Lebih Parah dari Era Pandemi, Krisis Pangan Rumah Tangga di AS Cetak Rekor Tertinggi

KN-WASHINGTON DC — Kondisi kerawanan pangan di Amerika Serikat (AS) dilaporkan berada dalam tren yang semakin mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari Bank Federal Reserve (The Fed) New York mengungkapkan bahwa jumlah warga negara pengekspor utama dunia tersebut yang mengalami kelaparan tahun ini telah melampaui rekor tertinggi yang pernah tercatat pada puncak pandemi Covid-19.

Data tersebut diperoleh dari hasil survei per Februari 2026 terhadap sekitar 1.200 kepala rumah tangga di AS. Indikator tekanan dinilai dari empat aspek finansial utama: keharusan menguras tabungan darurat, kesulitan akses makanan, anak-anak yang melewatkan jam makan, serta tingginya ketergantungan pada sumbangan pangan atau bantuan pemerintah.

“Kami menemukan peningkatan luar biasa dalam kerawanan pangan, terutama di antara rumah tangga dengan tingkat pendidikan dan pendapatan rendah, serta rumah tangga yang memiliki anak kecil,” tulis The Fed New York dalam laporan resminya, dikutip dari AFP, Rabu (27/5/2026).

Perbandingan Tekanan Ekonomi: Juni 2020 vs Saat Ini
​Meskipun aktivitas ekonomi makro AS dilaporkan tumbuh solid, realitas di tingkat akar rumput menunjukkan jurang pemisah yang lebar. Tekanan ekonomi saat ini justru dirasakan jauh lebih mencekik bagi sebagian besar warga jika dibandingkan dengan situasi pembatasan wilayah (lockdown) pada Juni 2020 lalu.

Berikut adalah perbandingan lonjakan indikator tekanan finansial rumah tangga di AS:

Indikator Tekanan Finansial

Posisi Juni 2020 (Puncak Pandemi)

Kondisi Saat Ini (Tahun 2026)

Kerawanan Pangan (Kurang makan/anak melewatkan jam makan)

4%

10%

Menguras Tabungan Darurat (Untuk menutup pengeluaran harian)

21,8%

Lebih dari 33%

Ketergantungan Sumbangan Pangan (Bantuan sosial/pemerintah)

10,6%

Lebih dari 15%

Mirisnya, lonjakan kerawanan pangan yang mengkhawatirkan ini baru terekam pada bulan Februari. Angka tersebut belum mengakumulasikan dampak dari meletusnya konflik bersenjata yang melibatkan Iran belakangan ini, yang mana telah mendorong harga komoditas pangan di AS meroket ke tingkat tertinggi sejak tahun 2023.

Sentimen Konsumen Merosot ke Level Resesi Besar

​Kombinasi antara inflasi harga pokok dan tidak menentunya stabilitas kerja—seperti dampak dari government shutdown (penghentian kerja pemerintah federal) yang sempat merumahkan ribuan PNS tanpa gaji akhir tahun lalu—membuat psikologis pasar memburuk. Masyarakat AS kini cenderung bersikap pesimistis mengenai masa depan finansial mereka.

​”Tingkat sentimen konsumen saat ini… Turun mendekati atau berada di bawah tingkat terendah yang terlihat selama Resesi Besar (Great Recession) dan masa pandemi,” jelas pihak Fed New York.

​Meskipun secara angka indikator makroekonomi menunjukkan pertumbuhan yang solid, The Fed New York mengakui ada anomali yang kuat di mana sebagian besar populasi justru menghadapi tingkat ketidakamanan ekonomi dan tekanan keuangan yang sangat tinggi.

Foto: AFP

Related Posts

Jelang Lawan Oman, Mees Hilgers Ikut Latihan Timnas Indonesia Meski Tak Dipanggil

KN-JAKARTA — Skuad Timnas Indonesia menggelar sesi latihan intensif di Stadion Madya, Senayan, pada Senin (1/6) sore. Latihan ini dilakukan sebagai persiapan menjelang laga uji coba agenda FIFA Matchday periode…

Defisit Anggaran dan Blokade Logistik: Rusia Kewalahan Hadapi Strategi Baru Ukraina

KN-KYIV — Intelijen Pertahanan Ukraina mengungkapkan bahwa Rusia saat ini tengah menghadapi tekanan berat, baik di medan perang maupun di sektor finansial. Kombinasi antara tingginya angka kehilangan personel, krisis anggaran,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *