Analisis NEXT Indonesia Center: Indonesia Dalam Darurat Sampah, Banjarmasin dan Morowali Jadi Sorotan

KN-JAKARTA, Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini dinilai tidak lagi berkelanjutan dan telah mencapai tahap mengkhawatirkan. Senior Analyst NEXT Indonesia Center, Sandy Pramuji, menegaskan bahwa persoalan sampah kini telah meluas menjadi isu kesehatan publik, krisis iklim, hingga beban fiskal serius bagi pemerintah daerah.
​Berdasarkan analisis data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2025, ditemukan fakta bahwa dari total 20,4 juta ton timbulan sampah nasional, sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar.
​Sampah Makanan: Pemborosan di Balik Urusan Dapur
​Sisa makanan menyumbang 39,73% dari total sampah nasional. Ironisnya, angka tertinggi per kapita tidak ditemukan di Jakarta, melainkan di Kota Banjarmasin.
​Puncak Volume: Jakarta Timur (432.155 ton), Jakarta Barat (402.933 ton), dan Jakarta Selatan (365.040 ton).
​Puncak Per Kapita: Banjarmasin mencatat 311 kg/orang/tahun.
​“Angka di Banjarmasin menunjukkan tingkat pemborosan individu yang tinggi, dipicu perilaku sosial seperti penyediaan makanan berlebih saat hajatan. Ini perlu intervensi edukasi budaya konsumsi,” ujar Sandy Pramuji, Minggu (15/2/2026).
​Limbah Plastik: Efek Dominan Industri dan Gaya Hidup
​Sampah plastik terus tumbuh seiring tren belanja daring dan layanan pesan-antar. Wilayah metropolitan Jakarta masih memimpin secara volume total, namun secara per kapita, lonjakan drastis terjadi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (105 kg/kapita/tahun).
​Fenomena di Morowali disebut sebagai efek samping pertumbuhan masif industri nikel. Kedatangan ribuan pekerja memicu ledakan sampah yang tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur TPA dan armada pengangkut yang memadai.
​Sampah Kertas: Birokrasi dan Pusat Distribusi
​Jakarta Timur kembali memimpin volume sampah kertas dengan 149.395 ton. Namun, lagi-lagi Banjarmasin menonjol di angka per kapita (103 kg/kapita/tahun). Hal ini disinyalir akibat tingginya penggunaan dokumen fisik di birokrasi pemerintahan serta peran kota tersebut sebagai pusat distribusi barang di Kalimantan.
​Rekomendasi Strategis dan Ancaman 2028
​Sandy menekankan bahwa strategi pengelolaan sampah tidak bisa lagi disamaratakan. NEXT Indonesia Center mengusulkan tiga langkah krusial:
​Digitalisasi Layanan Publik: Untuk menekan penggunaan kertas secara signifikan.
​Extended Producer Responsibility (EPR): Memaksa produsen bertanggung jawab atas seluruh siklus hidup produk guna menekan limbah plastik.
​Penguatan Data SIPSN: Mengingat baru 209 dari 514 kabupaten/kota yang melapor di tahun 2025.
​“Data yang lengkap adalah senjata utama. Tanpa program yang konsisten dan terukur, ancaman TPA penuh pada 2028 akan sulit dihindari,” pungkas Sandy.

Sumber foto:Citarumharum.jabarprov.go.id

Related Posts

KPK Resmi Tetapkan Bupati Lombok Barat dan 2 Lainnya Sebagai Tersangka Korupsi & Suap

​KN-JAKARTA, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkan Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ), sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi, konflik kepentingan pengadaan barang dan jasa, serta penerimaan suap…

Mengadili Tanpa Menghukum Mati: Lima Catatan Kritis LBHM atas Desakan   Pidana Mati terhadap Eks Jampidsus

KN-JAKARTA, Santernya aroma dugaan tindak pidana korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, telah memicu perdebatan dari berbagai kalangan sekaligus memantik kemarahan publik. Di…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *