Ekonomi Indonesia Memburuk: Nilai Tukar Rupiah dan IHSG anjlok

KN. Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali rebound dan menuju tren positif usai pengumuman struktur Danantara. Sebelumnya IHSG sempat anjlok jelang pengumuman.

Seperti diketahui, Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjadi pasca pengumuman jajaran Danantara. Namun usai pengumuman mulai kembali membaik. IHSG tercatat melemah 1,51% ke posisi 6.163,49 hingga pukul 13:54 WIB, setelah sempat melemah hingga 4% lebih pada pagi tadi. Nilai transaksi tercatat sejumlah Rp 7,44 triliun, dengan frekuensi transaksi sebanyak 740 ribu kali dan volume perdagangan mencapai 9,96 miliar lembar saham.

Adapun berikut susunan lengkap pengurus Danantara: Board of Danantara – Kepala Badan/Chief Executive Officer (CEO) Rosan Roeslani – Chief Operational Officer (COO) Dony Oskaria – Chief Investment Officer (CIO) Pandu Sjahrir Dewan Pengawas – Erick Thohir – Muliaman Hadad – Para Menko dan Mensetneg Dewan Pengarah – Joko Widodo (Jokowi) – Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Dewan Penasihat – Ray Dalio – Helman Sitohang – Jeffrey Sachs – Chapman Taylor – Thaksin Shinawatra Komite Pengawasan dan Akuntabilitas – Ketua PPATK – Ketua KPK – Ketua BPK – Ketua BPKP – Kapolri – Jaksa Agung Managing Director – Managing Director Legal: Robertus Bilitea – Managing Director Risk & Sustainability: Lieng-Seng Wee – Managing Director Finance: Arief Budiman – Managing Director Treasury: Ali Setiawan – Managing Director Global Relations & Governance: Mohamad Al-Arief – Managing Director Stakeholder Management: Rohan Hafas – Managing Director Internal Audit: Ahmad Hidayat – Managing Director Human Resources: Sanjay Bharwani – Managing Director/Chief Economist: Reza Yamora Siregar – Managing Director Head of Office: Ivy Santoso Komite Manajemen Risiko: John Prasetio Komite Investasi dan Portofolio: Yup Kim Holding Operasional – Managing Director: Agus Dwi Handaya – Managing Director: Febriany Eddy – Managing Director Risk: Riko Banardi Holding Investasi – Managing Director Finance: Djamal Attamimi – Managing Director Legal: Bono Daru Adji – Managing Director Investment: Stefanus Ade Hadiwidjaja.

Nilai tukar rupiah merosot ke level terlemah terhadap dolar AS sejak krisis keuangan Asia 1998 karena kekhawatiran yang meningkat atas kondisi fiskal. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah sempat melemah hingga 0,5% ke level Rp 16.641 per dolar AS pada Selasa (25/3), level terlemahnya sejak Juni 1998.

Rupiah telah merosot lebih dari 3% tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di pasar negara berkembang. Seperti dilansir Bloomberg, Indonesia kehilangan daya tariknya di mata investor global karena kekhawatiran atas langkah-langkah ekonomi Presiden Prabowo Subianto, termasuk memperluas peran militer dalam masyarakat sipil.

Langkah-langkah kebijakan populis Prabowo sejak menjabat pada bulan Oktober 2024, termasuk program makan siang gratis sekitar US$ 30 miliar per tahun, mendorong defisit anggaran mendekati batas sebesar 3% dari produk domestik bruto (PDB).

“Kekhawatiran fiskal kemungkinan akan membebani mata uang, serta repatriasi pembayaran dividen musiman oleh investor asing,” kata Moh Siong Sim, seorang ahli strategi di Bank of Singapore seperti dikutip Bloomberg.

Pasar saham Indonesia negara juga telah anjlok tahun ini dan memasuki pasar yang lesu pada bulan Februari karena investor asing menarik lebih dari US$ 2 miliar. Obligasi Indonesia berkinerja lebih buruk daripada obligasi pemerintah AS, dengan selisih antara obligasi acuan 10 tahun mendekati spread terlebar sejak September. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga kebijakannya tidak berubah pada bulan Maret 2025 karena berupaya menjaga mata uang rupiah.

BI telah berulang kali melakukan intervensi di pasar tahun ini, sementara pemerintah menerapkan aturan yang memaksa eksportir komoditas untuk menyimpan pendapatan mata uang asing mereka di dalam negeri. Pasar modal Indonesia tengah mengalami gejolak signifikan dengan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 7% dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt oleh Bursa Efek Indonesia. Sebelumnya Bank Investasi dan pengelola aset global Goldman Sachs menurunkan peringkat dan rekomendasi atas aset keuangan di Indonesia setelah memperkirakan adanya peningkatan risiko fiskal atas sejumlah kebijakan dan inisiatif yang dipilih oleh Presiden Prabowo Subianto.

Goldman menurunkan peringkat saham RI dari overweight menjadi market weight. Penurunan peringkat ini memperparah aksi jual asing di bursa saham domestik. Menanggapi kondisi pasar modal ini, Ekonom UGM Dr. I Wayan Nuka menilai penurunan IHSG bukan sekadar respons terhadap kondisi ekonomi, tetapi juga mencerminkan persepsi investor terhadap stabilitas nasional.

Data menunjukkan bahwa dalam beberapa hari sebelum jatuhnya IHSG, kata Wayan, sudah terjadi lonjakan net sale oleh investor asing. Menurut Wayan, hal ini menandakan adanya dorongan kuat dari investor untuk segera melepas aset mereka dan mencari peluang yang lebih baik di negara lain.

Kepala Program Studi Manajemen FEB UGM ini tersebut menegaskan bahwa pelemahan IHSG ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebuah akumulasi dari berbagai faktor. Mulai dari kebijakan pemerintah yang kontroversial, terungkapnya kasus korupsi di sejumlah BUMN, hingga ketidakpastian politik yang berkepanjangan. Investor melihat tanda-tanda keadaan negara ini yang mengimplikasikan adanya sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Dalam upaya penyelesaian masalah melemahnya pasar investasi ini, ia menilai langkah politis-populis seperti kunjungan DPR ke bursa bukanlah solusi konkret, langkah ini justru tidak tepat sasaran. Dalam kondisi seperti ini, Wayan menilai kepercayaan menjadi faktor utama yang harus segera dipulihkan.

Ia turut menegaskan pemulihan kepercayaan itu adalah hal yang sulit. Sebagai negara yang bersaing untuk menarik investor dengan Vietnam, Thailand, Malaysia, dan negara lainnya, Indonesia harus mampu menunjukkan stabilitas ekonomi dan politik. Jika tidak, capital outflow akan terus berlanjut.

Terkait langkah yang dapat dilakukan masyarakat di tengah situasi ini, Wayan menyarankan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam investasi. Ia mengimbau agar masyarakat menggunakan mode bertahan dan diharapkan tidak terlalu agresif dalam mengeluarkan uang. Sebaliknya, masyarakat harus menahan, menunggu, dan melihat keadaan ekonomi. Ia juga mengingatkan bahwa gelombang PHK semakin meluas sehingga masyarakat perlu lebih waspada dalam mengelola keuangan pribadi.

“Pertebal dana cadangan, lakukan efisiensi, dan prioritaskan kebutuhan. Seluruh masyarakat harus menyadari bahwa kita sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja” pesannya. Meski demikian, Wayan tetap mengajak masyarakat untuk menjaga optimisme sembari berharap agar pemerintah mau berbenah diri.

“Seberapapun gelapnya kondisi negara ini, kita tetap orang Indonesia. Kalau bukan kita sendiri yang optimis, siapa lagi? Namun, kita juga berharap ini bisa menjadi peringatan bagi pemerintah untuk menghindari kebijakan-kebijakan yang antipasar,” pungkasnya.

  • Related Posts

    Bhayangkara Fest 2026 Dikunjungi 33.149 Pengunjung

    Banda Aceh – Antusiasme masyarakat terhadap Bhayangkara Fest 2026 terus meningkat. Memasuki hari ketiga pelaksanaannya, digelar di Lapangan Merah Mapolda Aceh tersebut tercatat telah dikunjungi sebanyak 33.149 orang. Bhayangkara Fest…

    Suara hingga Bentuk Kemasan, Kenali Merek Non-Tradisional yang Bisa Dilindungi di Indonesia

    KN-Jakarta – Pernahkah kita langsung teringat pada suatu merek hanya karena mendengar nada tertentu atau melihat bentuk kemasan yang khas? Tanpa banyak disadari, unsur-unsur tersebut dapat menjadi identitas bisnis yang…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *