KN-JAKARTA — Menteri Kesehatan Kabinet Bayangan, Irma Hidayana, menyampaikan kritik keras terkait maraknya kasus keracunan massal yang bersumber dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengungkapkan bahwa akumulasi korban keracunan telah menembus angka lebih dari 50.000 orang per 2 September 2026.
Irma menyoroti lonjakan kasus yang dinilai makin mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir saja, tercatat ada lebih dari 2.000 kasus keracunan MBG baru yang menimpa ratusan santri di Sidoarjo, serta ratusan siswa di Agam, Tana Toraja, Rembang, dan berbagai daerah lainnya.
“Kalau kamu masih diam, tandanya nggak punya hati. Ratusan santri keracunan MBG di Sidoarjo. Ratusan siswa lainnya juga keracunan di Agam, Tana Toraja, Rembang, dan kota-kota lainnya,” ujar Irma.
Perubahan Manajemen BGN Dinilai Belum Menyentuh Akar Masalah
Menurut Irma, berbagai upaya teknis dan administratif yang dilakukan pemerintah selama ini tidak efektif menghentikan jatuhnya korban. Langkah-langkah seperti penerapan aturan empat jam (rules of 4 hours), evaluasi berkala, suspensi SPPG, hingga tiga kali pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) dinilai belum menyentuh akar permasalahan mendasar.
Ia mencontohkan, pada periode kepemimpinan Sudaryono di BGN, insiden keracunan tetap bermunculan secara masif di berbagai daerah, di antaranya Grobogan, Semarang, Kudus, Depapre, Berastagi, Sidoarjo, Sleman, dan Palopo.
Data Keracunan MBG per 2 September 2026
Berdasarkan data yang dihimpun hingga 2 September 2026, dampak dari masalah tata kelola penyediaan pangan MBG mencakup:
- Total Korban: Lebih dari 50.000 orang.
- Jumlah Insiden: 560 kejadian keracunan.
- Sebaran Wilayah: Tersebar di 245 kabupaten/kota.
Irma menyerukan agar masyarakat tidak lagi berdiam diri dan mendesak pemerintah untuk segera membongkar serta membenahi sistem penyediaan pangan MBG secara menyeluruh agar tidak ada lagi anak yang menjadi korban.








