DEMO BAGIAN DARI DEMOKRASI NAMUN SEBAIKNYA BERAKLAK DAN BERMORAL TIDAK JELEK2IN SIAPAPUN, BERILAH PROGRAM DAN SOLUSI APA YANG DIINGINKAN DAN TIDAK ANARKIS… LEBIH BAIK LAGI KLO MAHASEWA BAYARAN TSB BELAJAR DI KAMPUS YANG TEKUN, MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENJADI PEJABAT YANG BAIK, BUKAN IKUT2AN KORUPSI… BIASAKAN YANG BENAR… BUKAN MEMBENARKAN YANG BIASA… MARI KITA BEDAH BERSAMA.
Ditulis dan disajikan oleh SUBANDI PARTO SH MH MBA/Marsekal Muda TNI (Purn) AAU’69.
MARI KITA Bedah “ETIKA DEMO”, lurus sampai ke sumsum bangsa. 🇮🇩
Ini bedah demo tidak pakai benci, tapi pakai akal sehat + akhlak. Itu yang bangsa butuhkan sekarang.
Mari kita urai satu-satu biar makin terang :
I. DEMO = OBAT, BUKAN RACUN. TAPI DOSIS & CARA PAKAINYA HARUS BENAR :
Demokrasi tanpa demo = mati rasa. Demo tanpa akhlak = mati akal.
Demo itu hak konstitusi Pasal 28 UUD 1945. Itu alarm rakyat kalau ada yang pembusukan.
Masalahnya : Alarm yang bunyinya maki-maki + bakar ban = orang malah nutup telinga, tidak denger isinya.
Rumusan lurus : Demo berakhlak = suara didengar. Demo anarkis = suara didiskreditkan. Koruptor paling senang kalau demo rusuh. Karena fokusnya geser dari “tumpas korupsi” jadi “penjarakan perusuh”.
II. “JANGAN JELEK-JELEKIN ORANG, KASIH SOLUSI” = INI STANDAR JUARA
Ini bedanya demonstran vs pecundang.
Pecundang : Teriaknya “Turunkan dia!”. Ditanya “gantinya siapa, programnya apa?” = jawabnya planga-plongo.
Juara : Teriaknya “Hentikan ini! Ganti dengan program ini: 1, 2, 3. Ini datanya, ini anggarannya”.
Pehalit tidak takut sama yang maki-maki. Pejabat takut sama yang bawa solusi + data + massa cerdas.
Rumusan lurus : Kritik tanpa solusi = ngomel. Kritik + solusi = kepemimpinan.
III. “MAHASEWA BAYARAN BELAJAR TEKUN DI KAMPUS” = INI TAMBAK HULU YANG PALING STRATEGIS
ANDA nancep ke akar masalah . Koruptor masa depan lahirnya dari kampus hari ini.
Mahasewa bayaran 100rb teriak di jalan = nanti jadi pejabat bayaran miliaran di kantor.
Lingkaran setan : Mental ikut-ikutan + benarkan yang biasa = bibit koruptor.
Antibiotiknya cuma 2 yaitu :
Di Kampus : Bikin “Kuliah Anti Korupsi”. Nilai A buat yang paling lantang bilang
“Korupsi itu hina”. Luluskan yang berakhlak, bukan yang IPK tinggi tapi mental maling.
Di Jalan : Demo itu latihannya jadi pejabat Sbp. Kalau demo saja sudah anarkis, tidak tertib, tidak punya program.

Besok jadi menteri ya kerjanya anarkis, tidak punya program. “Biasakan yang benar” mulai dari teriakan pertama.
Rumusan lurus : Kampus = pabrik pejabat. Kalau pabriknya cetak maling, jangan kaget kalau negara kebanjiran maling.
IV. “BIASAKAN YANG BENAR, BUKAN MEMBENARKAN YANG BIASA” = INI DOKTRIN PERADABAN:
Kalimat ini paku terakhir. Ini obat buat semua penyakit bangsa.
Korupsi jadi “biasa” karena kita terus “membenarkannya”: “Ah semua juga begitu”, “Yang penting kerja”, “Uang kecil nggak apa-apa”.
Padahal yang benar itu : Tepat waktu = benar. Antri = benar. Bayar pajak = benar. Bilang “tidak” ke suap = benar.
Biasakan yang benar mulai dari hal kecil. Dari antre BBM, dari tidak buang sampah, dari tidak titip anak ke PNS. Lama-lama jadi watak bangsa.
KESIMPULAN BEDAH KITA : STANDAR DEMO ANAK BANGSA :
DEMO BERKELAS = BERAKHLAK + BERMORAL + BAWA SOLUSI + TIDAK ANARKIS
MAHASEWA JUARA = BELAJAR TEKUN DI KAMPUS + SIAP JADI PEJABAT BERSIH + BIASAKAN YANG BENAR…
Kalau 2 ini jalan bareng : Suara rakyat didengar, koruptor tidak punya celah, regenerasi pemimpin bersih lahir.
Pesan penutup : yang harus jadi spanduk tiap demo :
“Teriaklah sekeras-kerasnya, tapi jangan kotori jalanan.
Bakarlah semangatmu, tapi jangan bakar fasilitas rakyat.”
“Tujuan kita bukan menjatuhkan orang. Tujuan kita adalah menegakkan sistem yang benar.”
Bagaimana? Standar demo ini cocok jadi kurikulum wajib OSPEK?
Saya Sbp sudah kasih resepnya. Tinggal eksekusinya. Biar demo kita disegani kawan, ditakuti lawan…
V. PENUTUP : Alhamdulillah bedah “Etika Demo” kita klop. Singkatnya : Teriak boleh, akhlak jangan mati. Kritik boleh, solusi wajib.
SAYA SBP sudah kasih rumusan paling waras : Demo itu latihan jadi pejabat. Kalau latihannya rusuh, hasilnya ya negara rusuh. Kalau latihannya cerdas + berakhlak, lahirnya pemimpin juara.
“Biasakan yang benar” itu yang paling susah tapi paling ngaruh.
Dimulai dari kampus, dari antrean, dari bilang “tidak” ke amplop. Dari situlah korupsi mati pelan-pelan.
Demikian… spanduk penutup tadi ditempel di tiap gerbang kampus . Biar mahasiswa masuk kuliah bawa otak, bukan bawa batu.
Salam hormat dan tetap semangat Sbp. Sehat terus, suaranya terus jadi lentera.
JAS MERAH. CETAK GENERASI BERAKHLAK, BUKAN GENERASI BAYARAN.
TUMPAS KORUPTOR SAMPAI TUNTAS
Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.






