Memahami Deklarasi Istiqlal: Tantangan Kerukunan Umat Beragama dalam Menjunjung Kemanusiaan

KN. Memahami Deklarasi Istiqlal: Tantangan Kerukunan Umat Beragama dalam Menjunjung KemanusiaanProfessor Filologi dari Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Oman Fathurrahman, dalam acara webinar Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang mengangkat tema yang mengangkat tema “Deklarasi Istiqlal: Kolaborasi Umat Beragama untuk Kemanusiaan yang mengangkat tema “Deklarasi Istiqlal: Kolaborasi Umat Beragama untuk Kemanusiaan” menekankan bahwa kerukunan umat beragama itu saat ini tidak cukup hanya diproyeksikan untuk sekadar toleran, rukun, dan damai, tetapi juga harus diproyeksikan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat luhur kemanusiaan. Moderasi beragama dipahami sebagai cara pandang sikap dan praktik beragama dalam kehidupan bersama, dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan.
Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan. Oleh sebab itu, saya berharap ke depannya para pemuka agama tak hanya menyampaikan soal perdamaian dan kerukunan, namun juga menyebarluaskan berbagai ajaran soal kemanusiaan, jelas Professor Filologi, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Terlebih setelah adanya Deklarasi Istiqlal, yang mengajarkan berbagai nilai kemanusiaan, di mana Imam Besar Masjid Istiqlal yang kini juga menjabat Menteri Agama RI Nasaruddin Umar serta pemimpin tertinggi umat Katolik dunia Paus Fransiskus turut menyuarakan hal tersebut. Deklarasi Istiqlal harus ditindaklanjuti dengan interpretasi ajaran agama, agar seluruh umat beragama dapat menemukan solusi atas terjadinya berbagai masalah kemanusiaan seperti dehumanisasi dan kerusakan lingkungan. Mudah-mudahan Deklarasi Istiqlal dapat kita tindaklanjuti bersama dengan melakukan berbagai penafsiran-penafsiran yang juga dilakukan oleh tokoh-tokoh agama, terang Profesor Oman Fathurrahman.

Menurut Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI RD. Agustinus Heri Wibowo S.S. S.H. M.H menyampaikan pertama kali tanggal 24 Mei 2024, saya berkunjung ke Istiqlal untuk menyampaikan rencana kedatangan PAus dan disambut dengan ketulusan hati penuh persaudaraan dan kata kuncinya senafas apa pun agama, suku, ras dan golongannya kita itu senafas sebagai saudari-saudara se-kemanusiaan. Itu modal utama dalam dialog dan memajukan perdamaian global.

Maka menyangkut tema yang ditugaskan kepada saya, saya berangkat dari titik tolak pengetahuan dan pengalaman sejauh saya terlibat dalam kepanitiaan sebagai koordinator panitia KWI untuk acara interreligious meeting di Istiqlal pada tanggal 5 September 2024. Terkait beberapa hal saya sampaikan, dari perspektif hukum internasional, kunjungan Paus ke Indonesia merupakan perjalanankehormatan diplomatic untuk menjalin dan memelihara serta meningkatkan relasi bilateral untuk kepentingan bersama dan kepentingan dunia.

Dari perspektif Gereja Katolik, kunjungan Paus disebut perjalanan apostolik atau sebuah perjalanan kerasulan. Dimana Paus mengunjungi umat Tuhan dimana saja mereka berada, untuk mengenal hidup serta lingkungan mereka, mendengarkan mereka dan berbela rasa mendengarkan rasa bersama mereka sambil memberikan pesan-pesan iman penuh kasih sesuai dengan konteks kehidupan mereka.

Ketua Umum Persekutuan Gereja – gereja di Indonesia Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty menyampaikan kami mengamati dan mensyukuri bahwa di tengah berbagai krisis ini, berkembang kesadaran di dunia sekuler tentang pentingnya peran agama-agama untuk membangun perubahan perilaku yang dari yang pro-kematian menjadi pro-kehidupan.

Ini merupakan perkembangan menarik yang menempatkan agama-agama sebagai aktor dalam perubahan masyarakat dan peradaban kontemporer saat ini. Ini peluang bagi agama-agama untuk menggalang kerja sama secara konkret dan konstruktif, ujar Pdt. Jacklevyn.

Deklarasi Istiqlal yang turut disuarakan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal yang kini juga menjabat Menteri Agama RI Nasaruddin Umar serta pemimpin tertinggi umat Katolik dunia Paus Fransiskus menjadi salah satu aksi monumental untuk meneguhkan peran dan tanggung jawab agama sebagai pemulihan kebersihan, keutuhan, dan keseimbangan ekologis yang dinilai kian terdegradasi. Deklarasi Istiqlal menggaungkan kembali panggilan luhur agama-agama, sebagaimana yang telah dikumandangkan dalam deklarasi-deklarasi berwibawa sebelumnya seperti Deklarasi Persaudaraan Sedunia. Deklarasi Istiqlal harus diwujudkan oleh seluruh pihak, sebab peristiwa bersejarah itu memanggil umat beragama untuk menyatakan rasa solidaritas dalam kehidupan masyarakat yang sangat majemuk, di mana ada kelompok-kelompok yang terpinggirkan, terasingkan, dan tersingkirkan. Indonesia menjadi tempat pembelajaran yang luar biasa mengenai relasi antaragama, serta kerja sama agama-agama dalam pembangunan bangsa serta pengelolaan dalam masalah kontemporer saat ini, ungkap Ketua Umum PGI.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mendukung moderasi beragama di Indonesia. Peran itu bisa dilakukan oleh basis-basis di masyarakat dengan kearifan lokal yang dimiliki. Di basis-basis di masyarakat dalam kaitan dalam relasi antarumut, antaretnis dan lain-lain. Kita punya modal-modal sosial, kearifan lokal yang harus kita berdayakan, yang harus kita pakai, tegas Pdt. Jacklevyn.

Guru Besar Fakultas Ushuluddin & Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Inayah Rohmaniyah, M.Hum. M.A.menyampaikan bahwa kita harus memulai dari diri kita, saya selalu mengatakan jangan selalu menunjukkan tangan ke orang lain, jangan berharap orang lain akan memulai sementara kita diam. Perubahan akan terjadi ketika kita sendiri menempatkan kita sebagai agent of change sebagai yang aktif, karena masing-masing punya peran.

Maka gunakanlah power kita, ruang kita untuk ikut creating, untuk menciptakan kehidupan yang harmonis itu, menyebarkan nilai-nilai itu dan harus masuk ke ruang digital. Kepada semua pihak yang memiliki pengaruh mari memberikan literasi kepada generasi muda. Saya juga punya konten yang mencoba berbicara yang masuk ke dunia milenial, ke gen z agar mereka menangkap ide-ide yang kita inginkan sehingga kita ikut membentuk masa depan anak-anak kita, karena kalau kita tidak masuk ke dunia digital kita akan banyak kehilangan, jelas Profesor Inayah Rohmaniyah.

Senior Fellow Comparative Religion, Jackson School of International Studies, University of Washington Dr. Chris Seiple menyampaikan adanya perbedaan di Indonesia dibandingkan dengan tempat lain adalah bahwa memang Indonesia punya sejarah yang khas khususnya dengan sejarah 28 Oktober 1928 yaitu Sumpah Pemuda, itu adalah acara berubah dengan tidak berubah, bahwa Indonesia terus harus membentuk masa depan bangsanya sendiri, jadi memang Sumpah Pemuda ini adalah peristiwa historis di mana kelompok pemuda datang berbagai daerah, latar belakang di era kolonial untuk mewujudkan satu deklarasi, satu sumpah bersama.

Sumpah Pemuda itu, menjadi elemen penting bagi Indonesia. Dia mengatakan Indonesia tidak terlepas dari sejarahnya. Dan ini adalah dimensi yang sangat penting dari kebangsaan Indonesia. Kita lihat bahwa semua tempat di dunia, khsusunya konteks lokal di Indonesia termasuk demikian, memang punya sejarahnya sendiri, kata Chris Seiple.

Dan ada suatu peristiwa di masa lalu yang mungkin menggerakkan masa depan di suatu daerah, misalnya kisah atau cerita, bagaimana ajaran agama memberikan alat untuk kerja sama, dan setiap tradisi juga punya keyaninannya masing-masing, tutup Chris.

  • Related Posts

    MENGAPA BAGIAN PALING PINTAR DI NEGERI INI HANYA BISA MENGOMEL?

    Oleh : Rahmat Mulyana KN-JAKARTA, Ada ironi yang menyakitkan dalam ekonomi politik Indonesia kontemporer. Kelompok paling terdidik di negara ini—mereka yang menghabiskan 16-20 tahun di sistem pendidikan, menguasai tiga bahasa,…

    Heboh Pemasangan Spanduk “Surat Permohonan Maaf” Mengatasnamakan UGM di Lingkungan Kampus

    KN-YOGYAKARTA – Suasana di sekitar kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Bulaksumur, Yogyakarta, mendadak geger menyusul terpasangnya sebuah spanduk berukuran besar yang menarik perhatian publik. Spanduk tersebut dibuat menyerupai format…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *