KN-REMBANG, JAWA TENGAH, Di bawah rintik gerimis yang membasahi Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, ratusan warga berkumpul di rumah joglo milik Joko Prianto, Kamis (23/3/2026). Mereka tidak sekadar merayakan Lebaran, melainkan menggelar Kupatan Kendeng, sebuah tradisi tahunan yang kini menjadi simbol perlawanan terhadap industri ekstraktif.
Tahun ini, tema yang diusung adalah Nyawiji Nolak Molo—Bersatu Menolak Malapetaka. “Molo” atau bencana yang dimaksud warga bukan sekadar takdir alam, melainkan dampak nyata dari keberadaan tambang dan pabrik semen yang telah beroperasi di jantung Pegunungan Kendeng sejak 2017.
Dampak Nyata: Dari Sumur Kering hingga Gagal Panen
Joko Prianto, Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), mengungkapkan bahwa warga kini hidup dalam kepungan krisis. Kerusakan batuan karst yang berfungsi sebagai penyerap air alami (CAT Watuputih) mengakibatkan debit air menurun drastis.
Krisis Air: Warga terpaksa memperdalam sumur hingga 10 meter. Dampak ini juga merembet ke pelanggan PDAM di wilayah Rembang lainnya.
Kesehatan: Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menghantui warga akibat debu dari mesin conveyor pabrik yang letaknya sangat dekat dengan pemukiman.
Ekonomi Pertanian: Dalam tiga tahun terakhir, warga mengalami gagal panen beruntun akibat polusi debu dan berkurangnya kesuburan tanah.
“Tambang dan pabrik semen ini tidak menyejahterakan kami sama sekali, justru bikin menderita,” tegas Joko.
Hitungan Kerugian: Rp35,9 Triliun Ditanggung Warga
Kekecewaan warga diperkuat oleh data dari Center of Economic and Law Studies (Celios). Peneliti Celios, Jaya Darmawan, memaparkan angka kerugian fantastis akibat operasional pabrik semen sejak 2014 hingga 2025 yang mencapai Rp35,9 triliun.
Jika dibagi rata, setiap penduduk Rembang (662.787 jiwa) seolah menanggung kerugian sebesar Rp541,7 juta. Rincian kerugian tahunan meliputi:
Hilangnya potensi air: Rp217,6 miliar.
Kerugian lahan sawah: Rp1,09 triliun.
Biaya kesehatan (ISPA): Rp63,9 miliar.
Kerugian fungsi ekologis (Hama & Karbon): Belasan miliar rupiah.
Angka kerugian ini jauh melampaui APBD Kabupaten Rembang 2025 yang hanya Rp2,01 triliun. “Artinya, negara pun ikut merugi, bukan hanya warga,” kata Jaya.
Di sisi lain, masa depan industri semen di Rembang tampak goyah. Sejak 2025, pabrik tersebut dilaporkan sering menghentikan operasional secara tidak teratur akibat lesunya permintaan semen nasional dan kompetisi ekspor.
Joko mengibaratkan operasional pabrik seperti “puasa senin-kamis”.
Menurutnya, secara bisnis industri ini sudah tidak sehat dan hanya membebani negara melalui BUMN, sehingga penutupan permanen adalah solusi paling logis sebelum kerusakan karst menjadi permanen.
Suara Perempuan Kendeng
Sukinah, salah satu “Kartini Kendeng” yang pernah melakukan aksi cor kaki di Istana Negara, menekankan bahwa perempuan adalah kelompok paling terdampak. Baginya, karst adalah penyangga hidup yang diwariskan leluhur.
“Kalau air habis, bagaimana ibu-ibu bisa mengurusi rumahnya? Anak-anak juga sulit tumbuh sehat jika tambang ini dibiarkan,” ujarnya lirih namun tegas. Meski pabrik sudah berdiri, perjuangan warga berhasil mempersempit lahan tambang dari 900 hektar menjadi sekitar 200-an hektar.
Harapan Melalui Kupatan
Acara yang diawali dengan tabuhan lesung oleh para petani perempuan ini diharapkan menjadi sarana rekonsiliasi. Lewat gunungan ketupat, warga yang sempat terbelah antara pendukung dan penolak pabrik diajak untuk kembali bersatu. Sebab, pada akhirnya, debu dan krisis air tidak memilih korban; baik penolak maupun pendukung, semuanya kini merasakan beban yang sama dari rusaknya ekosistem Kendeng.
(Sumber: Diolah dari laporan Triyo Handoko/Mongabay Indonesia)







