SOSOK MUADI ALI PETANI TEGAL YANG 4 ANAKNYA JADI KOLONEL DI TNI AU, AL DAN AD, LAINNYA JADI POLISI

Stramed, Inilah sosok Muadi Ali, petani asal Tegal yang empat anaknya sukses menjadi kolonel di TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. H Muadi Ali dan istrinya, Hj Siti Aisyah, tinggal di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Seperti dilansir dari Tribunjogja.com dalam artikel ‘Kisah Sepasang Petani Asal Tegal Jawa Tengah, 4 Dari 9 Anaknya Berpangkat Kolonel TNI’ Muadi Ali dan Siti Aisyah memiliki 9 orang anak, persisnya 6 putra dan 3 putri.

Berikut rangkuman fakta sosok Muadi Ali selengkapnya.

1. Empat anaknya jadi kolonel

Seluruh anaknya kini sukses mengabdi di pemerintahan, yang mana 4 di antaranya berkarir di dunia militer. Salah satunya adalah Kolonel H Yudi Pratikno, yang berkarier di TNI AU. Ia saat ini berdinas di Seskoau Lembang, Jawa Barat. “Saat ini saya bertugas sebagai Perwira Penuntun di Seskoau,” ujar Yudi lewat keterangan yang diberikan pada Kamis (01/04/2021). Selain Yudi, dua saudaranya yang lain juga berpangkat kolonel masing-masing di TNI-AD dan TNI-AL. Dan satu lagi saudaranya ada yang menjadi Letkol Kowad.

2. Bukan dari kalangan berada

Ia menuturkan, kedua orangtuanya tersebut bukanlah dari kalangan berada. Bahkan hanya lulus Sekolah Dasar. Sehari-harinya mereka menggarap lahan pertanian di tempatnya menetap. Meski begitu, keduanya menganggap pentingnya pendidikan bagi putra-putri mereka. Hal itu diungkapkan oleh Yudi, di mana ia dan saudara-saudaranya dididik dengan tegas. “Almarhum orangtua saya selalu mengajarkan soal kedisiplinan, tapi juga hidup sederhana,” kata anak ketiga ini.

3. Ada yang jadi perwira Polri

Benih yang mereka tanam kini menghasilkan buah yang sangat baik. Adiknya pun yang saat ini berstatus sebagai Komisaris Besar di Polri.

Lima lainnya berkarir sebagai Kompol, PNS TNI, dan dua terakhir berkarier sebagai guru. “Bisa dibilang fenomena seperti ini langka, karena dalam satu keluarga ada 4 orang berpangkat kolonel,” ungkap Yudi.

4. Tanamkan prinsip sederhana

Kedua orangtua mereka sudah wafat 10 tahun lalu. Namun jasa hingga jejaknya masih menetap di seluruh anak-anaknya, yang tak pernah melupakan tempat kelahiran mereka. Yudi mengatakan ia dan seluruh saudaranya memegang prinsip hidup sederhana dan bersahaja. Hal itu menjadi pesan yang selalu mereka ingat.

“Mereka mengajarkan kami untuk selalu mensyukuri apapun dan selalu memberi manfaat bagi orang lain,” ujarnya. Yudi pun berharap kisah keluarganya ini bisa memotivasi para orangtua di luar sana. Terutama dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi lebih sukses ke depan.(Surya)

Related Posts

Gencatan senjata AS-Iran rapuh, tapi perlu untuk ruang de-eskalasi kekerasan.

KN-TEHERAN, “Meski disambut banyak pihak, gencatan senjata antara AS dan Iran belum bisa diharapkan untuk menciptakan perdamaian permanen antara AS-Israel dan Iran. Gencatan senjata itu baik secara subtantif maupun perkembangan…

Fog of Information: Kesulitan Analisis Intelijen dalam Mengurai Perang Propaganda Iran vs Amerika Serikat-Israel di Era AI

KN-TEHRAN, Perang propaganda antara Iran versus Amerika Serikat-Israel telah menjadi salah satu dimensi paling rumit dan canggih dalam konflik Timur Tengah tahun 2025-2026. Eskalasi militer langsung yang dimulai sejak Operasi…