TOLAK NKRI BERSYARIAH, MUHAMMADIYAH SETIA PANCASILA

Foto: NKRI Harga Mati, sumber foto: Naqsdna.com

 

 

Oleh : Robi William Supendi

Stramed, Baru-baru ini, Ijtima Ulama ke-IV yang digelar oleh GNPF-U menyerukan slogan “NKRI Bersyariah berlandaskan Pancasila”. Wacana tersebut langsung ditolak mayoritas kalangan, termasuk perserikatan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir tidak sepakat dengan butir 3.6 hasil kesepakatan Ijtima Ulama IV yakni mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang syariah dengan prinsip ayat suci di atas ayat konstitusi.

Sebab, menurutnya gambaran NKRI bersyariah telah tercantum dalam lima butir Pancasila.

Karena itu, dia meminta tidak ada lagi pertentangan istilah syariah di tengah-tengah masyarakat. Diantaranya, ada Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawatan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nilai-nilai Pancasila itu sudah sangat islami, sehingga tidak diperlukan lagi slogan-slogan ‘NKRI Bersyariah’ atau ‘Khilafah’

Oleh karena itu, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, tidak pernah keluar dari prinsip dasar Pancasila. Karena menurut mereka, syariah seluruh agama sudah tercantum pada Pancasila.

Organisasi yang bergabung dalam GNPF-U seperti PA 212, FPI dan HTI itu sebaiknya mempraktikkan saja Pancasila. Insyaallah baik syariah Islam atau syariat agama lain itu akan tercakup di dalamnya.

Kita tentu saja sepakat dengan gagasan Ketum Muhammadiyah tersebut. Apa yang disampaikannya itu justru lebih masuk akal dan sesuai dengan kondisi saat ini. Diakui atau tidak, mereka memang lebih banyak membicarakan urusan kulit dibandingkan isi atau substansi. Itulah dangkalnya kualitas mereka.Kini, saatnya bangsa Indonesia mengimplementasikan Pancasila dengan sungguh-sungguh, daripada terus menerus meributkan persoalan istilah.

*) Pemerhati Indonesia

Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

Related Posts

Hari Pers Nasional 2026: Hambatan, Tantangan, dan Gangguan di Tengah Informasi Media Sosial Oleh: Amril Jambak

KN. Hari Pers Nasional (HPN) 2026 diperingati dalam situasi yang tidak sederhana. Pers Indonesia berada di persimpangan antara idealisme jurnalistik dan realitas ekosistem informasi yang kian bising akibat dominasi media…

Ketika Kemiskinan Merenggut Harapan Anak Bangsa: Alarm Keras bagi Negara untuk Menjalankan Amanat Konstitusi

KN. Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (ASPIRASI) menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa tragis yang diduga berkaitan dengan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *