KN. Presiden Donald Trump mengumumkan darurat ekonomi nasional dan mengklaim bahwa Amerika Serikat sudah diperlakukan dengan buruk oleh negara-negara asing.
Dalam pernyataan pada Kamis (3/4) waktu Indonesia, Trump menyebut negara-negara asing senang menjual barang ke AS tapi menggunakan batasan perdagangan untuk membuat barang produksi AS tidak menarik dan tidak kompetitif.
Dalam pernyataan tersebut, Trump juga menyinggung telah menandatangani memorandum kebijakan perdagangan yang menginvestigasi penyebab AS mengalami defisit perdagangan barang tahunan “yang besar dan terus-menerus.”
“Termasuk implikasi dan risiko ekonomi dan keamanan nasional yang diakibatkan oleh defisit tersebut, dan untuk melakukan peninjauan dan mengidentifikasi praktik perdagangan tidak adil yang dilakukan negara lain,” kata Trump.
Selain itu, ia juga menandatangani memorandum Perdagangan Timbal Balik dan Tarif pada 13 Februari 2025 yang akan meninjau lebih lanjut terkait perdagangan non timbal balik dan mencatat “mencatat hubungan antara praktik non-timbal balik dan defisit perdagangan.”
“Pada tanggal 1 April 2025, saya menerima hasil akhir investigasi tersebut, dan saya mengambil tindakan hari ini berdasarkan hasil tersebut.” kata Trump.
Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengungkapkan, kebijakan tarif yang diterapkan oleh AS memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian, khususnya bagi eksportir. Indonesia turut menjadi salah satu negara yang terkena dampak kebijakan tarif bea masuk yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Dalam daftar 180 negara yang dikenai tarif bea masuk, AS akan mengenakan tarif impor sebesar 32 persen untuk Indonesia.
Yukki bilang, Indonesia juga memiliki peluang untuk memanfaatkan peluang yang muncul dari kebijakan tersebut, termasuk menjadikan Indonesia sebagai centre of supply chain (pusat kegiatan rantai pasok).
Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah dan pelaku industri perlu menjaga stabilitas agar dampak negatif dari kebijakan ini dapat diminimalisir. Yukki mengingatkan pemerintah dan dunia usaha perlu mewaspadai dampak yang mungkin timbul akibat kebijakan tarif Trump ini, termasuk kemungkinan diberlakukannya tarif tambahan.
Selain itu, pemerintah juga harus memperhitungkan potensi dampak dari produk ekspor China yang akan mencari pasar baru, termasuk Indonesia, setelah kebijakan tarif impor AS diterapkan. Hal ini berpotensi menyebabkan banjir impor produk China ke Indonesia dengan harga yang lebih kompetitif.
Namun, di balik tantangan tersebut, menurut Yukki, ada peluang besar bagi Indonesia, khususnya dalam bisnis logistik dan supply chain (rantai pasok).
Pada tanggal 2 April 2025, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara resmi telah mengenakan tarif resiprokal kepada Indonesia sebesar 32% dari basis tarif sebesar 10% yang diterapkan AS kepada semua negara dan tarif yang dikenakan AS saat ini. Tarif resiprokal akan berlaku mulai 9 April 2025.
Pengenaan tarif resiprokal AS ini akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing ekspor Indonesia ke AS. Selama ini produk ekspor utama Indonesia di pasar AS antara lain adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, palm oil, karet, furnitur, udang dan produk-produk perikanan laut.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang PMenurutnya, Pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN) ditengah gejolak pasar keuangan global paska pengumuman tarif resiprokal AS.
Bersama Bank Indonesia, Pemerintah Indonesia juga terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan likuiditas valas tetap terjaga agar tetap mendukung kebutuhan pelaku dunia usaha serta memelihara stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Sejak awal tahun ini, Pemerintah Indonesia telah mempersiapkan berbagai strategi dan langkah untuk menghadapi penerapan tarif resiprokal AS dan melakukan negosiasi dengan Pemerintah AS. Tim lintas kementerian dan lembaga, perwakilan Indonesia di AS dan para pelaku usaha nasional telah berkoordinasi secara intensif untuk persiapan menghadapi tarif resiprokal AS.
Sebagai bagian dari negosiasi, Pemerintah Indonesia juga telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjawab permasalahan yang diangkat oleh Pemerintah AS, terutama yang disampaikan dalam laporan National Trade Estimate (NTE) 2025 yang diterbitkan US Trade Representative.
Ia menyatakan hal ini juga sejalan dalam upaya meningkatkan daya saing, menjaga kepercayaan pelaku pasar dan menarik investasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Langkah kebijakan strategis lainnya akan ditempuh untuk terus memperbaiki iklim investasi dan peningkatan pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja yang luas.
Indonesia telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku pemegang Keketuaan ASEAN untuk mengambil langkah bersama mengingat 10 negara ASEAN seluruhnya terdampak pengenaan tarif AS.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan kebijakan tarif baru impor ke AS pada Rabu (2/4) waktu setempat. Dalam daftar yang dirilis pemerintah AS, produk ekspor Indonesia ke AS dikenakan tarif imbal balik 32 persen.
Nilai itu belum termasuk tarif global 10 persen yang berlaku universal untuk semua barang yang masuk ke negeri Paman Sam itu.
Besaran tarif yang dikenakan untuk Indonesia tidak lepas dari defisit perdagangan AS ke RI yang mencapai belasan miliar dolar.
Berdasar data Kementerian Perdagangan RI, seperti diberitakan CNBC Indonesia, Indonesia mengalami surplus perdagangan 14,34 miliar dolar AS pada Januari-Desember 2024.
Jumlah itu lebih rendah dibanding catatan Badan Statistik AS sebesar US$17,9 miliar. Defisit itu menempatkan Indonesia menjadi negara ke-15 dengan defisit perdagangan terbesar bagi AS.
Defisit yang dialami Negeri Paman Sam itu terjadi karena AS menjadi primadona ekspor sejumlah produk IndonesiaBesaran tarif yang dikenakan untuk Indonesia tidak lepas dari defisit perdagangan AS ke RI yang mencapai belasan miliar dolar.
Berdasar data Kementerian Perdagangan RI, seperti diberitakan CNBC Indonesia, Indonesia mengalami surplus perdagangan 14,34 miliar dolar AS pada Januari-Desember 2024.
Jumlah itu lebih rendah dibanding catatan Badan Statistik AS sebesar US$17,9 miliar. Defisit itu menempatkan Indonesia menjadi negara ke-15 dengan defisit perdagangan terbesar bagi AS.
Defisit yang dialami Negeri Paman Sam itu terjadi karena AS menjadi primadona ekspor sejumlah produk Indonesia dari berbagai sektor.
Berikut daftar 10 produk ekspor RI ke AS berpotensi paling terdampak kebijakan tarif Trump.
1. Mesin dan perlengkapan elektrik: US$4,18 miliar
2. Pakaian dan aksesorinya (rajutan): US$2,48 miliar
3. Alas kaki: US$2,39 miliar
4. Pakaian dan aksesorinya (bukan rajutan): US$2,12 miliar
5. Lemak dan minyak hewani/nabati: US$1,78 miliar
6. Karet dan barang dari karet: US$1,685 miliar
7. Perabotan dan alat penerangan: US$1,432 miliar
8. Ikan dan udang: US$1,09 miliar
9. Mesin dan peralatan mekanis: US$1,01 miliar
10. Olahan dari daging dan ikan: US$788 juta
Indonesia menjadi salah satu negara yang dikenai tarif impor tinggi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pengumuman terbaru 2 April kemarin. Bahkan RI dikenai “hukuman” sebesar 32%.
Hal ini diumumkan seiring dengan konferensi pers Trump terkait tarif timbal balik AS (resiprokal), ke negara-negara yang dianggap memberi bea masuk tinggi ke barang Paman Sam. Tarif ini di luar tarif dasar yang diketok Trump di hari yang sama 10%.
1.Tarif Resiprokal Trump
Tarif tersebut merupakan tarif resiprokal Trump. Ini merujuk ke neraca perdagangan AS di mana negara yang surplus akan dikenakan tarif.
“Tarif timbal balik merupakan respons terhadap bea masuk dan hambatan non-tarif lainnya yang dikenakan pada barang-barang AS,” kata Trump.
