KN-MADINAH, Melalui kesaksian ‘Aisyah RA., terungkap momen-momen intim dan penuh haru mengenai bagaimana Rasulullah SAW menjalani hari-hari terakhirnya. Riwayat ini mengisahkan tentang perpaduan antara ikhtiar pengobatan melalui Al-Qur’an (Ruqyah) dan kepasrahan total kepada Sang Khalik.
Al-Mu’awwidzatayn: Benteng Suci di Tengah Rasa Sakit
’Aisyah RA menceritakan kebiasaan Rasulullah SAW saat tubuhnya merasa kurang sehat. Beliau senantiasa membaca dua surat, yaitu Surat Al-Falaq dan An-Nas.
”Beliau meniupkan napasnya sendiri, lalu mengusapkan kedua tangannya ke seluruh tubuh,” kenang ‘Aisyah RA.
Kalimat Terakhir: Doa Memohon Ampunan dan Pertemuan Agung
Momen paling menggetarkan terjadi saat Rasulullah SAW mengembuskan napas terakhirnya di pangkuan ‘Aisyah RA. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, ‘Aisyah RA masih sempat mendengar bisikan doa yang keluar dari lisan suci Sang Nabi.
Kalimat tersebut bukanlah keluhan atas rasa sakit, melainkan permohonan yang menunjukkan kerinduan mendalam kepada Allah SWT:
“Ya Allah! Ampunilah aku dan limpahkan kasih sayang-Mu kepadaku, serta izinkanlah aku menemui Kekasih Yang Maha Tinggi (Ar-Rafiq Al-A’la).”
Kalimat ini menjadi saksi bahwa bagi Rasulullah SAW, kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan sebuah pintu menuju pertemuan dengan “Kekasih Yang Maha Tinggi”.
Hikmah bagi Umat:
- Keutamaan Al-Qur’an sebagai Syifa (Obat): Rasulullah SAW membaca Al-Falaq dan An-Nas saat sakit mengajarkan umatnya untuk selalu kembali kepada Allah dalam kondisi sulit.
- Pentingnya Husnul Khatimah: Doa terakhir Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa memohon ampunan dan rahmat Allah hingga hembusan napas terakhir.
- Kemuliaan Sosok Istri: Kedekatan ‘Aisyah RA yang merawat dan mendampingi Rasulullah SAW hingga akhir hayat menunjukkan besarnya peran dan kasih sayang dalam rumah tangga Nabi.








