Lampung Resmi Luncurkan National Cassava Center: Menuju Sentra Singkong Dunia dan Kesejahteraan Petani

KN-BANDAR LAMPUNG — Upaya menjadikan Provinsi Lampung sebagai episentrum pengembangan singkong nasional memasuki babak baru. Pemerintah Provinsi Lampung bekerja sama dengan Universitas Lampung (Unila) dan Kementerian PPN/Bappenas secara resmi meluncurkan National Cassava Center (NCC) pada Jumat (24/7/2026).

​Pusat kolaborasi nasional ini dirancang untuk memperkuat riset, meningkatkan produktivitas, mendorong hilirisasi, serta mempercepat peningkatan kesejahteraan petani singkong secara berkelanjutan.

​Membangun Ekosistem Singkong Terintegrasi

​Dalam sambutannya, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa peluncuran NCC bukan sekadar seremonial peresmian lembaga riset semata, melainkan titik awal pembangunan ekosistem komprehensif yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, industri, dan petani.

​“Ini bukan sekadar peresmian sebuah lokasi atau lembaga riset. Ini adalah titik awal pembangunan sebuah ekosistem di mana ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dunia industri, dan kesejahteraan petani dipertemukan dalam satu tempat,” ujar Gubernur Mirza.

​Sebagai penyumbang sekitar 70 persen produksi singkong nasional, Lampung menjadi tumpuan hidup bagi hampir 500.000 keluarga petani. Namun, Gubernur Mirza menyoroti tantangan klasik yang dihadapi selama puluhan tahun, seperti:

  • ​Fluktuasi Harga Ekstrem: Harga singkong sempat anjlok hingga Rp600–Rp700 per kilogram dan memicu gelombang aksi protes petani.
  • ​Ketiadaan Ekosistem Terintegrasi: Industri dan petani berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi riset yang memadai.
  • ​Ketinggalan Produktivitas: Daya saing lahan masih di bawah negara pesaing seperti Thailand dan Vietnam.

​Langkah mediasi Pemprov Lampung bersama pemerintah pusat dan industri dalam mengendalikan impor kini telah membuahkan hasil. Harga singkong di tingkat petani melonjak hingga sekitar Rp2.200 per kilogram.

​Meski demikian, Gubernur Mirza menekankan bahwa perbaikan harga hanyalah langkah awal. Fokus utama selanjutnya adalah melipatgandakan produktivitas agar singkong Lampung mampu bersaing di tingkat global.

​Dari Miracle Tree Menuju International Cassava Center

​Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengapresiasi langkah strategis Lampung. Ia menyebut peluncuran NCC sebagai momen bersejarah yang telah dinantikan Indonesia selama lebih dari empat dekade.

​Rachmat mengenang bahwa sejak dekade 1980-an, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah menjuluki singkong sebagai miracle tree (pohon ajaib). Namun, potensi besar tersebut baru benar-benar terorganisasi secara konkrit melalui kolaborasi di Lampung.

​“Persahabatan antara akademisi, birokrasi, dan dunia usaha sering kali hanya diucapkan, tetapi di Lampung sudah dilaksanakan. Makanya singkongnya bagus,” puji Rachmat.

​Bappenas pun mendorong agar National Cassava Center tidak hanya berhenti di level nasional, melainkan bertransformasi menjadi International Cassava Center. Menurutnya, dengan penguatan Good Agriculture Practices (GAP), varietas unggul, dan hilirisasi berbasis bioekonomi, Lampung berpeluang besar menjadi pusat pengembangan singkong dunia.

​Dukungan Lahan 150 Hektare dan 7 Fokus Utama Unila

​Rektor Universitas Lampung, Prof. Lusmeilia Afriani, menjelaskan bahwa NCC didirikan untuk menjawab tantangan stagnasi produktivitas dan keterbatasan hilirisasi. Pusat riset ini dibangun di atas lahan hibah Pemprov Lampung seluas 150 hektare dengan 7 fokus strategis:

  1. ​Riset dan Inovasi: Pengembangan teknologi budidaya berkelanjutan.
  2. ​Konservasi Plasma Nutfah & Perbenihan: Penyediaan varietas unggul tahan hama dan penyakit.
  3. ​Smart Farming: Penerapan teknologi presisi berbasis digitalisasi pertanian.
  4. ​Hilirisasi Industri: Peningkatan nilai tambah produk turunan singkong (tapioka, bioetanol, dll).
  5. ​Pemberdayaan Petani: Pendampingan teknis dan penguatan kelembagaan tani.
  6. ​Kawasan Edukasi: Pusat pembelajaran dan pelatihan bagi pemangku kepentingan.
  7. ​Transfer Teknologi: Diseminasi inovasi ke tingkat akar rumput dan industri.

​Saat ini, Unila telah mengembangkan lima varietas singkong unggulan, menyusun panduan GAP, membangun demplot percontohan, serta memperluas jejaring kemitraan bersama BRIN, IPB University, pihak industri, dan lembaga riset internasional.

​Melalui integrasi antara riset akademis, kebijakan pemerintah, dan dukungan industri ini, Lampung optimistis dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memimpin rantai pasok industri berbasis singkong di tingkat global.

  • Related Posts

    Kritikan Pedas Gerindra untuk Kabinet Prabowo: Sejumlah Menteri Dinilai Tak Kapabel Lengkap dengan Catatan Evaluasinya

    KN-JAKARTA — Juru Bicara Partai Gerindra sekaligus anggota DPR RI, Kamrussamad, menyampaikan kritik tajam terhadap kinerja sejumlah menteri dan wakil menteri dalam Kabinet Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai beberapa pejabat…

    Wacanakan Evaluasi Posisi Wapres Gibran di DPR, PDIP Siap Buka Komunikasi dan Lobi Politik Antarfraksi

    KN-JAKARTA — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menegaskan kesiapan partainya untuk membangun komunikasi politik serta berdialog dengan fraksi-fraksi lain di DPR RI. Langkah ini ditujukan untuk membahas…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *