Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia di Tengah Penanganan Bencana Nasional Jadi Sorotan ​

KN-VLADIVOSTOK — Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Vladivostok, Federasi Rusia, pada Rabu, 2 September 2026.

Lawatan internasional ini menuai sorotan lantaran berlangsung di tengah penanganan bencana alam gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum usai di berbagai wilayah Indonesia.

Prabowo mendarat di Bandar Udara Internasional Vladivostok pada pukul 10.45 waktu setempat untuk menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang diselenggarakan di Far Eastern Federal University.
​Memenuhi Undangan Vladimir Putin dan Agenda Ekonomi

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa kehadiran Prabowo di forum tersebut merupakan undangan langsung dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan utama dalam agenda tahunan tersebut.

“Setelah pada tahun lalu hadir dalam St. Petersburg International Economic Forum,” kata Teddy dalam keterangannya, Rabu, 2 September 2026.

Selain menghadiri forum, Prabowo dijadwalkan mendorong kerja sama bilateral di berbagai sektor strategis, seperti: Ekonomi dan perdagangan
​Investasi Energi
​Teddy mengklaim bahwa Rusia memandang Indonesia sebagai mitra utama dan strategis di kawasan Asia-Pasifik, anggota ASEAN yang dihormati, serta representasi penting Global South dan dunia muslim.

Kunjungan ini tercatat sebagai lawatan keempat Prabowo ke Rusia sejak menjabat sebagai presiden.

Sebelumnya, Prabowo sempat bertolak ke Kremlin pada 13 April 2026. Rencana kunjungannya pada Juni 2026 untuk KTT Rusia-ASEAN di Kazan sempat dibatalkan karena pemerintah berfokus menyelesaikan dinamika dalam negeri, termasuk gelombang unjuk rasa terkait kasus korupsi di Badan Gizi Nasional.

Kondisi Bencana di Dalam Negeri
​Lawatan ke luar negeri ini berlangsung ketika sejumlah daerah di Indonesia masih berjuang menghadapi dampak bencana.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 2 September 2026:
Gempa Bumi NTT: Gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, telah menewaskan 127 orang dan menyebabkan 195.372 orang masih berada di pengungsian.

Karhutla: Sepanjang Agustus hingga 2 September 2026, luasan lahan terbakar mencapai 73.310,89 hektare. Dalam 24 jam terakhir, BNPB mendeteksi 6.019 titik panas (hotspot) dan 157 titik api.

Sebelum berangkat ke Vladivostok, Prabowo sempat meninjau titik bencana di Kalimantan pada 22 Agustus, Sumatra pada 24 Agustus, serta NTT pada 26 Agustus untuk memimpin rapat penanganan secara langsung.

Kritik Pengamat: Urgensi Diplomasi vs Skala Prioritas
​Kunjungan Presiden ke luar negeri di masa tanggap darurat bencana memicu tanggapan kritis dari sejumlah pakar kebijakan publik dan hubungan internasional.

Kebijakan Efisiensi Anggaran dan Dampak Bencana
​Direktur Eksekutif Center for Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai kunjungan ini menjadi sorotan karena kinerja penanganan bencana yang dinilai belum optimal.

Bhima menyoroti dampak pemotongan anggaran pada lembaga-lembaga teknis penanganan bencana seperti BNPB, Basarnas, dan BMKG.

“Pada kenyataannya, penanganan bencana belum benar. Kebakaran hutan dan lahan meluas, evakuasi belum optimal, dan tidak ada penetapan status bencana nasional,” tutur Bhima.

Ia menambahkan, meski diplomasi ini mungkin membawa agenda pencarian pasokan energi di tengah gejolak Timur Tengah, intensitas perjalanan luar negeri yang tinggi di tengah krisis domestik tetap menjadi persoalan.

Arah Politik Luar Negeri dan Komunikasi Publik
​Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Muhammad Waffaa Kharisma, menilai pemerintah belum berhasil menjelaskan urgensi utama dari kunjungan kali ini kepada publik. Menurutnya, EEF secara historis merupakan forum Rusia untuk menarik investasi ke negaranya, bukan agenda khusus untuk kepentingan Indonesia.
​, “Bebas dan aktif itu soal memutuskan kebijakan luar negeri yang paling pas, paling appropriate, untuk kepentingan nasional kita. Kalau berlebihan hanya untuk meng-entertain undangan, enggak ada gunanya,” ujar Waffaa.

Waffaa menduga adanya jarak persepsi antara tim di lapangan dan Presiden terkait urgensi serta prioritas penanganan bencana di Tanah Air, sehingga informasi yang masuk tidak menggambarkan kondisi krusial yang membutuhkan kehadiran Kepala Negara di dalam negeri.

 

Foto: Presiden Prabowo menghadiri jamuan makan siang bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok, Rusia. (YouTube Setpres)

Related Posts

PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO BERPIDATO DI ESTERN ECONOMIC FORUM (EEF) DI VLADIVOSTOK

KN-Vladivostok,  Hari ini tgl 03 September 2026 Presiden Prabowo Subianto jadi Tamu Kehormatan Utama di Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok, Rusia ​Yang dibicarakan beliau di Pleno EEF 2026 :…

President’s Visit to Russia amid forest and land fires in Indonesia

KN. President Prabowo departed Jakarta for Vladivostok, Russia, on September 1 to attend the 11th Eastern Economic Forum (EEF) at the invitation of Russian President Vladimir Putin, who designated him…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *