KN. Baru-baru ini Tim Bappenas datang jauh-jauh ke Aceh buat meninjau potensi pembangunan terowongan Geureutee
Foto-foto beredar di medsos dan media online piaraan pemerintah aceh, ada rombongan berdasi, ada pejabat lokal berpeci, semua tampak serius nunjuk-nunjuk ke gunung, kayak lagi aktivitas syuting iklan air mineral saja…
Yang lucu, yang ditunjuk itu bukan masalah rakyat yang kesulitan ekonomi, tapi “Batu Cadas” yang dari dulu sudah ditandatangani di atas kertas di tahun 2015, zaman Gubernur Zaini Abdullah & wakilnya, Muzakir Manaf. (Ingat lg janji 1Jt/KK)
Waktu itu proyek ini sudah di-greenlight sama Menteri PU, Basuki Hadi Muljono, Gambar desainnya sudah siap, tanda tangan sudah nempel, tinggal jalan, tapi kayak semua proyek besar di Aceh — nasibnya berubah jadi legenda: ada di dokumen, tapi tidak ada di alam nyata
Dan kini, proyek itu dihidupkan lagi, kalau dilihat dari fotonya, yang disurvey kayaknya bukan kontur tanah, tapi kontur elektabilitas gubernur
Sekarang, mari kita buka topografinya sedikit…
Di bawah Gunung Geureutee itu terbentang jalur tambang yang SUPER STRATEGIS, itu bukan rahasia lagi, itu jalur emas bukan kiasan — ini emas betulan, plus nikel, batu bara, dan segala yang bisa dikapalkan lewat laut barat — selatan. Investor udah lama ngiler sama daerah situ — bukan buat jalan rakyat, tapi buat akses logistik hasil bumi
Nah, di situ permainan aslinya, terowongan Geureutee bukan lagi simbol keterhubungan rakyat, tapi simbol keterhubungan antara kuasa dan kapital

Dan begitu Mualem naik tahta, semua puzzle mulai nyatu: ada Resource, ada Akses Jalur Logistik baru, dan ada dukungan Politik Pusat
Dan — Ini Kombinasi maut — Rakyat Aceh lagi-lagi dapat wacana “Aceh maju dan makmur”, tapi buat siapa…???
Dan Mualem, dia lagi di puncak popularitas. Baru setahun dilantik, udah keliling bawa proposal untuk cukong asing, mulai dari kandang ayam sampe maskapai penerbangan dan ngomong soal “Aceh terbuka untuk dunia”
Apalagi sekarang, kekayaan Mualem yang dilaporkan tembus Rp. 48,3 MILIAR, itu yang dilaporkan bukan mustahil ada yg tidak dilaporkan, itu bukan jumlah jama’ah Juma’at yang shalat di mesjid raya, Broo…, tapi angka kekayaan resmi Gubernur Aceh versi LHKPN
Ada Harley Davidson di garasi, ada rumah mewah di Banda Aceh, ada tanah di mana-mana bukan salah punya harta — tapi anehnya, harta itu tumbuh subur justru di tanah yang katanya “Masih miskin dan butuh investor”, sementara Rakyat disuruh sabar nunggu terowongan, mualem udah ngebut duluan pakai moge
Tapi jangan salah, uangnya halal kok, semua hasil kerja keras — entah kerja apa, rakyat cuma bisa menebak-nebak. Yang jelas, sebagian dari kita kerja keras juga… kerja keras menahan emosi membaca tulisan ini
Jadi, Gak usah di tanya hartanya dari mana, nanti dibilang fitnah, tapi yang jelas bukan pusaka peninggalan orang tuanya dan bukan pula hibah dari Rakyat, karena rakyat sendiri lagi banyak ngutang di warung buat beli sembako…
Maka, kalau nanti terowongan Geureutee jadi dibangun, jangan senang dulu, yaa.., Bisa jadi itu bukan “Jalan tembus ekonomi rakyat”, rakyat cuma numpang lewat aja, tapi itu “Lorong pintas buat memperlancar arus batu bara, emas, nikel, dan keuntungan yang nggak bakal mampir ke dapur warga”
Lucunya, Aceh nggak pernah benar-benar belajar…!!!
Aceh kini mirip tanah yang “Dikutuk” kaya tapi lapar Emasnya banyak, tapi perut rakyat tetap tidak sejahtera Gasnya melimpah, tapi disalurkan keluar lewat pipa gas bawah tanah dan gubernurnya Sibuk membuka peluang investasi global” bersama geng yang lapar kekuasaan di atasnya
Sungguh, kalau ini bukan gaya tampar kanan, senyum kiri, mungkin ini versi premium dari “Tanah kita ditambang, Rakyatnya ditimpa janji, dan Pejabatnya ditimpa berkah”
Tapi ya sudahlah…
Mungkin memang begitu cara dunia bekerja di Aceh
Selama rakyat masih sibuk upload status “Semoga Aceh Maju”, dan saling “Teunak Teumeunak” di Tiktok, jadi yang benar-benar maju cuma harga tanah pejabat dan jumlah proyek cukong yang gak jelas juntrungannya
Dan…, Harley Davidson Gubernur Aceh itu bukan simbol kemewahan, tapi alat transportasi menuju “Surga Investasi Asing”
Kamis, 23 Oktober 2025 – Waktu Aceh
Oleh: Jurnalis Jalanan, merangkap tukang catat Sandiwara Meuligoe








