KN-JAKARTA — Hasil pemantauan Drone Emprit terhadap percakapan media sosial periode 17 Juli hingga 3 Agustus 2026 menunjukkan bahwa mayoritas publik mendukung penyampaian aspirasi secara damai. Meski demikian, narasi provokatif dan rumor potensi kerusuhan masih mewarnai ruang digital jelang rencana aksi demonstrasi Agustus.
Secara umum, komposisi sentimen publik cenderung positif karena didorong oleh imbauan menjaga ketertiban, solidaritas, serta dukungan terhadap tuntutan perbaikan. Namun, kecemasan publik tetap membayangi akibat beredarnya hoaks, disinformasi, serta penyebaran ulang konten-konten lama.
Isu Utama dan Emosi Publik
Percakapan publik paling banyak dipicu oleh sejumlah isu krusial, seperti:
Tuntutan Ekonomi & Antikorupsi: Dorongan reformasi dan penegakan hukum menjadi perhatian utama.
Fenomena Pagar Mal & Mural: Isu pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan serta penghapusan mural memicu gelombang kritik dan kemarahan netizen.
Kewaspadaan Kerusuhan: Kekhawatiran akan bentrokan fisik yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial.
Emosi netizen didominasi oleh semangat mendukung aksi damai dan rasa bangga atas solidaritas publik. Di sisi lain, muncul pula rasa marah terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak, serta rasa takut dan waspada terhadap potensi kekacauan.
Peta Percakapan di Platform Digital
Dinamika narasi terbagi ke dalam beberapa karakteristik platform:
Twitter/X: Menjadi pusat utama penyebaran isu, seruan aksi damai, dan tuntutan antikorupsi yang digerakkan oleh akun-akun berskala menengah.
Instagram & Threads: Cenderung kondusif, diisi narasi optimis, analisis kritis yang konstruktif, serta imbauan penyampaian aspirasi tanpa kekerasan.
TikTok & Facebook: Mayoritas menonjolkan ajakan menjaga ketertiban, meski di Facebook masih ditemukan percampuran rumor bentrokan daerah dan kekhawatiran krisis.
YouTube: Didominasi oleh penjelasan resmi aparat, edukasi hoaks dari media arus utama, serta analisis situasi politik, walaupun konten bersudut pandang sensasional tetap mendapatkan penonton.
Amplifikasi dan Tantangan Informasi
Temuan Drone Emprit juga mencatat adanya pola pemuatan narasi yang serupa di berbagai platform. Penyebaran pesan, gambar, dan video yang masif melalui fitur repost dan kolom komentar mempercepat jangkauan isu. Sebagian konten yang memicu kekhawatiran diketahui telah dihapus atau tidak dapat diakses kembali selama pemantauan berlangsung.
Bercampurnya informasi valid dengan narasi provokatif berisiko memicu kepanikan dan mengaburkan tuntutan inti masyarakat. Merespons kondisi ini, sejumlah tokoh publik mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, menyaring informasi sebelum membagikannya, serta memastikan penyampaian aspirasi tetap berjalan dalam koridor demokrasi yang aman dan bertanggung jawab.






