33 Tahun Wafatnya Marsinah: Koalisi Sipil dan Buruh Gelar Konferensi Pers di Depan PT Amos Indah Indonesia

KN-JAKARTA – Memperingati 33 tahun wafatnya aktivis buruh Marsinah, aliansi Suara Marsinah bersama berbagai organisasi serikat buruh, petani, dan mahasiswa menggelar konferensi pers di depan gerbang PT Amos Indah Indonesia, KBN Cakung, Jakarta Utara, pada Jumat (8/5/2026).

​Aksi ini tidak hanya menjadi momentum refleksi atas perjuangan Marsinah yang gugur pada 1993, tetapi juga menjadi panggung tuntutan atas berbagai kasus ketenagakerjaan yang masih terjadi saat ini, khususnya konflik yang menimpa 134 buruh di PT Amos Indah Indonesia.

Negara Diminta Tegas, Bukan Sekadar Seremonial

​Sekretaris Suara Marsinah, Elza Yulianti, menegaskan bahwa penghormatan terhadap Marsinah tidak boleh berhenti pada pemberian gelar pahlawan atau piagam di museum.

​”Negara harus hadir dengan instrumen yang tajam, bukan sekadar surat edaran. Kami mendesak pemerintah segera menuntaskan kasus di PT Amos Indah Indonesia dan memastikan 134 buruh mendapatkan kepastian status kerja tanpa ancaman PHK terselubung atau union busting,” tegas Elza.

​Senada dengan itu, Wakil Presiden Partai Buruh Bidang Perempuan, Jumisih, mengingatkan kembali kekejaman yang dialami Marsinah di masa lalu sebagai pengingat bahwa kejahatan HAM terhadap buruh harus dituntaskan secara hukum. Meski pemerintah telah memberikan gelar pahlawan kepada Marsinah pada 10 November 2025, Jumisih menekankan bahwa perlindungan nyata bagi “Marsinah masa kini”—seperti para buruh PT Amos yang telah melakukan protes selama dua bulan—jauh lebih penting.

Solidaritas Lintas Sektor: Dari Desa ke Kota

​Konferensi pers ini juga dihadiri oleh perwakilan berbagai elemen:

  • Endang (Serikat Petani Indonesia): Menyoroti keterkaitan antara kemiskinan di desa dan politik upah murah di kota. Ia menyerukan pentingnya reforma agraria agar warga desa tidak terpaksa lari ke kota dan menjadi buruh yang rentan dieksploitasi.
  • Diamalisa (Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi): Menyebut Marsinah sebagai simbol perlawanan terhadap sistem kapitalisme dan patriarki yang menindas buruh perempuan.
  • Susan Purba (FSP Pulp Indonesia): Menyatakan komitmen untuk menggalang solidaritas lintas federasi demi mendukung perjuangan buruh PT Amos.
  • Endah (Suara Marsinah): Mengingatkan bahwa perjuangan buruh adalah jalan panjang. Ia mencontohkan kasus buruh PT KAI yang telah berjuang selama 8 tahun dan menekankan pentingnya ratifikasi Konvensi ILO 190 untuk menghapus kekerasan serta pelecehan di dunia kerja.

Tuntutan Utama

​Dalam pernyataan penutupnya, para orator mendesak Kementerian Ketenagakerjaan dan Disnaker DKI Jakarta untuk:

  1. ​Menuntaskan kasus hukum dan pemenuhan hak buruh PT Amos Indah Indonesia secara transparan.
  2. ​Menghentikan praktik intimidasi korporat dan diskriminasi terhadap pekerja perempuan.
  3. ​Menjamin perlindungan bagi buruh yang berserikat sesuai amanat konstitusi.

​”Marsinah tidak mati, ia tetap hidup dalam setiap keberanian buruh yang menuntut keadilan hari ini,” pungkas para pekerja perempuan.

HIDUP BURUH…

Related Posts

Indonesia’s economic situation

KN. The rupiah exchange rate plummeted, breaching IDR17,500 per U.S. dollar during intraday trading. This marked a 0.37 percent depreciation for the rupiah compared to the previous day’s close of…

Kesepakatan ART Mengancam Kedaulatan Bangsa dan Bertentangan dengan Amanat Konstitusi

KN-Jakarta, 13 Mei 2026 – Hasil kajian mendalam Regulatory Impact Assessment (RIA) terhadap perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan adanya risiko besar yang mengancam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *