By.Zaprulkhan
(Dosen IAIN Babel)
Stramed, Siapakah yang tidak terpengaruh dengan propaganda HTI? Sulit untuk menjawabnya secara negatif. Tapi mudah untuk menjawabnya secara positif: hampir sebagian besar masyarakat sudah terpengaruh propaganda HTI. Pengaruhnya bukan cuma terhadap orang-orang awam tapi juga sudah menyentuh kalangan intelektual berpendidikan tinggi.
Salah satu argumentasi andalan HTI adalah pandai berkelit dengan menuding keburukan-keburukan lain agar agenda mereka tidak terlihat dan kemudian menggunakan bahasa agama yakni bahasa Islam untuk membungkus propaganda mereka. Bahasa sederhananya, mereka sangat lihai dalam ngeles untuk memuluskan agenda puncak mereka: khilafah tahririyah.
Misalnya saat ini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melarang lembaga penyiaran di Televisi dan radio menampilkan dai-dai dari ormas terlarang pada bulan Ramadan mendatang. KPI menginginkan para dai-dai yang tampil adalah dai-dai yang benar-benar kompeten, kredibel, dan menjunjung tinggi falsafah bangsa Pancasila. Mereka harus berasal dari ormas-ormas Islam yang moderat, menjunjung tinggi Pancasila dan NKRI, bukan dari ormas-ormas terlarang.
Lalu ada sebagian intelektual yang berargumentasi begini: “Mengapa KPI tidak peduli dengan acara-acara yang alay, lebay, dan sinetron buruk di TV? Mengapa negeri ini semakin mencengkeram kelompok Islam?”
Kita lihat argumentasi ngelesnya dengan menuding tayangan-tayangan lain yang buruk. Lalu menisbatkan kegiatan mereka dengan bahasa agama: “mencengkeram kelompok Islam.” Padahal yang dimaksud adalah segelintir ormas terlarang termasuk HTI. Tapi mereka begitu licik membungkusnya dengan bahasa Islam, sehingga sangat sensitif dan banyak yang tertipu.
Padahal muara agenda mereka adalah menggiring masyarakat untuk menegakkan khilafah tahririyah. Ironisnya, sangat banyak kaum intelektual yang sudah level Doktor dan Profesor sekalipun yang terpengaruh dengan jurus ngeles argumentasi HTI ini, walaupun mereka tidak menyadarinya.
Karena itu, bagi orang-orang yang paham, harus terus bersuara membuka selubung-selubung kepentingan ideologis mereka agar masyarakat menyadari agenda-agenda licik mereka yang hendak merobohkan rumah besar NKRI.
Disclaimer : Artikel ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.








