Tidak boleh membaca Al-Qur’an di jam kerja yang melalaikan tanggung jawabnya dan istri yang mengabaikan suaminya demi membaca Al-Qur’an

KN. Al-Qur’an menjadi kitab suci umat Islam sekaligus pedoman hidup umat manusia. Al-Qur’an berisi ajaran tentang aqidah, syariah, akhlak, kisah dan sejarah, hingga ayat-ayat yang mengandung sains.

Membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah yang paling utama dilakukan muslim. Orang yang membacanya akan mendapatkan pahala, meskipun masih terbata-bata alias masih belajar membaca.

Rasulullah SAW bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadis lain, disebutkan bahwa Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat. Syafaat alias pertolongan sangat dibutuhkan di hari akhir. Beruntunglah orang yang sering membaca Al-Qur’an karena pertolongan itu akan datang.

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Meski membaca Al-Qur’an adalah ibadah, namun ada beberapa kondisi yang bisa membuat ibadah tersebut menjadi maksiat. Hal inilah yang perlu diwaspadai menurut Pengasuh LPD Al Bahjah, KH Yahya Zainul Ma’arif.

“Membaca Al-Qur’an ada rambu-rambunya juga. Kalau tidak punya rambu-rambu, tidak benar, dan itu yang bisa membenahi ilmu syariatnya,” katanya dikutip dari YouTube Buya Yahya.

Buya Yahya menyebutkan beberapa kondisi membaca Al-Qur’an yang bisa menjadi maksiat. Pertama, membaca Al-Qur’an di jam kerja yang melalaikan tanggung jawab kerjanya.

“Anda kerja di kantor, seharusnya Anda menghadapi umat dalam urusan tertentu di kantor, (misalnya) Anda ngasih tanda tangan dan sebagainya. Ternyata Anda sibuk membaca Al-Qur’an, jadi maksiat,” beber Buya Buya Yahya.

Contoh lain yang diungkap Buya Yahya adalah ketika seorang suami yang rela datang jauh-jauh menemui istrinya karena rindu, tapi saat suami tiba sang istri mengatakan, “Abang entar 4 juz, 3 juz lagi, 2 juz.” Kata Buya Yahya, kondisi seperti itu termasuk maksiat juga.

Berdasarkan penjelasan Buya Yahya, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa kondisi membaca Al-Qur’an yang bisa jadi maksiat apabila dilakukan.

Contoh yang disampaikan Buya Yahya ialah membaca Al-Qur’an di jam kerja yang melalaikan tanggung jawabnya dan istri yang mengabaikan suaminya demi membaca Al-Qur’an.

  • Related Posts

    Pesantren Al Zahrah Yudisium 89 Santri Akhir, Pimpinan: Kecerdasan Intelektual Saja Tidak Cukup

    KN. Pesantren Modern Al Zahrah Bireuen kembali menggelar yudisium untuk santri Angkatan ke XXV, di ruang majelis guru pesantren setempat, Ahad pagi (19/4/2026). Kepala Bidang Pendidikan dan Pengajaran Pesantren Modern…

    Tafsir Al Qur’an

    KN. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata, “Suatu ketika, Saudah (salah seorang istri Nabi) keluar untuk membuang hajat, saat itu telah turun perintah menggunakan kerudung untuk kaum perempuan. Dia bertubuh gemuk…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *