“Perubahan karakter tidak cukup hanya melalui pengalaman spiritual dalam waktu tertentu. Nilai-nilai yang diperoleh selama suluk perlu terus dijaga melalui wirid, muhasabah, pengajian, pendampingan, dan pengawasan agar menjadi kebiasaan yang menetap.”
BANDA ACEH – Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis karakter di era modern, tradisi pendidikan dayah ternyata menyimpan model pembinaan akhlak yang masih relevan hingga hari ini. Gagasan itulah yang mengantarkan dosen dan penulis freelance asal Aceh, Helmi Abu Bakar, meraih gelar doktor pada Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh melalui disertasi yang mengkaji praktik suluk di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Dalam sidang promosi doktor yang berlangsung di UIN Ar-Raniry, Tgk Helmi sapaan akrab Helmi Abu Bakar berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Suluk dan Pendidikan Karakter: Studi Praktik Suluk Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga Aceh.” Penelitian tersebut menawarkan perspektif baru tentang suluk yang selama ini lebih banyak dipahami sebagai praktik spiritual individual dalam tradisi tarekat.
Melalui penelitian lapangan yang mendalam, Helmi menemukan bahwa suluk di Dayah MUDI tidak hanya berfungsi sebagai amaliah kerohanian, tetapi juga merupakan sistem pendidikan karakter yang terstruktur, terarah, dan terlembaga. Praktik tersebut memadukan pembinaan lahiriah dan batiniah dalam satu proses pendidikan yang berkelanjutan.
“Selama ini suluk lebih sering dipahami sebagai praktik spiritual individual. Padahal, di Dayah MUDI, suluk memiliki unsur-unsur pendidikan yang lengkap, mulai dari tujuan, materi, metode, pembimbing, aturan, hingga evaluasi,” kata Tgk Helmi usai sidang promosi doktor.
Sidang promosi doktor tersebut dipimpin Prof. Dr. Nazaruddin A. Wahid, M.A. sebagai ketua sidang dan didampingi Dr. Silahuddin, M.Ag. sebagai sekretaris sidang. Adapun dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Misri A. Muchsin, M.Ag., Dr. Marzuki, M.Si., Faishal Zakaria, M.A., Ph.D., Dr. Sehat Ihsan Shadiqin, M.Ag., dan Prof. Dr. Syabuddin Gade, M.Ag.
Dalam penelitiannya, Helmi mengungkapkan bahwa para salik tidak hanya dibimbing menjalankan zikir dan berbagai amaliah spiritual, tetapi juga dilatih membangun kedisiplinan melalui penjagaan wudu, salat berjemaah, puasa, pengendalian lisan, pengelolaan emosi, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku selama proses suluk.
Menurutnya, perpaduan antara disiplin lahiriah dan pembinaan batiniah tersebut menjadikan suluk sebagai media pembentukan karakter yang efektif. Nilai-nilai seperti keikhlasan, kesabaran, pengendalian diri, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dibangun melalui proses pembiasaan yang berlangsung secara intensif.
Salah satu temuan penting dalam disertasinya adalah keberadaan Lembaga Pengembangan Dzikir dan Tarekat (LPDT) MUDI Samalanga yang mengelola pelaksanaan suluk secara organisatoris. Keberadaan lembaga tersebut menunjukkan bahwa suluk tidak hanya bertumpu pada hubungan personal antara guru dan murid, tetapi telah berkembang menjadi sistem pendidikan yang memiliki tata kelola yang jelas.
LPDT mengatur pelaksanaan suluk mulai dari penentuan jadwal, pembagian peran pembimbing, pedoman amaliah, tata tertib, hingga mekanisme pengawasan dan evaluasi. Temuan ini menjadi salah satu kebaruan penelitian yang membedakan praktik suluk di Dayah MUDI dari sejumlah kajian suluk sebelumnya.
Dalam analisisnya, Helmi juga mendialogkan konsep pendidikan tasawuf yang dikembangkan Imam Al-Ghazali dengan teori pendidikan karakter Thomas Lickona serta teori kecerdasan emosional Daniel Goleman. Dialog teoritis tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang berkembang dalam tradisi dayah memiliki relevansi dengan berbagai teori pendidikan modern.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa suluk berkontribusi terhadap pembentukan karakter peserta, terutama dalam aspek kedisiplinan beribadah, pengendalian emosi, kesabaran, keikhlasan, penghormatan kepada guru, kepatuhan terhadap aturan, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan sosial.
Meski demikian, Helmi menegaskan bahwa perubahan karakter tidak terjadi secara instan maupun seragam pada setiap peserta. Transformasi karakter merupakan proses bertahap yang dipengaruhi oleh lingkungan, pembiasaan, serta pembinaan yang berkelanjutan setelah pelaksanaan suluk berakhir.
“Perubahan karakter tidak cukup hanya melalui pengalaman spiritual dalam waktu tertentu. Nilai-nilai yang diperoleh selama suluk perlu terus dijaga melalui wirid, muhasabah, pengajian, pendampingan, dan pengawasan agar menjadi kebiasaan yang menetap,” ujarnya.
Selain aktif sebagai dosen di Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Helmi juga dikenal sebagai penulis dan jurnalis freelance yang kerap mengirimkan tulisan ke berbagai media lokal maupun nasional. Melalui aktivitas literasi tersebut, ia konsisten mengangkat isu-isu keislaman, pendidikan dayah, sosial kemasyarakatan, serta pengembangan tradisi intelektual di Aceh.
Keberhasilan meraih gelar doktor mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk H. Faisal Ali atau Abu Sibreh. Menurutnya, capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi masyarakat dayah dan Nahdliyin di Aceh karena menunjukkan bahwa tradisi keilmuan dayah tetap mampu melahirkan karya akademik yang relevan dengan kebutuhan zaman.
“Tradisi dayah memiliki kekayaan ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai pendidikan yang sangat besar. Kekayaan itu perlu terus diteliti, ditulis, dan disebarluaskan agar menjadi warisan keilmuan bagi generasi mendatang,” kata Abu Sibreh.
Bagi Tgk Helmi, disertasi tersebut bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan upaya menghadirkan kembali khazanah pendidikan karakter yang tumbuh dalam tradisi dayah ke ruang diskusi akademik yang lebih luas. Di tengah berbagai tantangan moral dan sosial yang dihadapi masyarakat modern, ia meyakini nilai-nilai yang hidup dalam suluk masih memiliki relevansi sebagai bagian dari ikhtiar membangun manusia yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas.





