KN-JAKARTA, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) memutuskan untuk tetap melanjutkan program pelatihan dasar kemiliteran bagi puluhan ribu peserta, meski program tersebut telah memakan korban jiwa. Lima orang peserta dilaporkan meninggal dunia dalam rangkaian pelatihan yang dinilai sebagian pihak terlalu berat bagi warga sipil tersebut.
Sebagai langkah evaluasi, pemerintah kini mengubah nama program tersebut menjadi pelatihan bela negara dan manajerial.
Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, menegaskan bahwa pemerintah langsung melakukan pembenahan internal pasca-insiden tragis yang merenggut nyawa lima peserta tersebut. Kendati demikian, program berskala nasional ini dipastikan tidak akan dihentikan.
“Pelatihan jalan terus, tapi masukan dari berbagai pihak diperhatikan,” ujar Juri saat memberikan keterangan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Diikuti Puluhan Ribu Calon Manajer
Pelatihan intensif ini diikuti oleh total 35.476 peserta yang lolos melalui program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Seluruh peserta diproyeksikan untuk mengisi posisi strategis di daerah, dengan rincian 30.000 calon manajer koperasi desa dan 5.476 calon manajer kampung nelayan.
Sesuai jadwal awal, pelatihan dasar kemiliteran ini dirancang selama 30 hari yang dimulai sejak 17 Juni 2026. Setelah fase fisik tersebut selesai, peserta akan melanjutkan pelatihan manajerial dan kompetensi bidang selama 15 hari, terhitung mulai 17 Juli 2026.
Sebagai bagian dari evaluasi medis, Kementerian Pertahanan juga dilaporkan telah memulangkan 32 peserta yang diketahui sedang dalam kondisi hamil demi alasan kemanusiaan dan keselamatan kesehatan.
Kronologi Lima Peserta Meninggal Dunia
Berdasarkan data yang dihimpun, lima korban jiwa jatuh di beberapa lokasi satuan pendidikan (satdik) militer yang berbeda dalam waktu yang berdekatan:
Yonanda Muhammad Taufiq (Hari ke-1): Korban pertama jatuh pada hari pertama pelatihan di Satdik Pusat Latihan Tempur TNI AD Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Yonanda kehilangan kesadaran saat mengikuti materi awal dan langsung dilarikan ke RS dr. Noesmir Baturaja. Nyawanya tidak tertolong dan tim medis mendiagnosis korban mengalami cardiac arrest (henti jantung).
Anisa Muyassaroh (Hari ke-2): Sehari berselang, korban kedua jatuh di Satdik Resimen Induk Kodam (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Anisa mengeluhkan mual dan sesak napas akut sebelum dirujuk ke RS dr. Hardjanto, Balikpapan. Kondisinya terus memburuk hingga dinyatakan meninggal akibat heat stroke (sengatan panas ekstrem).
Novia Rahmadhani Sihotang (Hari ke-6): Berlokasi di Pusat Bahasa Kodiklatau, Jakarta, Novia mengeluhkan gejala batuk, demam, dan sesak napas. Karena kondisinya terus melemah, ia dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Korban didiagnosis menderita tuberkulosis (TB) paru aktif dan meninggal dunia sebelum genap sehari menjalani perawatan.
Muhammad Rifki Renaldi Gunawan (Hari ke-8): Rifki, yang mengikuti pelatihan di Yon Parako 465 Halim Perdanakusuma, Jakarta, mengalami lemas dan sesak napas. Ia sempat dilarikan ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Resume medis menunjukkan Rifki meninggal akibat pneumonia (infeksi paru-paru) dengan komplikasi medis, serta tercatat memiliki riwayat penyakit hipertensi dan obesitas.
Nola Dya Sari (Hari ke-8): Di hari yang sama dengan Rifki, Nola yang merupakan peserta di Satdik Dodik Bela Negara Rindam XII/Tanjungpura, Singkawang, Kalimantan Barat, mengembuskan napas terakhir. Nola sempat dilarikan ke RS Abdul Aziz Singkawang setelah mengeluhkan sesak napas.
Dokter menyatakan penyebab kematiannya adalah henti jantung.
Insiden ini memicu gelombang sorotan dari publik terkait kesiapan mitigasi medis dan penapisan (screening) kesehatan awal bagi para peserta program SPPI sebelum diterjunkan ke pelatihan yang melibatkan fisik militer.
LATSARMIL KDMP Foto: Antara/Humas TNI AU








