KN-THA’IF, Sebuah fragmen sejarah dari lisan Abdullah bin Umar RA. mengungkap sisi humanis sekaligus taktis dari kepemimpinan Rasulullah SAW. Peristiwa ini terjadi saat pasukan Muslim melakukan pengepungan terhadap kota Tha’if, sebuah benteng pertahanan yang dikenal sangat kokoh.
Setelah pengepungan berlangsung beberapa lama tanpa ada tanda-tanda kemenangan atau runtuhnya benteng lawan, Rasulullah SAW. mengambil keputusan strategis. Beliau bersabda:
”Kita akan kembali ke Madinah, insya Allah.”
Namun, pengumuman ini justru disambut dengan kekecewaan oleh para sahabat. Semangat juang yang masih berkobar membuat mereka merasa berat jika harus pulang tanpa membawa hasil penaklukan. “Kita akan pergi begitu saja tanpa menaklukan mereka?” tanya para sahabat dengan nada keberatan.
Akomodasi Semangat dan Realita Medan Perang
Melihat antusiasme pasukannya, Rasulullah SAW. dengan bijak mengakomodasi keinginan mereka. Beliau mengubah keputusan dan bersabda, “Besok kita akan menggempurnya lagi.”
Keesokan harinya, serangan dilakukan dengan penuh totalitas. Namun, pertahanan Tha’if yang kuat mengakibatkan banyak personel pasukan Muslim mengalami luka-luka. Realita di medan perang akhirnya membuktikan bahwa melanjutkan pengepungan saat itu akan membawa kerugian yang lebih besar.
Setelah melihat kondisi fisik pasukannya yang banyak terluka, Rasulullah SAW. kembali menyampaikan keputusan yang sama seperti hari sebelumnya:
”Kita akan kembali ke Madinah besok.”
Berbeda dengan reaksi pertama, kali ini para sahabat menyambut keputusan tersebut dengan rasa senang dan lega. Mereka telah merasakan sendiri kerasnya medan laga. Melihat perubahan sikap para sahabat yang akhirnya memahami kebijaksanaan pemimpinnya, Rasulullah SAW. pun tersenyum.
Ilustrasi peperangan (Foto: Fauzan Kamil/detikcom)






