Foto: Ilustrasi, sumber foto: Youtube
Stramed, Halo perkenalkan saya David Fong, saya seorang non muslim dan keturunan chinese. Ini tulisan pribadi saya, tidak mewakili etnis/golongan tertentu, saya hanya ingin sekedar menulis perspektif saya mengenai Islam dan radikalisme berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya.
Saya agak risih ketika banyak di lingkungan dekat saya, teman-teman ataupun beberapa keluarga yang menggangap bahwa menggangap Islam itu agama mayoritas yang radikal dan intoleran.
Banyak dari mereka hanya menilai sepintas atau termakan framing media mengenai berita-berita yang menyudutkan Islam. Saya pribadi tidak percaya bahwa Islam itu radikal dan intoleran. Saya akan jelaskan dibawah ini kenapa saya tidak percaya dan menentang stigma itu.
Saya lahir di Jakarta, tetapi oleh karena lingkungan yang tidak baik dan kondusif bagi anak anaknya maka orang tua saya memutuskan untuk pindah dari Jakarta ke daerah perbatasan antara Depok dengan Bogor. Di lingkungan saya tumbuh, kebetulan hanya keluarga saya yang non muslim, jadi satu desa itu semuanya beragama muslim.
Orangtua saya menyekolahkan saya di sebuah sekolah dasar negeri di daerah tersebut. Dari kelas 1 sampai kelas 6 SD hanya saya dan adik sayalah yang non muslim. Di sekolah, karena tidak ada guru yang Kristen maka saya dan adik saya mengikuti pelajaran agama Islam di sekolah. Sebelum mulai dan sesudah kelas kami di ajarkan berdoa dengan doa Islam (sampai sekarang saya masih hafal doanya). Saya belajar banyak mengenai agama Islam, beberapa pelajaran yang masih saya ingat sampai sekarang adalah kisah 25 Nabi dan 25 rasul, beberapa huruf bahasa arab, 5 rukun Islam, dll.
Bahkan guru saya sering menjadikan saya contoh untuk memotivasi teman teman saya sekelas, nilai ujian agama Islam teman-teman saya tidak boleh dibawah nilai ujian saya. Pernah beberapa kali nilai saya 80, dan ada beberapa teman-teman saya nilainya dibawah itu dan mereka malu sama saya.
Pulang sekolah saya biasa bermain dengan tetangga di sekitar rumah, tidak pernah sekalipun saya di musuhi, diejek, dihina oleh teman teman saya yang beragama Islam atau mayoritas. Dan juga setiap lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, tetangga saya sering memberikan makanan buat keluarga saya, makanan seperti ketupat, daging kambing, Rendang, opor ayam dan kue kue lebaran. Saya sangat menikmati toleransi dan keakraban ber tetangga walaupun kita berbeda agama dan suku.
Berdasarkan pengalaman dan romantisme itu maka saya sangat terusik dan gusar jika ada yang mengatakan Islam itu garis keras, intoleran, Islam itu tidak menghargai minoritas, membenci non muslim dan sebagainya.
Belum lagi beberapa pertanyaan yang sering muncul dari teman-teman saya yang non muslim, emang lu gak liat tuh bom Bali, bom Thamrin, pembakaran gereja, pengusiran ibadah, perang agama di Maluku, ISIS, dan sebagainya. Apa jawaban saya? Itu hanya setitik debu dari luasnya padang pasir. Artinya hanya segelintur saja dari banyaknya toleransi yang mereka lakukan. Itupun kalo mau ditelusuri lebih lanjut, mereka semua bukan Islam yang taat mempelajari dan mempraktekkan apa yang diajaran oleh agama Islam.
Setelah lulus Sekolah menengah pertama, saya melanjutkan studi saya ke Manado, daerah yang mayoritas Kristen disana. Setelah sekitar 7 tahun saya di Manado, saya balik ke Jakarta untuk bekerja dan berkarir. Stigma Islam radikal dan intoleran itu masih sering muncul. Bahkan dari beberapa orang Islam itu sendiri.
Untuk itulah saya memutuskan hadir dan mengikuti serangkaian acara reuni 212 di tahun 2018 untuk memastikan apakah kenangan dan pengalaman saya 7-8 tahun yang lalu masih berlaku. Saya pergi kesana tidak menyamar dengan memakai peci ataupun atribut atribut Islami, saya hadir dengan baju merah dan mata sipit saya (hehe). Ada beberapa teman saya memperingatkan saya untuk tidak hadir untuk alasan keselamatan. Saya tidak peduli, saya ingin buktikan bahwa apa yang saya alami masih berlaku sampai sekarang.
Sepanjang perjalanan saya bertemu ribuan orang yang lalu lalang disekitar area Monas. Saya pikir saya akan di lihat dengan aneh, dan tatapan sadis, ternyata justu sebaliknya mereka senyum dan menyapa saya dengan hangat. Ada beberapa bahkan yang memberi saya minum karena melihat saya kehausan. Setelah acara tersebut saya nge tweet dan responnya sungguh diluar dugaan, banyak sekali yang retweet dan like bahkan ada beberapa media online yang menuliskan beritanya (https://www.portal-islam.id/2018/12/datang-ke-reuni-akbar-212-tanpa.html?m=1)
Itulah toleransi yang sesungguhnya, itulah Islam sesungguhnya yang saya kenal. Islam yang Rahmatan lil alamin. Seperti kata Ustad Abdul Somad, “walaupun kita tidak saudara seiman tetapi kita tetap saudara sebangsa dan setanah air”.
Ayolah hentikan Islamophobia. Daripada saling memberi cap kelompok ini radikal kelompok ini intoleran, kelompok ini Pancasilais kelompok ini Khilafah itu justru yang membuat kita terpecah belah sebagai bangsa.
Saya pribadi sangat menyayangkan apa yang disampaikan Prof Mahfud MD. Beliau justru memecah belah ditengah kerukunan dan toleransi di Indonesia. Bukankah perbedaan itu indah? Bukankah perbedaan itu anugrah. Yang penting bukanlah perbedaan itu sendiri tetapi yang paling penting itu adalah didalam perbedaan kita saling menghargai dan menghormati. Balik lagi ke judul artikel ini, jika ada pertanyaan yg mengatakan Islam itu radikal. Dengan tegas dan gamblang saya mengatakan TIDAK.
Salam hangat dan persaudaraan dari saya.
David Fong
Disclaimer: Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.






