia-Akhirat: Pesan Mendalam K.H. Aa Gym

KN-Bandung – Pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, K.H. Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym, membagikan rahasia besar untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di hadapan sekitar 460 jemaah,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *