KN, Kami sangat bangga dan antusias karena topik ini sangat relevan dengan generasi muda, yang jumlahnya besar dan energinya luar biasa. Potensi ini jangan disia-siakan, terutama dalam menghadapi peristiwa penting seperti pemilihan pemimpin pemerintahan, kata Direktur Eksekutif NETGRIT, Hadar Nafis Gumay dalam diskusi bertema, “Muda Kawal Pilkada: Pengawasan Partisipatif Pilkada 2024 oleh Generasi Muda” yang diselenggarakan oleh Perludem, Sabtu, (05/10/2024).
Menurut Direktur Eksekutif NETGRIT, pemimpin yang kita pilih akan sangat memengaruhi kehidupan kita. Jika kita tidak terlibat dalam memastikan terpilihnya pemimpin yang baik, dampaknya akan dirasakan oleh kita semua. Oleh karena itu, partisipasi kaum muda menjadi sangat penting. Tapi mari kita bahas, bagaimana cara kita berpartisipasi?Saya yakin, teman-teman di sini memiliki banyak aspirasi tentang berbagai bentuk partisipasi yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah menjaga integritas proses pemilihan. Di pemilu yang lalu, kami menjalankan inisiatif untuk memastikan kemurnian suara. Jangan sampai pilihan kita pindah ke calon lain atau dinyatakan tidak sah. Itulah yang ingin kami jaga: integritas suara.
Kami mengajak generasi muda untuk terlibat dalam inisiatif Jaga Suara 2024. Caranya sederhana: kumpulkan foto hasil penghitungan suara dari setiap TPS, lalu cek apakah sesuai dengan yang dilaporkan oleh KPU. Ini bisa menjadi alat kontrol. Jika terjadi perbedaan, misalnya suara yang seharusnya dimenangkan oleh satu pasangan calon, tiba-tiba berubah, kita punya bukti dan bisa bertindak.Inisiatif ini strategis karena dalam pemilihan kepala daerah, suara yang berbeda tipis bisa menentukan siapa yang menang. Sistem yang kami kembangkan memudahkan teman-teman untuk berkontribusi. Cukup foto hasil penghitungan di TPS, unggah ke sistem kami melalui aplikasi Jaga Suara 2024, dan hasilnya akan ditabulasi, semua bisa diakses oleh publik. Kami juga menyediakan platform berbasis web bagi yang tidak ingin mengunduh aplikasi. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak berpartisipasi. Ayo ajak teman kuliah, teman kerja, atau keluarga untuk bersama-sama mengawasi perolehan suara, ujar Hadar Gumay.
Perkembangan teknologi pemilu memang telah maju, tetapi masih ada tantangan. Misalnya, KPU baru saja selesai mengadakan Bimtek dengan perwakilan dari seluruh Indonesia. Sirekap, yang dulu sempat membuat banyak kebingungan, kabarnya sudah diperbaiki dan lebih akurat. Namun, ada satu hal yang menjadi perhatian saya: dalam presentasinya, KPU hanya akan menampilkan foto hasil penghitungan, bukan tabulasi. Ini menimbulkan tanda tanya. Kita semua tentu berharap penyelenggaraan pemilu semakin transparan. Oleh karena itu, mari kita kawal bersama. Jika ada kekhawatiran atau ketidakjelasan, kita masih memiliki waktu untuk memperbaikinya. Melalui Jaga Suara 2024, kita bisa memastikan tidak ada suara yang dimanipulasi. Mari bergabung dan ambil bagian dalam menjaga integritas demokrasi kita, ungkap Direktur Eksekutif NETGRIT, Hadar Nafis Gumay.
Menurut Mahasiswa Universitas Gajah Mada, Satria Nugroho Muhammad, sejarah demokratisasi di Indonesia selalu melibatkan peran penting kaum muda. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi bukanlah sesuatu yang bisa dianggap ‘taken for granted’. Demokrasi perlu dijaga dan dirawat secara aktif, dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan melibatkan generasi muda, bukan hanya sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang aktif dalam menjaga dan memperkuat demokrasi.
Kegiatan ini kami inisiasi untuk mendorong partisipasi mahasiswa dalam menjaga ketahanan demokrasi. Salah satu konsep yang kami angkat adalah student participation for the resilience of democracy. Di sini, kami berbagi dan belajar bersama mengenai nilai-nilai demokrasi, dengan menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dan media. Sebagai contoh, beberapa waktu lalu dalam acara Indonesian Update yang diselenggarakan oleh Australian National University (ANU), Indonesia disebut sebagai negara yang menerapkan authoritarian democracy. Meskipun kita menjalankan sistem demokrasi, ada beberapa praktik yang tidak sepenuhnya selaras dengan prinsip-prinsip dasar demokrasi, seperti partisipasi, representasi, dan transparansi. Salah satu alasan mengapa Indonesia masih dianggap demokratis adalah karena kita rutin menyelenggarakan Pemilu setiap lima tahun, terang Mahasiswa Universitas Gajah Mada ini.
Dalam Pilkada yang akan datang, para calon kepala daerah sering berusaha menarik perhatian pemilih muda, karena mereka merupakan kelompok yang signifikan dalam menentukan hasil Pemilu. Namun, kita tidak ingin anak muda hanya dilihat sebagai alat untuk meraih suara. Mereka harus dilibatkan secara lebih mendalam, dengan suaranya benar-benar didengar, dan proses Pemilu dijalankan sesuai prinsip demokrasi yang berintegritas.Oleh karena itu, kami mengajak mahasiswa dari berbagai universitas, termasuk dari Jabodetabek, Undip, UGM, dan universitas lainnya, untuk turut serta dalam menjaga integritas demokrasi. Melalui program seperti democracy camp, kami mendorong anak muda untuk aktif menjaga Pilkada serentak 2024. Tujuannya adalah memastikan bahwa mahasiswa dan pemilih muda tidak hanya hadir di TPS, tetapi juga berperan aktif dalam setiap tahapan Pemilu. Demokrasi yang sehat harus dijaga sejak awal agar hasilnya benar-benar mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi yang sejati.Inilah alasan utama kami menginisiasi kegiatan ini. Kami ingin memastikan bahwa anak muda benar-benar terlibat dalam menjaga ketahanan demokrasi melalui pengawasan partisipatif dan integritas Pemilu, khususnya pada Pilkada serentak 2024, ungkap Satria Nugroho Muhammad.
Mahasiswa Universitas Indonesia, Muhammad Hanief Syaifullah, mengatakan bahwa peran anak muda, khususnya mahasiswa, dalam proses Pilkada 2024. Berdasarkan data yang ada, kita melihat bahwa kelompok usia produktif, termasuk anak muda, merupakan komposisi terbesar dalam populasi pemilih, baik di Pilkada maupun Pilpres sebelumnya. Jumlah kita lebih dari 50% dari total pemilih. Artinya, apabila generasi produktif ini bersatu memilih satu calon, kita bisa secara signifikan menentukan hasilnya. Sebagai mahasiswa, kita tentu memiliki tanggung jawab yang besar dalam proses ini. Kita adalah generasi yang sedang menempuh pendidikan tinggi, setidaknya di tingkat sarjana atau diploma, dan kita dibekali dengan ilmu-ilmu dasar, baik itu di bidang politik, hukum, maupun ilmu sosial lainnya. Dengan pengetahuan ini, kita mampu menganalisis fenomena sosial dan politik yang terjadi di masyarakat. Dari sini, kita bisa memberikan kontribusi nyata terhadap pemilu, termasuk Pilkada.
Dengan mempelajari situasi sosial dan politik, kita bisa lebih sadar mengenai apa yang perlu kita lakukan, termasuk gerakan-gerakan yang harus kita jalankan untuk membawa perubahan positif bagi bangsa ini. Jika suatu daerah memiliki petahana (incumbent) yang kinerjanya baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, maka sebaiknya dilanjutkan. Namun, jika sebaliknya, dimana petahana tidakmerangkul masyarakat, kinerjanya buruk, atau bahkan terlibat korupsi, maka kita harus menggunakan hak suara kita untuk menggantinya melalui proses pemilihan yang sah, yakni Pilkada. Itulah mengapa peran mahasiswa sangat penting. Dengan pengetahuan yang kita miliki, kita bisa membantu menciptakan perubahan yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau menjaga keadaan bangsa ini, ungkap Muhammad Hanief Syaifullah .
Sedangkan menurut Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Tria Wulandari, pemuda memiliki peran krusial dalam kehidupan sosial dan politik, terutama dengan pesatnya perkembangan teknologi digital. Sebagai kelompok yang adaptif, mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang signifikan. Pemuda lebih terbuka terhadap informasi global, memahami isu-isu sosial seperti kesetaraan, perubahan iklim, dan HAM.Teknologi digital memungkinkan mereka menyebarkan gagasan dan memobilisasi perubahan melalui media sosial dan platform online. Contoh seperti BlackLivesMatter dan MeToo menunjukkan kekuatan kampanye digital. Dalam politik, pemuda semakin aktif dalam memperjuangkan isu-isu keadilan sosial, transparansi, dan hak minoritas, serta terlibat dalam pengawasan partisipatif pemilu.
Dengan kesadaran terhadap isu sosial dan kemampuan teknologi, pemuda memiliki potensi besar untuk mengarahkan perubahan yang substansial dan berkelanjutan, menjadikan dunia lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan, ujar Tria Wulandari.







