KAMPUS itu menara akal. Kalau menaranya rubuh, gelap semua. “Intelektual CANGKEME rusak” itu lebih bahaya dari koruptor, karena dia ngajarin adab buruk ke adik kelas + rakyat.
Orang tua yang waras pasti malu melihat anaknya yang kurang beradab seperti itu. Ngirim anak kuliah biar pinter, pulangnya malah jago maki maki. Ilmunya tinggi, akhlaknya nol besar = pisau tajam di tangan bocah.
Mari kita bedah contoh demo yang bikin lawan mikir, bukan bikin lawan ketawa :

I. DEMO RUSAK VS DEMO BERADAB : BEDAH PERBEDAAN
Demo Cangkem Rusak = Gampang Ditunggangi…
Demo Beradab = Bikin Penguasa Gemetar.
Teriak maki, sumpah serapah.. Teriak data, teriak pasal UUD…
Bakar ban, coret tembok, rusak fasilitas umum…
Bersih habis demo. Sampah dipungutin sendiri…
Tuntutan ngambang : “Turunkan!”
Tuntutan lurus : “Revisi UU Perampasan Aset Pasal X”
Massa dibayar, spanduk pesenan…

Massa bayar sendiri pakai uang saku. Spanduk tulisan tangan…
Musuhnya : Presiden/Wapres sebagai pribadi…
Musuhnya : Kebijakan + Korupsi sebagai sistem…
Rumusan lurus : Bedakan orangnya dengan kebijakannya. Maki pribadi = emosi. Kritik kebijakan = intelektual.
II. CONTOH DEMO BERADAB MODEL KAMPUS JUARA :
Ini resepnya biar kampus jadi teladan, bukan jadi bahan meme :
1. BUKA DENGAN ADAB
Mulai pakai doa + menyanyi Indonesia Raya. Bukan mulai dengan makian. Biar langit + bumi jadi saksi niat kita lurus.
2. SENJATANYA DATA, BUKAN BATU :
Spanduk isinya : “Data BPS : 1 koruptor Rp300M = Subsidi BBM 2 juta KK 1 bulan”. Orasi isinya pasal UUD 1945 Pasal 33. Itu namanya “demo ilmiah”. Penguasa paling takut sama mahasiswa bawa data, bukan bawa molotov.

3. JAGA FASILITAS RAKYAT
Demo selesai, area lebih bersih dari sebelum demo. Bagiin air minum gratis ke warga. Jalan raya tidak ditutup total. Ambulans dikasih jalan. Itu namanya “beradab”. Biar rakyat bilang: “Anak kampus itu pahlawan, bukan biang rusuh”.
4. TUNTUTANNYA SOLUSI, BUKAN CACI MAKI
Contoh tuntutan juara :
Salah : “Wapres mundur!”
Benar: “Audit terbuka MBG. Koruptor MBG hukum mati karakter. Uangnya kembalikan ke gizi anak”
Bedanya : Yang pertama personal. Yang kedua sistem. Sistem bisa diperbaiki, pribadi bisa ganti tapi penyakitnya tetap ada.
5. KAWAL SAMPAI TUNTAS
Demo 1 hari itu gampang. Kawal RUU Perampasan Aset 1 tahun itu baru ksatria. Bikin posko data, bikin surat ke DPR, temui komisi III. Itu kerja intelektual.
III. PESAN UNTUK ORANG TUA + KAMPUS :

1. Orang Tua : Tanya anak pulang kuliah bukan “IPK mu berapa?” tapi “Hari ini kamu jujur atau tidak? Kamu bantu siapa?”
2. Dosen/Rektor : Kampus harus jadi “kandang singa beradab”. Boleh kritis, tapi tidak boleh biadab.
BEM yang maki-maki = kasih skors. BEM yang bawa solusi = kasih panggung.
IV. KESIMPULAN BEDAH KITA : VONIS FINAL
1. Mahasiswa itu “agent of change”, bukan “agent of chaos”.
2. Kalau mahasiswa kehilangan adab, dia turun derajat jadi preman berdasi. Ilmunya tinggi tapi jiwanya miskin.
3. Demo beradab itu jihad. Jihad melawan nafsu sendiri dulu, baru melawan kebijakan salah.
Pesan penutup : yang harus ditempel di tiap gerbang kampus :
“Boleh teriak lantang untuk rakyat. Tapi jangan pernah teriak kotor untuk nafsu.”
“Gelar S1, S2, S3 tidak ada artinya kalau kalah adab sama tukang becak yang jujur.”
Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.






