Foto: LPG 3 KG, sumber foto: Istimewa
Oleh : Herdiansyah Rahman
Stramed, Seperti yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya, ternyata kelangkaan gas LPG 3 Kg dan BBM masih belum mampu diatasi oleh pemerintah baik pusat dan daerah beserta seluruh pemangku kepentingan yang ada, sehingga masih terus menerus terjadi “tragedi” ini yang membuat perekonomian masyarakat di daerah yang mengalami kelangkaan menjadi terkendala.
Kelangkaan gas LPG 3 Kg misalnya yang terjadi selama Oktober 2019 dialami masyarakat di 9 kecamatan dalam wilayah Kota Bengkulu yang menyebabkan harganya melejit dan terpaksa diatas dengan menggelar operasi pasar. Tidak hanya terjadi di Kota Bengkulu, kelangkaan LPG 3 Kg juga dialami masyarakat di Kecamatan Batik Nau, Lais, Air Padang, Argamakmur dan Kecamatan Padang Jaya yang masuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, mengakibatkan harga LPG 3 Kg membengkak mencapai Rp.25.000 s.d Rp.30.000/tabung ditingkat pangkalan.
Kelangkaan gas LPG 3 Kg juga dialami masyarakat Indonesia yang tinggal di beberapa daerah antara lain Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Kota Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Katingan, Kabupaten Lamandau, dan Kabupaten Murung Raya di Kalimantan Tengah yang menyebabkan harga meningkat drastic mencapai Rp 45.000 s.d. Rp 50.000 per tabung dari harga normal Rp 38.000 s.d. Rp 40.000 per tabung di pangkalan. Masyarakat di Sekupang, Kota Batam, Kepri, masyarakat di Kabupaten Dompu, NTB, Kota Tarakan dan Kabupaten Nunukan di Kalimantan Utara, Kota Balikpapan dan Kabupaten Kotawaringin Timur di Kalimantan Timur, khususnya di beberapa kecamatan terjauh, diantaranya Kecamatan Antang Kalang, Telaga Antang, Bukit Santuai, Mentaya Hulu dan Tualan Hulu.
Selain gas LPG 3 Kg, kelangkaan bahan bakar minyak atau BBM juga masih terjadi di beberapa daerah seperti bulan-bulan sebelumnya yang dialami masyarakat di Kabupaten Nunukan di Kalimantan Utara yang diduga BBM tidak dijual ke masyarakat, namun ke kalangan industri.
Sementara di Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, kelangkaan terjadi akibat pasokan BBM terhambat dengan terlambatnya kapal tanker pemasok BBM. Kelangkaan BBM juga dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, Kabupaten Pasangkayu di Sulawesi Barat, Kota Palu di Sulawesi Tengah, Kota Solok di Sumatera Barat, Kabupaten Tolitoli di Sulawesi Tenggara, Kabupaten Dharmasraya di Sumatera Barat, Kota Samarinda di Kalimantan Timur, bahkan di Kabupaten Lampung Selatan, akibat kelangkaan BBM kalangan pengemudi ojek menggelar aksi unjuk rasa di SPBU di wilayah Kelurahan Wayurang.
Bagaimanapun juga, permasalahan kelangkaan gas LPG 3 Kg dan BBM yang menimpa sejumlah daerah selama bulan Oktober 2019 dan kemungkinan masih terjadi sampai saat ini tidak dapat disepelekan, karena permasalahan krusial ini sudah “menyerang” kebutuhan mendasar dari masyarakat, terutama yang paling serius terdampaknya yaitu golongan menengah ke bawah. Dan, ditengah situasi politik yang belum sepenuhnya stabil, karena banyaknya kelompok kepentingan yang “kecewa dan sakit hati” karena tidak diadopsi dalam lingkar kekuasaan sebagai outcome Pemilu 2019, maka masalah ini cukup dapat dijadikan munisi untuk menggoyang kekuasaan dan tinggal menunggu momentum yang tepat.
*) Pemerhati masalah ekonomi kerakyatan.
Disclaimer : Setiap opini di media ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.






