Lawan-lawan tangguh Israel di Timur Tengah

KN. Dengan Syahidnya Ismail Haniyeh, yang merupakan pemimpin tertinggi dari biro politik Hamas, pada akhir Juli lalu, tentu membawa dampak yang sangat besar.

Artinya harus segera ada orang yang menggantikan posisi beliau, dalam memimpin perjuangan Hamas, membela Gaza dan pilihan tertuju kepada Yahya Sinwar.

Kabar penunjukan Yahya Sinwar sebagai pengganti Ismail Haniyeh, ternyata telah membuat pihak lawan ketar-ketir, mengapa demikian? Penunjukan Sinwar gantikan Haniyeh sebagai pemimpin politik yang baru memberi isyarat yang kuat bahwa kelompok Hamas akan lebih sulit diajak bernegosiasi.

Hal ini ditandai setelah pengumuman resmi penunjukan langsung Yahya Sinwar sebagai pengganti Haniyeh, langsung meluncurkan serangan ke wilayah Israel. Sayap bersenjata Hamas, Brigade Al Qassam menembakkan rentetan roket dari Jalur Gaza Palestina ke wilayah Israel.

Ada perbedaan gaya kepemimpinan Haniyeh dengan Yahya Sinwar. Haniyeh dikenal masih bisa berdialog atau bernegosiasi sedangkan Sinwar lebih memiliki pendekatan yang lebih keras dalam menghadapi Israel.

Kepemimpinan Sinwar juga dinilai membuat perundingan gencatan senjata dan pembebasan sandera dengan Israel lebih tidak pasti.

Yahya Sinwar

Sinwar merupakan salah satu dari tiga pemimpin paling senior Hamas di Jalur Gaza yang masih hidup sampai saat ini. Ia juga merupakan salah satu pendiri Brigade Al Qassam.

Para analis mengatakan meskipun sudut pandang Sinwar selalu sangat berpengaruh dalam negosiasi, kesulitannya dalam berkomunikasi dengan dunia luar menjadikan proses negosiasi semakin kompleks bahkan kecil peluangnya.

Sinwar didapuk sebagai pemimpin politik baru Hamas sepekan setelah pembunuhan Ismail Haniyeh berlangsung.

Sinwar merupakan petinggi Hamas yang mengontrol Jalur Gaza, Palestina. Israel menuduh Sinwar sebagai salah satu dalang serangan 7 Oktober 2023 yang mematik agresi brutal TelAviv ke Jalur Gaza hingga hari ini.

Israel pun menjadikan Sinwar salah satu pentolan Hamas yang paling dicari setelah Haniyeh.

Dengan ketegasan dan keganasan yang Yahya Sinwar pegang, tentu saja pihak lawan menjadi ketar-ketir.

Semoga terpilihnya Yahya Sinwar sebagai pemimpin baru Hamas, akan segera membawa kemerdekaan bagi tanah Palestina.

Iran terus meningkatkan upaya diplomatiknya untuk menggalang dukungan Internasional dalam mengutuk Israel. Langkah ini diambil setelah ketegangan atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran.

Di sisi lain, jika Iran menyerang Israel secara langsung, maka perang besar bisa kembali terjadi di Timur Tengah. Selama empat dekade sejak Revolusi Islam, Iran telah membentuk dan mendukung sejumlah pasukan tempur sekutu-nya di seluruh Timur Tengah.

Pejuang dari negara-negara mayoritas Muslim Syiah seperti Irak dan Lebanon merupakan proksi utama Iran, akan tetapi kelompok-kelompok dari wilayah Palestina yang mayoritas penduduknya Sunni, Suriah, dan Yaman juga telah membentuk asosiasi dengan Iran.

Inti dari jaringan ini adalah Hizbullah, yakni sebuah partai politik dan kelompok militan Lebanon yang terkenal karena aksi terorisnya, yang telah membantu Iran menjembatani perpecahan Syiah Arab-Persia.

Yemen’s Houthi (Reuters)

Hizbullah juga membantu Iran mendukung rezim Bashar al-Assad dalam perang saudara di Suriah, di mana Hizbullah berupaya untuk membawa milisi lain untuk membela rezim tersebut.

Rusia adalah sekutu Iran di luar Timur Tengah. Moskow sudah menjadi sekutu militer Iran, dan karena perang Ukraina, Rusia berselisih dengan negara-negara Eropa dan Barat lainnya, termasuk Amerika Serikat (AS), sehingga Rusia juga bisa memihak Iran.

Rusia dikatakan juga bisa memobilisasi sekutu-sekutunya, China dan Korea Utara, untuk memihak Iran jika perang meletus dengan Israel.

Sementara Pakistan, yang mayoritas Sunni, menganggap Iran, yang mayoritas Syiah, sebagai negara musuh, sehingga negara ini dilaporkan akan berada bersama AS. Sementara India bisa tetap netral dalam hal ini. Namun, Arab Saudi juga tidak bisa menjadi pembantu Iran sebab hubungan kedua negara tidak baik.

Pasukan Hezbollah (AFP)

Berikut daftar negara dengan kelompok yang mendukung Iran di Timur Tengah:

Bahrain (Al-Ashtar Brigades), Irak (Kata’ib Hizbullah, Badr Organization, Asa’ib Ahl al-Haq, Hezbollah Harakat al-Nujaba, Kata’ib Sayyed al-Shuhada), Lebanon (Hizbullah), Palestina (Hamas dan  Jihad Islam Palestina), Suriah (Fatemiyoun Brigade, Zainabiyoun Brigade, Quwat al-Ridha dan Baqir Brigade), Yaman (Gerakan Houthi).

 

  • Related Posts

    Dongkrak IPM, Pemprov Lampung Luncurkan Inovasi “RMDku” untuk Akurasi Data Pendidikan

    KN-BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah strategis untuk meningkatkan capaian indikator makro pembangunan, khususnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), melalui penguatan akurasi data kependudukan. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran…

    Gulf States Caught in the Crossfire of War with Iran

    KN. Shortly after Iran retaliated against the United States and Israel in response to Operations Epic Fury and Roaring Lion, Gulf states hosting U.S. bases became the target of Iranian…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *