Oleh: Hikmat Subiadinata
KN-Jakarta, Senja mulai turun. Langit memerah, angin berembus pelan menyapu hamparan sawah. Kusno dan adiknya, Karno, duduk di pematang, memandang matahari yang perlahan tenggelam.
Karno memecah keheningan.
“Mas Kusno, aku sering melihat orang berlomba mengumpulkan harta, mengejar jabatan, mencari pujian, bahkan saling menjatuhkan. Seolah-olah itulah tujuan hidup. Padahal pada akhirnya semua akan mati. Sebenarnya, untuk apa manusia diciptakan?”
Kusno tersenyum tipis.
“Itulah pertanyaan terbesar dalam hidup, Karno. Siapa yang menemukan jawabannya, ia akan hidup tenang. Siapa yang salah memahaminya, ia akan terus gelisah.”
“Lalu apa jawabannya, Mas?”
“Kita ini bukan pemilik dunia. Kita hanya musafir yang sedang singgah sebentar.”
Karno mengernyitkan dahi.
“Musafir?”
“Iya. Bayangkan seseorang yang singgah di sebuah penginapan semalam. Apakah ia akan sibuk mengecat dinding kamar itu? Tentu tidak. Ia hanya menggunakannya seperlunya, lalu melanjutkan perjalanan.”
“Begitulah dunia?”
“Benar. Dunia adalah tempat singgah, bukan tempat tinggal selamanya.”
Karno terdiam.
“Kalau begitu, mengapa Allah menciptakan kita?”
“Karena Allah menghendaki kita mengenal-Nya, menyembah-Nya, memakmurkan bumi dengan kebaikan, lalu kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih.”
“Berarti tujuan hidup bukan menjadi orang kaya?”
“Bukan.”
“Bukan menjadi pejabat?”
“Bukan.”
“Bukan menjadi orang terkenal?”
“Bukan.”
“Lalu apa?”
“Menjadi hamba Allah yang diridhai.”
Karno menarik napas panjang.
“Mas, kalau Allah Mahakuasa, mengapa masih ada setan?”
Kusno mengambil segenggam tanah.
“Lihat tanah ini. Dari tanah yang sama tumbuh padi, tetapi juga tumbuh ilalang. Mengapa?”
“Karena petani memilih merawat padi dan mencabut ilalang.”
“Begitulah kehidupan. Allah memberi manusia kebebasan memilih. Setan hanya mengajak kepada keburukan, tetapi tidak pernah mampu memaksa. Pilihan tetap berada di tangan manusia.”
“Jadi setan bukan penyebab kita berdosa?”
“Bukan. Setan hanya pembisik. Yang memutuskan adalah hati kita.”
Karno mengangguk pelan.
“Kalau begitu, apa gunanya doa?”
Kusno memandang langit.
“Doa adalah bahasa seorang hamba yang sadar bahwa dirinya lemah.”
“Allah sudah tahu kebutuhan kita, mengapa kita masih harus berdoa?”
“Karena doa bukan sekadar meminta. Doa adalah tanda bahwa kita percaya hanya Allah tempat bergantung. Saat kita berdoa, sesungguhnya kita sedang mendekat kepada-Nya.”
“Apakah doa selalu dikabulkan?”
“Selalu didengar.”
“Tetapi mengapa kadang tidak terjadi?”
“Karena Allah melihat apa yang tidak mampu kita lihat. Seorang anak kecil mungkin menangis meminta pisau yang tajam. Orang tuanya tidak memberikannya, bukan karena tidak sayang, tetapi karena tahu itu akan melukainya.”
Karno tersenyum.
“Berarti Allah lebih tahu daripada kita.”
“Itulah hakikat iman.”
Karno kembali bertanya.
“Lalu apa fungsi ibadah?”
“Ibadah bukan untuk membuat Allah bertambah mulia. Kemuliaan Allah sempurna tanpa kita. Ibadahlah yang memuliakan manusia.”
“Bagaimana maksudnya?”
“Salat mengingatkan agar kita tidak sombong. Puasa mengajari kita mengendalikan hawa nafsu. Zakat membersihkan hati dari cinta dunia. Semua ibadah adalah pendidikan jiwa.”
Karno mengangguk.
“Mas, satu hal lagi.”
“Apa?”
“Takdir.”
Kusno tersenyum.
“Inilah yang paling sering disalahpahami.”
“Jelaskan, Mas.”
“Takdir bukan alasan untuk bermalas-malasan.”
“Lalu?”
“Takdir adalah rahasia Allah. Sedangkan ikhtiar adalah kewajiban manusia.”
“Contohnya?”
“Petani tidak bisa menentukan hujan turun. Tetapi ia tetap harus mengolah tanah, menanam benih, memupuk, dan merawat tanaman. Jika panen berhasil, ia bersyukur. Jika gagal, ia bersabar. Itulah iman kepada takdir.”
“Jadi usaha dan tawakal harus berjalan bersama?”
“Seperti dua sayap burung. Salah satunya hilang, burung itu tak akan mampu terbang.”
Senja berubah menjadi malam.
Lampu-lampu rumah mulai menyala.
Karno menatap langit yang mulai dipenuhi bintang.
“Mas… sekarang aku mulai mengerti.”
“Mengerti apa?”
“Bahwa selama ini manusia sering sibuk mengejar bekal hidup, tetapi lupa tujuan hidup.”
Kusno tersenyum.
“Itulah penyakit terbesar manusia.”
“Lalu bagaimana agar selamat dunia dan akhirat?”
Kusno menjawab perlahan.
“Ingat lima hal.”
“Pertama, kenali Allah sebelum sibuk mengenal dunia.”
“Kedua, jadikan ibadah sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.”
“Ketiga, berusahalah sekuat tenaga seolah semua bergantung pada ikhtiarmu.”
“Keempat, berdoalah dengan sepenuh hati karena semua bergantung kepada Allah.”
“Kelima, terimalah hasil akhirnya dengan ridha, sebab Allah tidak pernah salah menetapkan takdir.”
Karno terdiam lama.
Kemudian ia berkata lirih.
“Mas… ternyata hidup ini tidak rumit.”
“Benar.”
“Yang membuatnya rumit adalah nafsu manusia.”
Kusno mengangguk.
“Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa.”
“Kita akan pulang tanpa membawa apa-apa.”
“Yang ikut bersama kita hanyalah iman, amal saleh, akhlak yang baik, dan rahmat Allah.”
Azan Magrib pun berkumandang.
Keduanya berdiri.
Karno bertanya,
“Mas, kita mau ke mana?”
Kusno menatap langit lalu tersenyum.
“Kita memenuhi panggilan Allah.”
“Lalu setelah itu?”
“Kita melanjutkan perjalanan.”
“Perjalanan ke mana?”
“Menuju rumah yang sesungguhnya.”
Karno tersenyum sambil mengangguk.
“Kalau begitu, mulai hari ini aku tidak ingin sekadar hidup. Aku ingin pulang dengan membawa ridha Allah.”
Kusno menepuk bahu adiknya.
“Itulah inti seluruh kehidupan. Dunia hanyalah perjalanan yang singkat. Jangan jadikan dunia sebagai tujuan, tetapi jadikan ia ladang untuk menanam amal. Sebab kelak, di akhiratlah kita akan memanen seluruh hasilnya.”
Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.






