KN-SEMARANG, Aliansi BEM SI Jawa Tengah menilai melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS sebagai alarm bahaya nyata yang mengancam stabilitas ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat kecil.
Merespons kondisi kritis ini, belasan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah di Semarang. Dipimpin oleh koordinator aksi Kevin Kurnia Priambodo, mahasiswa melakukan aksi simbolis seperti membakar uang mainan, menabur bunga, hingga menyegel gerbang kantor BI sebagai kritik tajam bagi penentu kebijakan moneter.
Alasan Mahasiswa Menyebutnya “Alarm Bahaya”Menurut kajian para mahasiswa, kejatuhan nilai mata uang rupiah ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan membawa efek domino yang berbahaya:
Harga barang impor dan bahan baku akan meroket, memicu kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Defisit APBN berisiko melebar karena tingginya biaya impor dan subsidi, seperti pada sektor BBM.
Biaya produksi industri dalam negeri meningkat tajam sehingga dapat memicu badai pemutusan hubungan kerja.
Masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terpukul karena pendapatan tidak sejalan dengan harga barang yang mahal.
Mahasiswa memberikan ultimatum selama 18 hari kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah nyata dalam menstabilkan ekonomi nasional. Angka 18 hari tersebut sengaja dipilih sebagai simbol keprihatinan atas kurs rupiah yang menyentuh angka 18 ribu.







