PILPRES 2019 DAN PERANG DI BELAKANG LAYAR

Foto: Ilustrasi, sumber foto: Riauonline.co.id

Oleh : Abdul Madjid

Stramed, Prabowo Subianto menunjukkan patriotismenya dengan mengakui kemenangan rival politiknya, Joko Widodo. Bahkan, Prabowo menyatakan akan mendukung program-program Jokowi. Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu rupanya lebih memilih kepentingan Negara ketimbang mengikuti bisikan para pendukungnya. Jiwa Sapta Marga masih melekat di jiwa Sang Jenderal. NKRI Harga Mati, demikian sikap militan TNI dan Polri.

Ada hal menarik di balik rekonsiliasi Prabowo Subianto-Joko Widodo itu. Seperti kata pepatah kuno “Air tidak akan menyatu dengan minyak”.

Begitulah yang terjadi pasca rekonsiliasi. Air sudah terpisah dari minyak. Kelompok yang selama tahun politik seakan-akan menjadi pendukung militan Prabowo, ternyata menampakkan jati dirinya. Mereka ternyata bukan pendukung yang sebenarnya. Mereka adalah kelompok yang memanfaatkan Prabowo untuk “merebut” kekuasaan dan kemudian merekalah yang akan mengendalikan Prabowo.

Hal itu terkonfirmasi dari sikap mereka yang tidak mendukung rekonsiliasi Prabowo-Jokowi. Jika mereka memang pendukung sejati Prabowo Subianto, tentu mereka akan mengikuti sikap politik Prabowo. Nyatanya mereka punya sikap sendiri. Mereka tidak ikhlas dengan rekonsiliasi. Kelompok ini tetap menginginkan Indonesia gonjang-ganjing, panas, dan terpecah-belah. Apakah tujuan mereka sebenarnya?

Kita patut bertanya tentang komitmen mereka terhadap Bangsa dan Negara ini. Jika mereka punya iktikat baik terhadap Negeri ini, tentu mereka juga mendukung rekonsiliasi. Jika mereka memang Islam sejati, yang mengikuti ajaran Rasululullah Saw., tentu mereka akan mengutamakan perdamaian dan kerukunan Bangsa. Nyatanya mereka masih memelihara pertentangan dengan tetap menyebar konten-konten anti-pemerintah dan anti-Islam moderat.

Pihak Kepolisian mengatakan bahwa pasca rekonsiliasi Prabowo Subianto dan Joko Widodo, konten-konten berbau memecah-belah persatuan dan anti-pemerntah serta berita-berita hoax masih berseliweran di jagat media sosial. Menurut Polri tidak ada penurunan intensitas berita hoax dan konten provokatif bernuansa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Bertolak dari kondisi tersebut, menurut pendapat pribadi saya, sesungguhnya di balik Pilpres 2019, terjadi “perang” antara kelompok Islam Garis Keras melawan Islam Moderat, meskipun tidak secara terbuka. Peperangan ini terjadi secara laten, namun sangat terasa suhunya. Pihak Garis Keras sangat agresif melakukan serangan. Sementara pihak Moderat memilih sikap defensif. Bertahan dan menangkis serangan yang datang.

Pihak Garis Keras ini sangat bernafsu ingin merebut kekuasaan negara. Bahkan, dengan segala cara. Awalnya mereka berjuang melalui jalur politik. Setelah berkali-kali gagal merebut “panggung”, mereka mulai bermain di dua medan: politik dan provokasi dan serangan-serangan menggunakan dalil-dalil agama. Untuk melemahkan lawannya di mata umat mereka tak segan-segan menebar fitnah. Contohnya, menuduh kalangan NU sebagai Syiah, penganut bid’ah dll.

*) Pemerhati politik.

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Related Posts

15 Januari………buruh unjuk rasa lagi

KN. Buruh kembali aksi di DPR RI dan Kemnaker RI pada 15 Januari 2026 dengan membawa 4 tuntutan, selain tuntutan upah minimum juga menolak pilkada dipilih melalui DPRD yang akan…

KASAU AKABRI ’73 BEDA PENDAPAT. “KEGENTINGAN NEGARA AKIBAT UUD 2002 LEBIH DAHSYAT DARIPADA KEGENTINGAN DI TAHUN 1959 !”

KN. Kebebasan berpendapat salah satu ciri demokrasi, tetapi tunduk kepada Per-UU-an, Norma, Kaidah, dan Adat istiadat. Pembukaan UUD 1945 sebagai staatsfundamentalnorm merupakan norma tidak bisa ditawar-tawar!. “Living Constitution” dambaan negara…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *