KN-PYONGYANG, Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, mengeluarkan pernyataan provokatif yang mengguncang panggung geopolitik global. Pyongyang secara resmi menyatakan kesiapannya untuk memasok persenjataan rudal ke Teheran guna menghadapi agresi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Dalam peringatan kerasnya, Kim Jong-un menegaskan kekuatan destruktif alutsista militer miliknya. “Satu rudal saja cukup untuk melenyapkan Israel,” lapor analisis yang dikutip dari The Diplomat, Kamis (5/3/2026).
Pergeseran Drastis Diplomasi Pyongyang
Pernyataan ini menandai perubahan nada bicara Pyongyang yang sangat kontras. Padahal, hanya dua minggu sebelumnya dalam Kongres Partai Buruh Korea, Kim Jong-un sempat mengisyaratkan keterbukaan untuk berdialog dengan Presiden AS, Donald Trump.
Namun, serangan AS-Israel terhadap wilayah Iran pada akhir Februari lalu tampaknya telah menutup pintu diplomasi tersebut. Kurang dari 24 jam setelah agresi dimulai, Kementerian Luar Negeri
Korea Utara langsung merilis poin-poin kecaman
Menilai serangan tersebut sebagai tindakan agresi ilegal yang paling berat terhadap kedaulatan Iran.
Agresi tersebut sebagai buah dari perilaku hegemonik Amerika Serikat di Timur Tengah.
Korea Utara mengutuk penyalahgunaan kekuatan militer yang melanggar norma internasional.
Amerika memainkan peran destruktif dalam meruntuhkan stabilitas global selama setahun terakhir.
Pengamat militer menilai langkah Korea Utara ini bukan sekadar retorika solidaritas, melainkan strategi untuk memperkuat posisi tawarnya di hadapan Rusia dan dunia Barat.
Selama ini Iran dan Korut adalah pemasok utama drone dan amunisi bagi Rusia di Ukraina. Jika Iran terfokus pada perang domestik, Korea Utara berpotensi mengambil alih peran utama sebagai pemasok tunggal bagi Moskow, yang secara otomatis meningkatkan pengaruh Kim Jong-un terhadap Vladimir Putin.
Krisis ini juga menjadi ujian bagi perjanjian kemitraan strategis yang ditandatangani Iran (Januari 2025) dan Korut (Juni 2024) dengan Rusia. Hingga saat ini, Rusia dinilai hanya memberikan dukungan diplomatik tanpa bantuan militer konkret bagi Iran, sebuah fakta yang diperhatikan dengan saksama oleh Pyongyang.
Keterlibatan langsung Korea Utara dalam konflik Timur Tengah melalui pengiriman rudal diprediksi akan memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Para analis memperingatkan bahwa poros Pyongyang-Teheran-Moskow kini berada pada titik krusial yang dapat mengubah peta keamanan dunia secara permanen.








