KN-JAKARTA — Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin memperingatkan potensi ancaman kemiskinan yang lebih besar bagi Indonesia pada 2027 dalam kategorinya sebagai middle income class. Berdasarkan kriteria pengeluaran Bank Dunia (World Bank), sebanyak 64 persen penduduk Indonesia tergolong miskin, sangat jauh dibanding data Badan Pusat Statistik (BPS) yang berada di kisaran 8 hingga 9 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan Ferry melalui kanal YouTube pribadinya pada Rabu (9/9/2026). Ia menjelaskan bahwa perbedaan angka yang sangat kontras ini terjadi karena perbedaan pendekatan pengukuran yang digunakan.
“Menurut World Bank tahun depan, Indonesia ini menjadi negara termiskin di dunia di dalam kelasnya sebagai middle income class,” ungkap Ferry.
Ferry menilai ukuran berbasis pengeluaran dari Bank Dunia ini lebih mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang terlihat langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut erat kaitannya dengan struktur pendapatan dan peta ketenagakerjaan nasional.
Berdasarkan data yang disorotinya, porsi tenaga kerja di sektor formal saat ini hanya berkisar 40 persen. Sementara itu, mayoritas sebesar 60 persen tenaga kerja berada di sektor informal.
“Kalau memang itu bisa dibenarkan, mungkin kita bisa pakai data selanjutnya itu bahwa buruh atau tenaga total dari tenaga kerja kita yang bekerja di sektor formal itu cuma 40%, Baraya. 60% itu berada di sektor informal,” tegasnya.
Tingginya dominasi pekerja di sektor informal ini menjadi perhatian khusus. Menurutnya, besarnya porsi sektor informal berbanding lurus dengan tingkat ketidakpastian pendapatan harian yang dialami oleh mayoritas masyarakat Indonesia.
Sumber: Listrik Indonesia
Foto: Ferry Latuhihin (Tangkapan layar YouTube Rhenald Kasali)