2.RI Jadi Korban
Indonesia pun resmi menjadi korban perang dagang Trump. Dalam pengumuman sama, nama Indonesia masuk di antara negara-negara yang mendapat bea masuk tinggi selain 10%, bahkan dikenai tarif 32%.
“Indonesia, Malaysia, Kamboja… Oh coba lihat Kamboja 98%, kita akan membawanya ke 49%. Mereka mengambil keuntungan dari Amerika Serikat,” ujar Trump.
Belum tahu berapa persen total tarif yang akan dikenakan secara resmi. Namun dalam hitung-hitungan kasar, tarif yang dikenakan bisa mencapai 42%.
3.Penyebab RI Jadi Korban Trump
Jika dilihat dari perdagangan AS, neraca perdagangan Paman Sam dengan Indonesia saat ini negatif (defisit), artinya nilai impor AS dari RI lebih besar daripada nilai ekspor AS ke RI. Dari data Gedung Putih, nilainya minus US$ 18 miliar.
Selain itu, dari data tarif resiprokal yang diumumkan Trump, terlihat bahwa RI menerapkan tarif impor 64% ke barang AS. Namun ini juga termasuk “manipulasi mata uang” dan apa yang disebut Trump “trade barrier”.
Meski begitu, merujuk data Kementerian Perdagangan RI, Indonesia surplus perdagangan sebesar US$ 14,34 miliar pada Januari-Desember 2024. Defisit tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-15 dalam daftar negara dengan deficit perdagangan terbesar bagi Negeri Paman Sam.
AS adalah surga ekspor untuk produk tekstil dan rajutan. Selama puluhan tahun, AS menjadi pasar Utama produk jersey, rajutan, hingga sepatu.
Nilai ekspor minyak sawit juga melonjak dalam lima tahun terakhir. Produk lain yang diekspor dalam jumlah besar adalah udang dan ikan serta peralatan elektrik.
4.Kapan Berlaku
Seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara dengan syarat anonym mengatakan tarif 10% akan berlaku Sabtu, 5 April. Hukuman yang lebih tinggi lain, berlaku 9 April dan dikenakan ke 90% negara secara keseluruhan.
Hal sama juga dimuat AFP. Tarif baru Trump yang luas terhadap mitra dagang AS akan dimulai akhir pekan ini, dengan tarif yang lebih tinggi terhadap “pelanggar terburuk” akan mulai berlaku minggu depan.Selain itu, dari data tarif resiprokal yang diumumkan Trump, terlihat bahwa RI menerapkan tarif impor 64% ke barang AS. Namun ini juga termasuk “manipulasi mata uang” dan apa yang disebut Trump “trade barrier”.
Meski begitu, merujuk data Kementerian Perdagangan RI, Indonesia surplus perdagangan sebesar US$ 14,34 miliar pada Januari-Desember 2024. Defisit tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-15 dalam daftar negara dengan defisit perdagangan terbesar bagi Negeri Paman Sam.
AS adalah surga ekspor untuk produk tekstil dan rajutan. Selama puluhan tahun, AS menjadi pasar utama produk jersey, rajutan, hingga sepatu.
Nilai ekspor minyak sawit juga melonjak dalam lima tahun terakhir. Produk lain yang diekspor dalam jumlah besar adalah udang dan ikan serta peralatan elektrik.
4.Kapan Berlaku
Seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan tarif 10% akan berlaku Sabtu, 5 April. Hukuman yang lebih tinggi lain, berlaku 9 April dan dikenakan ke 90% negara secara keseluruhan.
Hal sama juga dimuat AFP. Tarif baru Trump yang luas terhadap mitra dagang AS akan dimulai akhir pekan ini, dengan tarif yang lebih tinggi terhadap “pelanggar terburuk” akan mulai berlaku minggu depan.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia merespons kebijakan tarif baru Amerika Serikat (AS) yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Kementerian Luar Negeri mengatakan tarif 32% dari Trump untuk barang dari RI memberikan dampak signifikan terhadap daya saing ekspor Indonesia ke AS.
“Pengenaan tarif resiprokal AS ini akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing ekspor Indonesia ke AS. Selama ini produk ekspor utama Indonesia di pasar AS antara lain adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, palm oil, karet, furnitur, udang dan produk-produk perikanan laut,” tulis keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI, Kamis (3/4/2025).
