KN. Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel biasanya melonjak signifikan menjelang libur Natal dan tahun baru. Namun lonjakan angka kunjungan belum dirasakan di Leedon Hotel & Suites Surabaya, Jawa Timur.
Tiga hari menjelang Natal, tingkat keterisian kamar di hotel berbintang empat itu masih 90 persen. “Padahal tahun lalu di tanggal segini kami sudah 99 persen fully booked,” ucap General Manager Leedon Hotel & Suites Surabaya Tatok Hariyanto kepada Tempo, Senin, 22 Desember 2025.
Okupansi merupakan indikator utama bagi industri perhotelan yang mengukur persentase keterisian kamar hotel dari total kamar yang tersedia pada periode tertentu. Sepanjang tahun terjadi penurunan tingkat okupansi hotel.
Menurut Tatok, ada beberapa penyebab melambatnya okupansi hotel tahun ini. Berdasarkan pengamatannya, durasi libur sekolah yang panjang kali ini menjadi salah satu alasannya. Sekolah pada umumnya mulai libur pada 22 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Karena itu, ada waktu sekitar dua pekan untuk berlibur.
Tatok mengatakan panjangnya masa libur sekolah memicu pergeseran minat kunjungan. Masyarakat lebih terpikat terbang ke mancanegara.

Apalagi harga tiket pesawat internasional terkadang lebih murah dibanding rute domestik. Ini menjadi faktor penentu yang membuat kamar-kamar hotel di dalam negeri tak terisi secepat biasanya. “Tiket pesawat ke luar negeri juga lebih murah dibanding tiket domestik. Jadi mereka lebih milih ke luar negeri,” ujarnya.
Sementara itu, tingkat okupansi hotel di Kabupaten Badung, Bali, pada pekan pertama Desember juga belum naik signifikan. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menyatakan saat ini rata-rata tingkat hunian hotel di Badung baru 70 persen karena pekan pertama Desember 2025 termasuk periode landai kunjungan.
Meski demikian, Gusti optimistis tingkat penghunian kamar akan melonjak. Sebab, puncak masa libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di sana terjadi setelah 20 Desember 2025.
Ia memperkirakan tingkat hunian hotel naik menjadi 78 persen saat libur Natal dan melonjak menjadi sekitar 97 persen saat tahun baru. “Bali masih tetap diminati turis mancanegara dan wisatawan domestik,” katanya, seperti dikutip dari Antara.
Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menjelaskan saat ini sulit menebak angka pemesanan atau reservasi oleh konsumen menjelang Natal dan tahun baru. Pada periode yang sama tahun lalu, 30-40 persen konsumen masih tercatat melakukan reservasi. Namun tahun ini, bahkan tiga hari menjelang Natal, masih ada pemesanan sekitar di bawah 40 persen.
“Bahkan bukan tidak mungkin di daerah-daerah tertentu belum ada yang melakukan reservasi,” ujarnya kepada Tempo, Senin, 22 Desember 2025.

Maulana menyatakan ada beberapa hal yang diprediksi menjadi masalah. Yang pertama adalah cuaca ekstrem yang belakangan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Menurut dia, perlu ada informasi yang jelas perihal mitigasi bencana dan sebagainya agar wisatawan tetap merasa nyaman berwisata saat terjadi cuaca ekstrem.
Pemesanan digital juga menjadi penentu angka reservasi. Maulana menjelaskan, kemudahan pemesanan lewat aplikasi membuat orang bisa menyewa kamar pada menit-menit terakhir sehingga sulit dikalkulasi.
Selain itu, Maulana menilai daya beli masyarakat masih menjadi tantangan utama penurunan angka keterisian kamar. Biaya perjalanan menjadi komponen yang dipertimbangkan pelancong lokal berwisata. Masih adanya keluhan masyarakat imbas tingginya harga tiket pesawat dianggap salah satu faktor penyebabnya.
Meski demikian, ia masih optimistis lonjakan tingkat keterisian kamar tetap akan terjadi pada libur panjang Natal dan tahun baru kali ini.
Adapun pemerintah menetapkan libur nasional pada 25 Desember dan cuti bersama pada 26 Desember. Maulana memperkirakan ada 4-5 hari libur di pengujung tahun.

Meski tak optimistis dapat terisi 90-100 persen, ia yakin akan terjadi lonjakan dibanding hari biasa. “Mungkin kami berharap paling tidak 80 persen bisa terisi rata-rata okupansinya dengan masa peningkatan terjadi selama empat hari tersebut,” tuturnya.
Maulana memprediksi tingkat keterisian kamar melonjak 30 persen pada momen Natal dan tahun baru dibanding pada hari biasa. Dengan demikian, ia berharap lonjakan angka keterisian kamar hotel pada akhir tahun bisa menjadi penutup yang mendongkrak kinerja industri perhotelan, yang okupansinya menurun sepanjang 2025 akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah dan penurunan daya beli masyarakat.





