KN. Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi memandang penunjukan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) M. Herindra sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) adalah harapan baru. Herindra ditunjuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menggantikan posisi Kepala BIN sebelumnya, Budi Gunawan.
Khairul berpendapat, Herindra memiliki kombinasi pengalaman militer operasional dan kebijakan strategis yang solid. Sebab, Herindra berlatarbelakang sebagai mantan Komandan Jenderal Kopassus (Danjen Kopassus) dan Wakil Menteri Pertahanan.
Herindra dinilai berperan besar dalam merumuskan kebijakan pertahanan dan modernisasi alutsista selama menjabat Wamenhan di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Khairul lantas membeberkan sejumlah hal dan tantangan mengenai BIN yang segera dipimpin Herindra. Semisal, ia mengingatkan tentang BIN yang dirancang dengan karakter sipil, meski merupakan lembaga intelijen.
“Pada masa lalu, struktur organisasi BIN terdiri dari berbagai elemen: sipil, militer, dan kepolisian, dengan porsi yang lebih proporsional. Jabatan-jabatan strategis, termasuk wakil kepala dan deputi, pernah diisi oleh banyak figur sipil yang kompeten. Hal ini memungkinkan perspektif yang lebih luas dalam pengambilan kebijakan intelijen,” ungkapnya.
“Namun, tren beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya pergeseran, dengan dominasi figur-figur dari luar organisasi yang sedikit banyak mengikis unsur sipil di BIN,” tambah dia.
Lebih lanjut, menurut Khairul, tantangan terdekat Herindra adalah menjaga dinamika internal. Herindra perlu mengelola problematika internal dan memastikan seluruh elemen BIN dapat berkolaborasi secara efektif.
Selain itu, Herindra juga harus mengembalikan BIN pada marwahnya sebagai lembaga intelijen yang mengedepankan prinsip objektivitas, kerahasiaan, dan profesionalisme. Kepentingan nasional, menurut Khairul, harus tetap menjadi prioritas tertinggi, di atas kepentingan politik atau kelompok tertentu.
Di sisi lain, salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian khusus adalah memperkuat kemampuan kontra-intelijen, mengingat ancaman yang terus berkembang dari aktor eksternal yang tidak ingin melihat Indonesia semakin kuat dan berkiprah di panggung dunia.
“Dengan penajaman kontra-intelijen, BIN dapat lebih siap menghadapi potensi infiltrasi dan ancaman dari kelompok-kelompok non-negara yang memiliki kepentingan tertentu terhadap Indonesia,” urai Khairul.
Dengan latar belakang dan pengalaman Herindra sebagai Danjen Kopassus dan Wamenhan, harapannya, Herindra dapat membawa kebijakan yang tidak hanya menjaga kontinuitas tetapi juga melakukan pembaruan di BIN.
“Mengembalikan lembaga ini pada prinsip-prinsip dasar intelijen serta menjaga keseimbangan antara unsur-unsur yang ada di dalamnya merupakan langkah penting untuk mengamankan kepentingan strategis Indonesia di tengah dinamika global yang semakin berubah,” jelas Khairul. Jika berhasil, nilai Khairul, kepemimpinan Herindra di BIN tidak hanya akan memperkuat peran lembaga ini dalam menjaga keamanan nasional, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan intelijen Indonesia.
M. Herindra lahir di Magelang, 30 November 1964. Ia merupakan purnawirawan TNI dengan pangkat terakhirnya Letnan Jenderal (Letjen). Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan sejak Desember 2020 mendampingi Prabowo Subianto dalam menjalankan tugas di Kementerian Pertahanan.
Herindra adalah lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) angkatan 1987 yang cakap di bidang infanteri. Ia adalah peraih Adhi Makayasa Akmil. Sebelum menjadi Wamenhan, ia adalah Kepala Staf Umum (Kasum) TNI.
M Herindra mengawali karier militernya di kecabangan infanteri Kopassus. Karier militernya banyak dihabiskan di Korps Baret Merah tersebut. Di pasukan elit TNI Angkatan Darat (AD) itu sederet jabatan elit pernah diembannya, di antaranya Wakil Komandan Jenderal (Wadanjen) Kopassus pada 2013–2014, lalu menjadi Kasdam III/Siliwangi, dan selanjutnya dipercaya menduduki jabatan Danjen Kopassus pada 2016.
Karier militer Herindra terus menanjak. Ia tercatat pernah menduduki sejumlah jabatan strategis di TNI, yakni Pangdam III Siliwangi periode 2016–2017, Irjen TNI periode 2018–2020, sebelum akhirnya diangkat Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai Kepala Staf Umum TNI.
M. Herindra mempunyai kekayaan sebesar Rp 23,4 miliar.