Pemerintah Indonesia saat ini tengah menghitung pengenaan tarif AS terhadap sektor-sektor tersebut. Pemerintah juga akan mengambil langkah strategis untuk memitigasi dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia.
Pemerintah bersama Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah buntut tarif AS tersebut. Pemerintah menegaskan terus berupa menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Harga minyak mentah di pasar spot ambruk pada hari ini usai Amerika Serikat (AS) mengumumkan tarif timbal balik terhadap mitra dagang.
Pada perdagangan hari ini, Kamis (03/04/2025) pukul 10.20 WIB, harga minyak brent anjlok 2,25% di posisi US$73,26 per barel. Begitu pula harga minyak WTI mengalami depresiasi 2,51% di posisi US$69,91 per barel dibandingkan perdagangan sebelumnya (02/04/2025).
Harga hari ini berbanding terbalik dengan perdagangan kemarin di mana brent menguat 0,62% dan WTI naik 0,72%.
Dilansir dari Reuters.com, harga minyak telah tertekan usai Presiden AS, Donald Trump mengumumkan tarif timbal balik terhadap mitra dagang, memicu kekhawatiran bahwa perang dagang global dapat melemahkan permintaan minyak mentah.
Trump menyebut tanggal 2 April sebagai “Hari Pembebasan”, dengan kebijakan tarif baru yang berpotensi mengguncang sistem perdagangan global.
Kedua harga acuan minyak (Brent dan WTI) sempat menguat di sesi sebelumnya, tetapi berbalik negatif selama konferensi pers Trump pada Rabu sore, di mana ia mengumumkan tarif dasar 10% pada semua impor ke AS serta tarif lebih tinggi untuk puluhan mitra dagang utama.
“Kita tahu ini akan berdampak negatif terhadap perdagangan, pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya pertumbuhan permintaan minyak. Tapi kita belum tahu seberapa parah dampaknya karena efeknya baru akan terasa dalam beberapa waktu ke depan.” Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas di SEB, kepada Reuters.
Meski demikian, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa impor minyak, gas, dan produk olahan energi dikecualikan dari kebijakan tarif baru Trump.
Kebijakan tarif ini tetap memicu kekhawatiran inflasi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatnya ketegangan perdagangan, semua faktor yang menekan harga minyak.
Sentimen bearish semakin diperkuat oleh data dari Energy Information Administration (EIA) pada Rabu, yang menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik secara mengejutkan sebesar 6,2 juta barel dalam seminggu terakhir, jauh berbeda dari perkiraan analis yang memperkirakan penurunan 2,1 juta barel.
Pasar obligasi Amerika Serikat menurun tajam pada hari ini ke level terendah, setelah pengumuman presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan tarif kebijakan impor baru yang lebih besar kepada banyak negara.
Adanya kebijakan tarif timbal balik dari Trump ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan perang dagang global, yang memicu larinya uang dari aset berisiko ke aset aman.
Melansir CNBC Indonesia, Kamis (3/4/2025), imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun turun 11 basis poin menjadi 4,085%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 2 tahun turun 9,5 basis poin dan diperdagangkan pada 3,809%.
Satu basis poin sama dengan 0,01%, dan imbal hasil dan harga bergerak ke arah yang berlawanan.
Trump telah menandatangani perintah eksekutif terkait penetapan rencana tarif impor baru ini, yang langsung direspons oleh investor. AS menetapkan tarif dasar sebesar 10% yang berlaku pada 5 April mendatang, juga adanya tarif timbal balik yang lebih tinggi ke ratusan negara.
“Kami akan mengenakan biaya kepada mereka sekitar setengah dari apa yang mereka kenakan kepada kami,” kata Trump dalam konferensi pers dari White House Rose Garden.
Trump menjelaskan gabungan tarif itu untuk membayar seluruh hambatan non-moneter hingga bentuk kecurangan lainnya.
Kepala investasi di UBS Global Wealth Management, Mark Haefele, melihat kebijakan ini ini akan mendorong perlambatan jangka pendek dalam ekonomi AS, dan mengurangi pertumbuhan tahun 2025 mendekati atau di bawah 1%.








