KN-JAKARTA, Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis untuk menghadapi gejolak harga energi global akibat konflik di Timur Tengah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan rencana peningkatan volume produksi batu bara nasional sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Perubahan Target Produksi (RKAB)
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat kabinet pekan lalu. Pemerintah kini tengah mengevaluasi kenaikan target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.
Peningkatan produksi ini diharapkan dapat menekan risiko lonjakan harga, membantu memitigasi kenaikan harga BBM dan komoditas energi lainnya.
Pemerintah mengkaji skema pajak ekspor untuk mendapatkan tambahan pendapatan dari keuntungan tak terduga (windfall profit) sektor batu bara di tengah kenaikan harga dunia.
Percepatan Transisi Energi
Selain fokus pada batu bara, Presiden Prabowo juga mendorong percepatan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi berbasis energi surya. Hal ini dilakukan menyusul harga minyak mentah dunia yang telah menembus angka US$100 per barel.
“Presiden mengarahkan agar ini segera direalisasikan. Badan Pengelola Investasi Danantara telah diberi tugas untuk menyelesaikan transisi PLTD tersebut,” ujar Airlangga di Istana Negara.
Kebijakan ini diambil untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga meski situasi geopolitik dunia sedang tidak menentu.
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sumber foto: Wikipedia






